Cari Blog Ini

Jumat, 03 November 2017

Balada Ibuk-Ibuk Muda

Menjadi ibu adalah impian setiap wanita. Katanya, kodrat wanita akan sempurna jika dia bisa hamil dan memiliki anak dari rahimnya sendiri. Namun, banyak di luar sana yang belum seperti demikian. Kali ini, saya tidak akan membahas tentang itu. Tapi saya lebih ingin sharing tentang "Menjadi ibu baru itu bagaimana sih?". Tentunya dengan sudut pandang saya yang juga baru mau tiga bulan jadi ibu.
Jadi begini, beberapa hal yang sering menjadi buah bibir manis para ibuk-ibuk muda yang pertama adalah masalah popok. Ada saja yang berdebat kusir tentang pemakaian popok kain atau yang sekali pakai. Dengan adanya pospak alias popok sekali pakai, maka ibuk-ibuk muda yang "milih gampang"-nya akan dengan pede bilang, "Ah, popok kain mahal. Malas nyucinya. Ndak punya banyak waktu buat nyuci, lha dipakek nyuci bentar aja bocah udah ngerengek minta disusuin. Noda di popok kain susah ilang, ah. Aduh ndak telaten, pospak aja sekali pake buang beres" dan berjuta alasan lainnya. Kalau saya sendiri sih ya bergantung pribadi masing-masing saja. Saya pribadi yang pernah ikut organisasi lingkungan hidup (ciyeee....) cukup paham bagaimana si pospak itu sudah berkontribusi banyak dalam kekumuhan Indonesia. Selain itu, saya yang kerjanya naik angkot, setiap berangkat dan pulang kerja disuguhi dengan pemandangan sampah di kanan kiri jalan yang mayoritas adalah sampah pospak. Nah, saya ndak suka dengan hal tersebut. Jadi saya berusaha meminimkan penggunaan pospak. Lantas apakah dari situ saya no pospak sama sekali? Tidak munafik jika saya juga pengguna pospak. Namun sekali lagi saya tekankan, saya berusaha meminimalisir penggunaan pospak. Sejak pagi sampai jam delapan malam, saya menggunakan popok kain untuk anak saya. Baru kalau saya mau tidur, saya pakaikan pospak. Alasan saya karena pospak sifatnya membuat kering permukaan kulit jadi harapan saya boboknya si kecil nyenyak ndak risih kayak pakek popok kain yang sebentar aja si dia udah minta ganti. Jadi sehari bisa habis hanya dua pospak saja mengingat pee anak saya banyaaak. Intinya, pemakaian pospak atau tidak itu bergantung pribadi masing-masing. No nyiyir satu sama lain.
Nah, kedua. Masalah ASI vs Sufor. Aduuuuh... Ini masalah dari jaman nenek moyang sampek jaman now masih saja dibahas. Memang sih ya ASI is the best milk. Banyak penelitian yang bilang kalo ASI adalah penyumbang terbanyak intelejensi seorang anak. Tapi bukan berarti anak Sufor gak pinter loh. Banyak kok sekeliling saya yang anak Sufor tapi juaranya gak ketulungan. Inget ya, pinter enggaknya anak itu bergantung pada orang tua. Kalo ortunya telaten ngajari anak ya pasti pinter. Kalo bibitnya pinter tapi gak direken sama orang tuanya ya sama aja bohong. Seorang ibu ndak bisa kasih ASI itu karena banyak faktor. Puting kecil lah, kuantitas ASI yang sedikit, harus kerja delapan jam sehari dan bla bla bla lainnya. Enggak ada ibuk-ibuk yang sengaja pengen nelantarin anaknya dengan gak kasih dia ASI. They have they own reason. Jadi buat yang ndak ngerti hidup orang mending ndak usah nyiyir deh. Saya? Alhamdulillah saya bisa kasih ASI anak saya dengan lancar selancar-lancarnya meski pada dua hari pertama ASI saya cuma keluar netes dan balada puting yang keciiil banget. Tapi karena dukungan di sekeliling saya, akhirnya ndak pernah ada kata menyerah. Ya sampek ada drama ditarik sama tabung injeksi lah, si kecil yang sempat kuning lah karena mimiknya kurang, dan apalah. Tapi karena ketelatenan, maka yang begitu-begitu cuma sampek seminggu kok. No lebih. Tanpa sufor? Ah, saya masih membutuhkan itu. Saya bekerja dan saya ndak mungkin pumping ASI karena media penyimpanan yang ndak ada. Saya ndak mau nyusahin yang momong anak saya. Jadi saya beri dia sufor. Hanya saat saya bekerja. Bingung puting? Alhamdulillah ndak. Kalo anak merasa ndak nyaman dan agak bingung, disusuin aja terus. Anak gak akan lupa bau ibuknya, kok. Jadi ndak ada tuh drama anak gak mau nenen dan kecanduan dot gegara bingung puting.
Next, jadi wanita karir atau ibu rumah tangga? Ini nih yang seriiiiiing banget dibikin gosip mulut-mulut tidak bertanggung jawab. Once again, everyone has a certain reason. Jadi ibuk-ibuk pekerja sama jadi fulltime mother itu sama-sama susahnya loh ya. Siapa bilang? Saya. Saya bekerja di sekolah. Kalau pagi saya mengajar di sekolah dan sore di Bimbingan Belajar. Tapi beruntungnya, di Sekolah saya hanya dua hari dalam seminggu dan di BimBel ada jatah sepuluh pertemuan dalam satu bulan. Saya merasakan dua-duanya. Capek? Ya memang capek. But we have to be strong because we want to see such a little smile from our baby. Jadi working mom harus bangun pagi-pagi (yang saya juga sering telat bangun sih...) buat masakin bapaknya, nyuciin popoknya si kecil, mandiin si kecil lalu siap-siap berangkat. Bahkan biasanya malem, pas anak merem saya berusaha menyempatkan buat buka-buka materi mengajar esok harinya. Jadi ibu rumah tangga gimana? Samaaa. Fisik sudah capek. Pikiran tambah capek. Butuh piknik emang iya. Masalah perhatian ibuk ke anaknya? Hello.....gak semua loh ya anaknya ibuk pekerja itu gak diperhatiin. Justru banyak dari mereka yang bisa bikin waktu yang sedikit itu lebih berkualitas. Ndak jarang juga yang pinter-pinter akademik dan non akademiknya. Intinya bukan di rumah atau tidaknya ibu. Tapi di telaten atau tidaknya. So, sekali lagi No Nyinyir.

All in all. Semua bergantung pada pribadi masing-masing. Ndak bisa kita men-judge kita benar dia salah atau sebaliknya. Hidup itu terlalu susah kalo kita bikin buat hebring nyinyirin hidup orang. Dunia itu luas loh... Jalan-jalan dong biar mind-nya opened. Biar ndak seperti katak dalam tempurung. Mulai sekarang, biarkan orang bahagia dengan pilihannya.


Noura N
Ibuk Zahid
3 Nopember 2017
21.57

Jumat, 27 Oktober 2017

Sebuah Kala

Aku panik. Tangisnya tidak terdengar. Di pikiranku saat itu hanya, "dirujuk, dirujuk dan dirujuk". Allah.

 Kamis, 10 Agustus 2017.
Ada darah merembes di kakiku sebelum aku mengambil air wudhu shubuh. Sempat panik tapi aku berusaha tenang karena tidak ada rasa sakit di perut atau di bagian tubuh lainnya. Darah merah muda semakin intens keluar hingga kamis sore aku memutuskan untuk periksa ke bidan. "Pembukaan satu, mbak. Kalau ndak sakit banget perutnya jangan dibawa ke sini dulu", bu Bidan berkata. Aku hanya mengiyakan karena memang aku tidak merasakan sakit yang berarti. Kamis malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Punggung terasa sangat kaku dan perut bawah nyeri.

Jumat pagi, 11 Agustus 2017
Darah itu keluar lagi disertai nyeri di bagian perut bawah. Namun, aku masih menganggapnya biasa karena memang aku pernah merasakan sakit yang lebih sakit dari ini. Menurutku, nyeri kali ini lebih ringan dibanding sakit perut karena dilep setiap kali aku datang bulan. Jam 6 aku ikut jalan sehat desa berharap nyeri itu hilang atau paling tidak membantu pembukaan jalan lahir jika memang sudah waktunya dilahirkan. Setengah jalan aku menyerah karena nafas yang semakin ngos-ngosan dan perut yang semakin nyeri. Namun aku tetap bersikap biasa karena memang sesungguhnya aku sering merasakan dilep yang lebih sakit dari ini. Jumat siang, aku sengaja tidur sebagai pengganti tidur malamku yang kurang. Jumat sore nyeri itu semakin intens, sekitar sepuluh menit sekali. Namun aku masih bersikap biasa. Bahkan aku masih sempat mengunjungi satu kawanku yang baru saja melahirkan. Aku selalu ingat kata bu bidan, "jangan dibawa ke sini kalau belum benar-benar sakit".

Dan, malam itu adalah jawaban atas segala penantian. Ba'da magrib perutku keram total. Rahim seperti diobok-obok, lebih parah dari dilepku selama ini. Namun aku mencoba bertahan. Aku melakukan beberapa gerakan ringan dari senam hamil seperti yang sering aku lakukan sebelumnya. Nyeri semakin parah hingga pukul 19.00 aku tidak kuat. Aku hanya berbaring di kamar dengan sesekali menggigit ujung bantal saat gelombang cinta itu bertransformasi menjadi sakit yang sangat tidak tertahan. Ibuku panik, suamiku apalagi. Tapi aku berusaha tenang. Keluargaku memaksaku untuk segera pergi ke bidan namun aku tetap ingin bertahan. Hingga pukul 20.30 aku menyerah. "Sudah, aku mau ke bidan sekarang".

Di sana, setelah dilakukan VT ternyata sudah pembukaan 4. "Ditunggu di sini ya.. Ndak usah pulang", kata bu Bidan. Karena menurutku antara pembukaan 4 hingga sempurna itu masih membutuhkan waktu yang lama maka aku berusaha tetap tenang meski orang-orang di sekitarku semakin panik. Aku tetap membujuk janin dalam perutku untuk bisa bekerjasama selama proses persalinan nanti. Di depan ruang tindakan, aku berusaha untuk kuat berjalan-jalan, sesekali membungkuk, menungging, sembari berkomunikasi dengan janin di perutku. "Nak, ayo berjuang bareng Ibuk buat bisa lahiran normal. Lihat teman-temanmu yang sudah keluar duluan. Mereka bisa normal. Kita harus bisa". Gelombang cinta itu semakin intens. Tercatat ada tiga kontraksi setiap lima menit. Aku sudah tidak kuat. Pukul 23.00 Bidan membawaku ke ruang tindakan. VT dilakukan lagi dan ternyata sudah pembukaan sempurna. Peralatan disiapkan. Bidan dan asistennya siap menuntunku untuk proses melahirkan. Ibuku menemaniku sembari memegang tanganku erat. Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit rasanya isi perutku semakin ingin turun tapi tertahan. Tarikan nafasku naik turun.

Aku berbisik pada diriku sendiri, "Ayo. Aku Pasti bisa. Ayo, Nak. Kita berjuang bersama". Bu Bidan menuntunku membaca ayat-ayat suci sambil mengajak berpikir positif. Ibuku semakin erat memegang tanganku. Hampir satu jam kepala bayiku keluar masuk. Aku berusaha mengejan dengan sempurna namun terputus. Drama belum selesai. Bu Bidan dan asistennya tetap membaca ayat-ayat suci sembari mendorong perutku. Kontraksi semakin hebat namun nafasku lemah. Aku tetap mensugesti diri sendiri bahwa aku bisa melahirkan dengan normal. Pukul 00.00 aku menyerah. Aku meminta ibuku untuk memanggil suamiku. Aku pikir, dengan bersamanya akan mempermudah buah hati kami menyambut dunia.

Dan, bersama bu Bidan dan asistennya, suamiku diminta membantu mendorong. Tangan kekarnya mendorong perutku dengan kuat. Dua kali kontraksi hebat dan tepat pada pukul 00:15, Sabtu 12 Agustus 2017, bayi laki-laki itu berhasil keluar. Tapi nanti dulu, tidak ada tangis. Sunyi. Suamiku keluar dari ruang tindakan. Dalam hati ia tidak tega, katanya. Pikiranku kacau saat itu. Aku panik. Tangisnya tidak terdengar. Di pikiranku saat itu hanya, "dirujuk, dirujuk dan dirujuk". Allah. Bu Bidan mengangkat bayi merah itu sambil berkata, "Ya Allah, ini yang membuat ibumu kesakitan, Nak. Ini yang membuat kepalamu keluar-masuk cukup lama".

Ya. Bayiku terlilit tali pusar di lehernya. Ada dua lilitan. Tanpa berkata kembali, bu Bidan mengambil tindakan. Segera dibersihkannya bayi merah itu dan memasukkan sejenis selang di mulutnya. Dan, tangis yang kami nantikan hadir. Tangisnya lantang, keras, cukup menggetarkan hatiku. AlhamdulIllah. Aku menangis haru. Tangis ini yang sudah sangat aku nantikan. Setelah semuanya beres Bu Bidan berkata, "AlamdulIllah sehat. Berat 3 kg. Panjang 49 cm. Bayi Laki-laki. Mari IMD dulu".

Ya. Buah cinta kami telah hadir. Ia hadir di usia 31 bulan pernikahan kami, hampir tiga tahun. Suka duka mewarnai perjalanan kami untuk benar-benar bisa yakin, "Ya. Kami siap punya anak". Allah telah menyiapkan waktu yang tepat. Saat inilah waktu itu tiba.

Terimakasih atas segenap doa dan bantuan. Allahlah sang Maha Pembalas dari segala balasan. Amin.

Terimakasih sudah berjuang bersama Ibuk, Nak Ahmad Abroruz Zahidin, Zahid. 12 Agustus 2017. 00:15.

Selasa, 08 Agustus 2017

HPL? Worry or ......? Stay Strong and Calm!

Ouch, empat hari lagi HPL dan belum ada tanda-tanda yang signifikan.Worry or ..........?

Usia kehamilan yang sudah mendekati HPL pasti akan membuat seorang ibu khawatir. Apalagi jika saat itu adalah kali pertama kehamilan. Beragam perasaan pasti dirasakan oleh ibu. Seperti saat ini, usia kehamilan saya sudah ada pada titik 39 minggu lebih tiga hari. Artinya, empat hari lagi adalah hari perkiraan lahir, tepatnya pada usia kehamilan 40 minggu.

Perasaan khawatir kerap muncul. Apalagi dengan keadaan di sekitar yang mana ibu-ibu hamil yang seusia dengan kandungan saya sudah melahirkan. Ada yang maju semiggu, sepuluh hari, bahkan sebulan dari HPL. Perasaan was-was juga muncul setelah banyak sekali pertanyaan dari sekitar, kapan lahir? kapan HPL-nya? kok lama? kerasan ya dedeknya? dan lain sebagainya.

Beruntungnya, saya memiliki banyak sumber bacaan yang membuat saya melek jika saat ini bukanlah waktu untuk khawatir, cemas dan buru-buru. Idealnya, usia kehamilan adalah 38 - 42 minggu. Berarti, usia kehamilan saya masih dikatakan normal. Beruntungnya juga, saya punya bidan yang ndak nggesusoni alias ndak bikin saya worry dan buru-buru mengambil kesimpulan.

Selain lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan dan menambah aktifitas sehari-hari, saya juga mempelajari beberapa olahraga ringan yang dikhususkan untuk ibu hamil. Dengan harapan, usaha-usaha tersebut dapat mempercepat proses persalinan saya. Saya juga tetap mengkonsumsi makanan sehat - meski saya masih ndak doyan nasi & ikan - serta rajin minum multivitamin khusus ibu hamil. Beragam saran saya lakukan seperti minum satu sendok minyak kelapa dalam satu hari, minum air kelapa muda dan minuman khusus lainnya. Namun, segalanya memang ada pada Tangan Yang Maha Esa. Seberapapun ingin kita, jika Tuhan belum menentukan waktu yang tepat maka nonsense.

So, kuncinya adalah sabar. Stay strong and calm. Tetap tenang. Hindari pikiran negatif. Tidak perlu memikirkan apa-apa yang kurang penting. Dengarkan saran orang namun jangan dijadikan beban.

Patiently waiting for your coming, dear!



Nay,
09 Agustus 2017
13.02

Jumat, 21 Oktober 2016

Jihad Kekinian: Semangat Hari Santri ‘16 dan Revitalisasi Resolusi Jihad 22 Oktober

Jihad Kekinian: Semangat Hari Santri ‘16 dan Revitalisasi Resolusi Jihad 22 Oktober
Oleh Noura N


Sumber gambar: https://3.bp.blogspot.com/-YlvfLlXPHag/V85CG_hqKJI/AAAAAAAAF1A/4hO-glob_HAE2FiGlH51PcyhMLqs_YfmgCLcB/s1600/1%2Bmilyar%2Bsholawat%2Bnariyah%2Bdi%2Bhari%2Bsantri%2Bnasional.png

Tahun 2015 presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Kepres No. 22 bahwa 1 Muharram yang kemudian disesuaikan dengan 22 Oktober – yang mana hari tersebut merupakan hari berkumpulnya santri-santri dari segala penjuru daerah atas komando Hadratus Syaikh Hasyim Asyari untuk melakukan jihad melawan sekutu dan kemudian dikenal dengan istilah Resolusi Jihad – dijadikan Hari Santri Nasional. Hal ini tentunya bukan tanpa alasan. Mengingat perjuangan santri yang sangat besar bagi proses keutuhan Negara Kesatuan RI maka tidak salah jika semangat tersebut dituangkan dalam bentuk peringatan Hari Santri. Sejarah mencatat jika tepat pada tanggal 22 Oktober 1945 Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari mencetuskan semangat jihad fi sabilillah guna merebut kembali kemerdekaan Indonesia dari tentara sekutu yang saat itu dikuasai oleh Inggris setelah mengalahkan Jepang. Para santri dari segala penjuru daerah berbondong-bondong menuju Surabaya untuk melawan sekutu. Atas sumbangsih inilah maka tentara sekutu bisa dikalahkan.
Mungkin tahun 2015 lalu pasca presiden Jokowi mencetuskan peringatan tersebut ada banyak sekali polemik. Pro dan kontra menghiasi banyak media. Kekhawatiran beberapa pihak akan pecahnya persatuan umat islam setelah adanya peringatan hari santri tersebut bermunculan. Beberapa pihak takut jika nantinya akan ada banyak sekali sekat antara ormas-ormas islam yang ada. Pun begitu dengan istilah santri dan non santri, islam pesantren dan islam abangan, NU dan non-NU hingga kekhawatiran tentang siapa-siapa yang berhak dianggap berjasa dalam proses kemerdekaan RI, santri atau para tentara Indonesia.
Namun, suasana berbeda terlihat di tahun 2016. Gebrakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’ dalam upaya membangkitkan semangat muslim khususnya warga Nahdliyyin sangat layak diacungi jempol. Pembacaan 1 Milyar Shalawat Nariyah serentak di seluruh penjuru Indonesia menandakan bangkitnya kembali semangat jihad fii sabilillah. Memang berbeda dengan apa yang sudah dilakukan oleh para pendahulu yang berjihad dengan membawa senjata melawan sekutu. Pembacaan Shalawat Nariyah ini bertajuk Shalawat Penyelamat Bangsa. Hal ini bertujuan sebagai upaya doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara. Hal ini sangat bagus mengingat di era yang serba digital ini kebiasaan melakukan amalan-amalan semacam itu sudah sering dilupakan bahkan oleh masyarakat Indonesia terlebih warga Nahdliyyin sendiri.
Mengapa yang dipilih adalah Shalawat Nariyah? Hal ini dimaksudkan karena shalawat tersebut berisi tentang doa-doa permohonan keselamatan. Sholawat tersebut ditujukan kepada Rasulullah SAW dengan tujuan memohon syafaat atau pertolongan dari beliau dengan dibarengi dengan keinginan memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan, keselamatan dunia akhirat bagi seluruh warga Indonesia.
Jumat malam Sabtu, tepatnya tanggal 21 Oktober 2016 secara serentak dibacakan Shalawat Nariyah di sembilan titik pesantren seluruh Indonesia dan diikuti oleh masjid-masjid dan mushalla-mushallah di desa-desa seluruh Indonesia. Kebersamaan terlihat di tiap-tiap titik yang menyelenggarakan pembacaan shalawat tersebut.
Selain pembacaan shalawat, pada tanggal 22 Oktober 2016 akan dilaksanakan upacara dan apel serentak sebagai penghormatan kepada peringatan Hari Santri. Setelahnya, akan diadakan Kirab Santri oleh santri-santri, siswa-siswi sekolah formal dari tingkat TK hingga SMA, dan pengurus NU beserta Banomnya. Kirab tersebut difungsikan sebagai revitalisasi atau cara menghidupkan kembali semangat Resolusi Jihad 22 oktober 1945 silam. Pelaksanaan kirab ini akan menjadi sesuatu yang sangat meriah mengingat tahun 2015 kirab hanya diikuti oleh perwakilan dari tiap daerah dan pesantren dengan bungkus Kirab Resolusi Jihad yang dimulai dari start Tugu Pahlawan – Gresik – Lamongan – Tuban- Sarang hingga Jakarta.
Semarak peringatan Hari Santri di tahun 2016 memberikan sebuah pemahaman jika masing-masing dari kita harus senantiasa menjunjung tinggi semangat kebersamaan untuk membelanegara. Para santri terdahulu dengan semangatnya rela mati syahid demi menjaga keutuhan NKRI. Sudah saatnya generasi muda saat ini mempertahankan semangat tersebut dengan melakukan hal-hal positif kekinian. Saat ini tidak perlu lagi angkat senjata merusak apa yang tidak seharusnya dirusak. Indonesia sudah merdeka. Musuh Indonesia saat ini bukanlah tentara sekutu. Musuh terbesar Indonesia adalah pribad-pribadi warganya yang sama sekali tidak mencerminkan kebaikan. Marilah, ajak semua generasi berjihad melawan kebobrokan moral dan sistem. Melawan kebobrokan yang demikian bukan dengan kekerasan apalagi senjata. Jihad kekinian bukan menggunakan senjata tajam. Jihad kekinian adalah dengan hati dan akal pikiran. Mari kita lawan dengan pola pikir. Saatnya masing-masing dari kita berbenah, memperbaiki pribadi yang kurang baik dan mencai ilmu sampai ke akarnya. Jangan mempelajari agama setengah-setengah. Jangan mempelajari agama instan lewat internet. Jangan mempelajari suatu agama dengan hanya melihat bungkusnya. Sesuatu yang hanya dilihat luarnya hanya akan mampu menjadikan masalah. Selamat Hari Santri.
#SelamatHariSantri #AyoMondok

Gresik, 21 Oktober 2016

Sabtu, 15 Oktober 2016

Era Milenial Digital, Waspada atau Mati!

Tadi malam, saya baru saja membaca tulisan kang Emil a.k.a Ridwan Kamil, sang walikota Bandung tentang Era Milenial Digital di sini. Kemudian tadi pagi saya mendapat cerita (agak) buruk yang diakibatkan oleh kesalahan fatal dalam penggunaan sosial media. Saya jadi geleng-geleng kepala. Dari keduanya, terdapat benang merah yang dapat saya tarik kemudian.

Era Milenial Digital. Apa sih ini? ada-ada saja istilahnya. Baiklah, kita tahu jika Milenial adalah sebutan bagi mereka yang tahun lahirnya antara 1980 hingga 2000. Digital berarti teknologi yang semakin berkembang, segala yang berbau elektronik muncul, instan dan komunikasi didapatkan tidak hanya dari satu arah. Singkatnya, kita sedang hidup di jaman digital yang semuanya sudah sophisticated, canggih dan tidak out of date. Kasarnya begini, generasi Milenia sudah sangat dekat dengan media canggih dan tidak dapat dilepaskan dengan teknologi tersebut karena sudah membudaya, sudah menjadi gaya hidup.

Yang saya bahas sekarang adalah tentang ponsel. Saya tidak akan membahas mengapa seseorang menjadi pengidap nomophobia alias pecandu ponsel. Saya tidak akan membahas tentang manfaat dan kerugian ponsel. Pembahasan akan saya kerucutkan kembali ke bagian dalam ponsel. Apa itu? Nah, social media. Media sosial.

Siapa sih yang ndak kenal sama penyakit dan obat satu ini? Kenapa saya bilang penyakit dan obat karena memang noun satu ini bisa mendatangkan penyakit dan atau menjadikan obat. Alasannya? Baiklah.

Media Sosial Sebagai Penyakit

Setiap orang tidak hanya memiliki satu akun media sosial. Akun Facebook, Twitter, Instagram, Path, LinkedIn, MySpace, bahkan Pinterest bisa saja dimiliki satu orang. Artinya, setiap manusia pasti ndak jauh-jauh sama beginian. Pertanyaannya sekarang, apa yang mereka dapatkan dari akun-akun tersebut?

Dua puluh empat jam yang kita miliki kadang tidak berarti saat tangan dan mata kita fokus kepada layar kotak-kotak. Senyum-sennyum sendiri saat pelajaran berlangsung, jemari meliukkan kursor ke atas bawah kanan kiri lalu tiba-tiba menggerutu atau melakukan hal aneh lain. Tanpa disadari kita sudah menjadi autis alias punya dunia sendiri dikarenakan ponsel yang kita pegang. Media sosial yang sudah menjadi gaya hidup membuat kita lupa waktu dan lupa kalo kita masih punya dunia nyata. Hello, di samping kita ada manusia lain loh. Di sekitar kita ada manusia lain yang perlu diajak bersosialisasi. Dunia maya hanyalah fatamorgana. Hohohoho

Media sosial itu jahat. Apa yang ada dipikiran kita secara tidak langsung kita tuangkan dalam bentuk tulisan singkat lalu kita post di media tersebut. Oke jika apa yang kita pikirkan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi sesama. Nah, jika yang kita tulis adalah sesuatu yang malah menyakitkan hati pihak tertentu, apa itu tidak penyakit namanya?

Seharusnya kita bisa waspada terhadap apa yang kita tulis di media sosial. Apakah saya tidak pernah melakukan itu? Apakah saya suci di media sosial? Oh, tidak. Saya sering nulis sesuatu yang beraroma menyindir ketika saya sedang tidak srek dengan seseorang. Apalagi masih jaman ababil dulu, yang jaman ditikung dari belakang. Hahaha Abaikan. Tapi apakah saya secara langsung tanpa tedeng aling-aling mempostingnya? Tidak. Ada cara yang lebih educated untuk itu. Kita bisa pakai puisi, cerpen, essai singkat atau kutipan wiseword dan hadist misalnya. Aman, kan?

Penyakit generasi milenia sekarang itu adalah mengutarakan apa yang ada di pikirannya tanpa mampu membatasi mana yang layak dan tidak. Kita tidak pernah bisa membendung apa yang sudah mengganjal di hati. Akibatnya, media sosial menjadi satu-satunya alat untuk mengebom bendungan tersebut.

Lantas bagaimana dengan media sosial yang menjadi obat?

Media Sosial Sebagai Obat

Pernah tau rasanya ditikung? Diajak selingkuh? Atau berbuat selingkuh? Hahaha Jangan curhat. Bagaimana sih caranya pakek Sosmed biar perasaan berkecamuk dalam diri kita dapat berbalik menjadi obat untuk kita? Nah, kita harus santun dalam menggunakan alat satu ini. Media Sosial sangat beragam. Kita bebas menggunakannya semau kita. Namun, kita harus bijak dalam hal tersebut.

Bagaimana tidak, yang menjadi pembaca postingan kita tidak hanyya satu orang, namun ribuan. Tidakkah kita malu jika postingan itu justru berbalik menikung kita, eh menyerang kita? :D

Kuncinya hanya satu, bijaksana. Kita bisa menggunakan satire seperti bikin puisi, cerpen atau essai singkat. Contohnya pas kita lagi marahan sama doi, ditikung dari belakang, diselingkuhin, ya bikin saja puisi tentang itu. Atau bikin cerpen misalnya, tentang cinta segitiga yang tokohnya merujuk ke kita atau apalah. Intinya, kita harus produktif. Jangan mengumbar masalah yang sedang kita hadapi dengan postingan tidak bermutu. Sekali lagi, people can infer whether you are educated or uneducated from your reflection. Dan cerminan diri kita ya tulisan kita itu.

Setelah kita post perasaan kita melalui puisi, cerpen atau essai lain hati kita akan merasa plong, pembaca memuji tulisan kita lalu mengapreiasinya dengan komentar bagus. Nah, sudah jadi obat kan? Mudah bukan?

Sekarang kita tinggal mau pilih yang mana. Bagaimana kita bisa menggunakan media sosial dengan bijak atau bukan adalah bergantung bagi diri kita masing-masing.

Waspada Atau Mati!

Era Milenial Digital bukanlah suatu jaman yang bisa dibuat santai sembari duduk-duduk manis. Kita wajib waspada. Dalam hal apa? Semuanya. Kita harus waspada dengan apa yang kita tulis, kita harus waspada dengan apa yang kita lakukan, kita harus waspada dengan persepsi atau penialian orang, kita harus waspada dengan sikap kita ke orang, cara kita hormat, cara kita bersosialisasi, pokonya semuanya. Sekali kita melanggar maka kita sudah merusak citra kita sendiri. Kalo sudah rusak harga dirinya, ya Mati.

Jadi, benang merahnya adalah penggunaan media sosial itu dalam era milenial digital yang sedang kita hadapi saat ini. Bagaimanapun juga era milenial digital memunculkan haters dan juga lovers. Sudah pasti lah hidup itu ada yang suka ada yang gak suka. Tapi sebenarnya kita sendirilah yang mampu membuat diri kita disukai atau dibenci.

Thus, kita tetap harus membentengi diri kita dengan sikap waspada. Bagaimana penilaian orang terhadap kita adalah cerminan dari sikap kita sendiri. Mulai sekarang, bijaklah dalam menggunakan sosial media. Era Milenial Digital mampu memberikan manfaat bagi kita namun juga bisa berbalik membunuh kita. Semua kembali pada diri kita masing-masing. Salam.


*ps: Gak boleh nikung loh, ya! wkwkwkw :-D



Nay
15 - 10 - 16

Kamis, 13 Oktober 2016

Naskah Drama


NASKAH DRAMA
PUTERI YANG MALAS
                                                           Sutradara: Noura N                  

PROLOG
Sebuah kerajaan dengan puteri cantik tapi pemalas. Raja kebingungan. Masa depan kerajaan yang terancam. Dibawanya sang puteri ke padepokan. Pemalas tetap pemalas. Dan, sebuah permainan memberikan kesadaran. Oh, Puteri Amira, Puteri Yang Malas.
(PROLOG DIIRINGI MUSIK LIRIH)

Situasi 1
Suasana kerajaan yang damai. Lampu sorot ke arah singgasana yang sedang diduduki seorang raja dan ratu. Di samping kanan kirinya duduk dua puteri yang cantik. Suara genderang dan tabuh beriringan.

Narrator:
Alkisah. Seorang raja bernama Salman hidup bersama ratu dan dua orang puterinya.
(MUSIK)

Lampu sorot ke arah masing-masing puteri raja.
Tampak Puteri Alimah yang sedang membaca buku dan Puteri Amira yang hanya memainkan jari jemarinya.

Narrator:
Puteri – puteri yang berbeda...............

(MUSIK)

Lampu Padam

Situasi 2
Latar belakang hutan dan hewan. Suara burung bersahutan. Kehidupan di hutan.

Narrator:
Pada suatu hari, Raja sedang berburu rusa dengan pengawalnya yang bernama Ki Salim.
(MUSIK. SUARA BURUNG)

Raja                 : Ki Salim, saya sedang bingung. (menggeleng-gelengkan kepala)
Ki Salim           : Ada apa, paduka raja? Ada yang bisa saya bantu?
Raja                 : Puteri Amira. Semakin hari dia semakin malas.
Ki Salim           : (menganggung-angguk)
Raja                 : Puteriku sangat berbeda dengan kakaknya. Dia masih belum bisa membaca. Bagaimana menurutmu, Ki?
Ki Salim           : Paduka, hamba izin memberi saran.
Raja                 : Silahkan, Ki.
Ki Salim           : Hamba pernah mendengar ada seorang kyai pintar di ujung hutan. Ia mempunyai sebuah padepokan.
Raja                 : Oh ya? (manggut-manggut)
Ki Salim           : Benar, paduka. Jika hamba tidak salah, namanya adalah Kyai Shomad.
Raja                 : Apakah kamu yakin kyai itu akan membuat puteriku pintar?
Ki Salim           : InsyaAllah, paduka. Kyai Shomad sangat terkenal di negeri ini. Pasti sang puteri akan menjadi puteri yang hebat.
Raja                 : Baiklah, Ki. Bawa aku kesana esok hari.
Ki Salim           : Baik, paduka.

Lampu padam.
(MUSIK)

Situasi 3

Di dalam kerajaan. Raja sedang duduk di singgasana bersama ratu.

Narrator:
Di dalam kerajaan......
(MUSIK)

Raja                 : Ratu Sabrina, aku baru saja berbincang dengan Ki Salim.
Ratu                : Ada apa, wahai raja.
Raja                 : Aku akan membawanya kepada seseorang yang pintar.namanya Kyai Shomad. Kyai itu akan membuat anak kita menjadi pintar membaca dan menulis.
Ratu                : Apakah paduka yakin Puteri Amira akan tidak malas lagi?
Raja                 : InsyaAllah, Ratu. Dia akan menjadi puteri yang hebat.
Ratu                : Baiklah. Paduka. Jika memang itu yang paduka inginkan.

Situasi 4
Narator:
Raja dan Ratu berbicara kepada puterinya.
Dan ..............
Raja                 : Puteriku, Amira. Ayah akan membawamu kepada seorang kyai.
Ratu                 : Benar, Puteriku.
Puteri Amira   : Hah, Kyai? (MUSIK. D 2X) Tidak Mau, Ayah.
Raja                 : Puteriku, apa kamu tidak ingin seperti kakakmu?
Puteri Amira   : (Diam. Cemberut)
Puteri Alimah  : (Bangkit dari duduk dan berdiri di samping adiknya)
                        Adikku, kita sudah besar. Kita harus pandai dan cerdas. Kecerdasan kita akan sangat dibutuhkan oleh kerajaan ini.
Puteri Amira   : TIDAK MAU!
Raja                 : PUTERIKU! (Membentak dan berdiri)
Ratu                 : Sudahlah, Ayah!
Raja                 : (Pergi meninggalkan mereka)
Ratu                 : (Memandang Puteri Amira)
                        Amiraku, sayang. Ini demi masa depamu.
Puteri Alimah  : Iya, adikku. Demi masa depan kita. Masa depan kerajaan ini.
Puteri Amira   : (Diam sebentar lalau mengangguk) Baiklah.
(MUSIK)

Situasi 5
Narrator:
Di padepokan..................
(MUSIK)

Kyai Shomad  : Assalamualaikum, paduka.
Raja                 : Waalaikumsalam. Sampean Kyai Shomad?
Kyai Shomad  : Hamba, Gusti. (Menunduk. Menghormati Raja)
Raja                 : Kyai. Saya ingin bantuan sampean.
Kyai Shomad  : Dengan senang hati, Gusti.
Raja                 : Kenalkan. Ini puteri saya. Puteri Amira.
Kyai Shomad  : Assalamualaikum, Puteri.
Puteri Amira  : Waalaikumsalam.
Raja                 : Saya ingin menitipkan Puteri Amira ke Kyai untuk diajari membaca dan menulis.
Kyai Shomad  : InsyaAllah, Gusti.
Raja                 : Terima kasih, Kyai. Kalau begitu saya pulang dulu. Saya titip Puteri Amira. (bersalaman dengan kyai)
                        Puteriku, jaga dirimu baik-baik ya.
Puteri Amira  : Baik, Ayah.
(MUSIK)

Narator:
Raja dan pengawal pulang. Kyai Shomad mengajak Puteri Amira keliling padepokan.

Kyai Shomad  : Anakku, Amira. Di sini, teman-temanmu sudah pandai membaca menulis.
Puteri Amira  : (menguap. Tanda mengantuk)
Kyai Shomad  : (Arya yang sedang mengajari membaca kemudian berdiri bersalaman dengan Kyai)
                        Perkenalkan. Ini Arya. Arya, ini Amira.
Arya                : (mengangguk)
Puteri Amira  : (tetap menguap)
Kyai Shomad  : Mari kita lanjutkan. Dan ini tempatmu, Amira. Kamu akan belajar di sini.
Puteri Amira  : (kaget) Hah, (MUSIK. D 2X) saya di sini? Dengan mereka? Mereka dekil dan bau. Mereka pasti malas mandi. Mereka juga pasti malas belajar.
Kyai Shomad  : Silahkan duduk, Amira. Kalian akan belajar bersama di sini.
Puteri Amira  : Pasti saya akan lebih malas dari sebelumnya. (menggerutu)
Kyai Shomad  : (tersenyum) Mari duduk di depan saya agar kamu bisa lebih mudah menerima pelajaran.

Kyai Shomad memulai mengajar membaca huruf hijaiyah         
(MUSIK)

Situasi 6
Kyai Shomad sedang bingung menghadapi Puteri Amira yang masih tetap malas. Ia kemudian memanggil Arya untuk berdiskusi

Narrator:
Setelah beberapa bulan, sikap Puteri Amira masih sama. Ia tetap malas. Padahal, teman-temannya sudah mulai pintar. Pada suatu hari..............

Kyai Shomad  : Arya. Saya harus memberi pelajaran khusus untuk Amira. Kamu bantu saya, ya. Siapkan sebuah permainan. Siapkan pusaka padepokan di sebuah tempat tersembunyi. Buatlah petunjuk menuju tempat pusaka itu.
Arya                : Baik, Kyai.

Narrator:
Arya kemudian menyiapkan semuanya. Kemudian, ia memanggil murid-murid Kyai Shomad.

Arya                : Wahai, teman-teman. Saya akan mengajak kalian bermain mencari pusaka padepokan. Masing-masing dari kalian harus bekerja sendiri. Tidak boleh ada yang membantu. Ini adalah petunjuknya. Kalian harus membaca dengan teliti. Paham? (sambil membagi kertas)
Murid-murid  : Pahaaaam.
Arya                : Baik. Bisa dimulai sekarang. Satu...dua....tiga... Mulai.
(MUSIK RANCAK)

anak-anak mulai membaca kertas lalu lari-lari mencari petunjuk

Narrator:
Sementara yang lain berlari mencari petujuk, Puteri Amira nampak kebingungan.
(MUSIK MENDEBARKAN. VOLUME TURUN PERLAHAN SETELAH MUSIK RANCAK)

Puteri Amira  : (berdiri dengan memegang kertas. Mencoba membaca tapi tidak bisa. Lama-lama menangis)

Kyai Shomad  : (berjalan menghampiri Puteri Amira, menggandengnya dan mengajak masuk saung) Amira anakku, dengarkan saya.
Puteri Amira  : (duduk dan menangis)
Kyai Shomad  : Amira, belajar membaca dan menulis sangat penting. Jika kamu bisa,  maka akan dengan mudah bagimu untuk menyelesaikan permainan ini. Karena kamu malas maka kamu kalah dengan teman-temanmu. Mengerti?
Puteri Amira  : Mengerti, Kyai.
Kyai Shomad  : Bersediakah kamu rajin belajar setelah ini?
Puteri Amira  : Bersedia, Kyai. Saya minta maaf. Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi.

Situasi 7
Beberapa anak sedang diajar langsung oleh Kyai Shomad. Tampak Puteri Amira diantaranya. Mereka sangat semangat belajar.

Narrator:
Setelah itu, Puteri Amira rajin belajar. Ia memperhatikan apa yang dijelaskan oleh Kyai Shomad. Akhirnya, Puteri Amira lancar membaca dan menulis. Ia menjadi murid Kyai Shomad yang paling hebat.

Situasi 8
Raja datang menjemput Puteri Amira.

Raja                 : Assalamualaikum. Terima kasih, Kyai. Saya sangat berterimakasih kepada sampean.
Kyai Shomad  : Sudah kewajiban hamba mengajari murid-murid hamba, Gusti.
Raja                 : Sekali lagi terima kasih.
Kyai Shomad  : (mengangguk) Kamu harus selalu mengingat apa yang sudah kamu pelajari di sini, Amira.
Puteri Amira  : Baik, Kyai. Saya berjanji.

(MUSIK)

Narrator:
Akhirnya, Raja dan Puteri Amira kembali pulang ke kerajaan. Ratu Sabrina dan Puteri Alimah serta seluruh penghuni kerajaan menyambutnya dengan sukacita.

Rakyat: Hidup Putri Amira. Selamat Datang Puteri Amira. Hidup Raja.

(MUSIK RIANG)

Narrator:
Teman-teman, jangan lupa belajar ya. Kita harus rajin belajar. Kita tidak boleh menjadi pemalas seperti Puteri Amira. Jika kita rajin belajar pasti kita akan menjadi orang yang sangat hebat.

Musik riang.
Lampu sorot ke arah keluarga kerajaan yang sedang bahagia.
Musik semakin riang.

Lampu padam
Tirai menutup.
Musik penutup.
Para pemain keluar panggung dengan bergandeng tangan.

Noura N.
September 2016
Untuk Teater Anak
SDNU Kanjeng Sepuh