Cari Blog Ini

Kamis, 06 Februari 2014

Sang Leprechaun

Ia biasa dipanggil Leprechaun. Tubuh lapuknya tak henti mengganggu siapaun yang berani setor nyawa ke rimba. Jantan, rakus dan tua. Bahkan kerikilpun bisa dijualnya. Begitu kata nenek suatu sore. Aku yang masih berusia tujuh tahun mudah saja mengamini cerita nenek. Baru ketika aku menginjak belasan, aku baru tahu jika semua itu tak ubahnya dongeng pengantar tidur. Leprechaun tidak ada. Lelaki tua itu bukanlah Lucifer, kurcaci, goblin atau apapun. Manusia. Ya. Dia manusia. Sama seperti kita.

Aku membawa kapak menuju rimba. Pagi itu aku mememani kakek menebang kayu untuk ditukar dengan setampuk roti. Sisa-sisa kayu yang tidak terjual biasanya digunakan nenek untuk mendidihkan sup jagung kesukaan kami. Ceracau burung pagi menghantarkan kami lebih ke tengah rimba. Kami berpencar. Kakek melirik pohon quercus di arah barat. Aku diutusnya ke selatan. Satu pesannya, jangan sekali-kali ke seberang. Di sana tinggal bangsa jin. Salah satunya adalah Leprechaun.

Sungai itu tidak terlalu luas, tapi kata kakek sungai ini tidak berujung. Semaknya tinggi dan aku tidak benar-benar yakin apa benar dibaliknya ada kehidupan. Sebenarnya ada satu sisi yang tidak bersemak. Orang-orang biasa mencari ikan di sana. Namun tentunya mereka tidak akan membiarkan anak laki-laki belasan sepertiku untuk sendirian di sana.


Pohon oak berdaun rimbun berdiri kokoh di bibir sungai. Inilah satu-satunya pohon yang mampu menaungi kepala-kepala pemegang kail. Kayu bakar yang sedari tadi kukumpulkan sekarang sudah menggunung. Aku beristirahat sejenak di bawah rimbunan daun oak sembari menunggu kakek. Ini adalah tempat kami biasa berkumpul.

Angin semilir serta sapaan riuh burung-burung membuatku sedikit terpejam. Namun aku segera terperanjat. Tetiba aku melihat sekelebat bayangan membelah semak-semak tinggi itu lalu berjalan cepat agak pincang. Aku sangat penasaran. Apa itu yang disebut dengan Leprechaun? Sosok tua yang sangat mengganggu, rakus dan suka menghabisi siapapun yang berani sendirian ke tengah rimba.

Aku melihat sebuah sampan telah ditinggalkan pemiliknya. Aku menoleh ke belakang. Kakek belum muncul, pikirku. Ada niatan untuk menyeberangi sungai dengan sampan lapuk itu. Antara iya dan tidak lalu aku memberanikan diri menyeberanginya. Di seberang, aku ikatkan tali pada batang oak lapuk dan melanjutkan langkahku membelah semak.


Tanahnya sedikit becek. Seperti perpaduan gambut dan pasir. Aku mengikuti jejak-jejak yang tertinggal di tanah. Jika ia sebangsa jin mengapa jejak kakinya terekam jelas, pikirku. Jalanan semakin sempit. Belukar itu telah memakan seluruh jalan dan hanya sisa setapak. Suara hewan kecil riuh terdengar. Pohon-pohonnya semakin tinggi dan matari mulai enggan menelisik lebih dalam.

Aku masih mengikuti jejak dalam rimba yang belum aku pahami ujungnya. Tetiba aku mendengar sebuah pintu terbuka. Aku bersembunyi di balik pohon yang cukup lebar tubuhnya. Di ujung jalan, tampak sebuah rumah kayu yang tidak begitu lebar. Seorang berjubah abu berjalan bungkuk sedang membuka pintu. Pintu berdecit dan terbuka. Tangan kirinya membawa sesuatu yang berdarah. Sepertinya ia baru saja berburu rusa.

Aku menyelinap menuju rumah kayu itu. Aku bersembunyi di bawah jendela samping. Asap mengepul di atasnya membuatku agak tersedak. Mungkin ia sedang menyiapkan belanga untuk rusa buruannya tadi.

Aku berdiri dan tanpa sadar kepalaku membentur daun jendela. Suaranya rapuh mencoba mendekat. "Siapa di sana?". Keringat dingin mengucur dari ubun-ubun hingga kaki. Aku takut melangkah. Namun tubuh itu telah ada di depanku, di balik jendela itu.

Aku hanya terdiam. Beberapa saat kemudian tanganku sudah ada dalam genggamannya dan dengan terseok dia membawaku ke dalam. Bau dedaunan yang diuapkan di atas bara cukup menyengat. Kanan kirinya terlihat rak-rak menjulang tinggi berisi tumpukan kitab bersampul kulit. Di sisi lain, kepala rusa dan harimau menyeringai lepas. Aku didudukkan di atas bangku panjang menghadap ke ranjang.

"Sedang apa kau di luar, anak muda? Kau mengikutiku?"

Aku hanya menunduk antara takut dan malu. Lalu dia menuangkan cairan semacam sirup ke dalam cawan tembaga dan menyerahkannya kepadaku. "Minumlah. Bagaimana kamu bisa sampai di tempat ini?"

Aku memberanikan diri untuk segera membuka suara. Kuceritakan satu dua musababku hingga sampai di sini. Lalu ia pun bercerita. Aku merasakan ada kejujuran di setiap katanya, ada seberkas perih di setiap nadanya, dan ada luka yang membekas dalam di hatinya.

Dulu, pekerjaannya adalah peracik obat. Hanya karena tidak mampu meracik kesembuhan akan wabah lepra yang menimpa penduduk desa ia kemudian diusir jauh dari desa. Tidak ada tempat yang mampu memberinya pijakan. Semua orang menganggapnya setan penghancur kehidupan. Hingga ia menemukan tempat ini, jauh di tengah rimba, tempat segala bahaya. Orang-orang membuat beragam ceritera tentangnya.

Aku terdiam. Dongeng nenek ternyata salah.

Nay
Jan 14

Jumat, 10 Januari 2014

Melek Sejarah Lewat Film Sang Kiai




keterangan gambar: www.muvila.comflickmagazine.net
Sutradara Rako Prijanto
Produser Gope T. Samtani
Pemeran Ikranagara Christine Hakim Agus Kuncoro Adipati Dolken
Studio Rapi Films
Tanggal rilis 30 Mei 2013http://id.wikipedia.org/wiki/Sang_Kiai


Film besutan Rako Prijanto ini layak untuk dijadikan acuan sejarah. Pasalnya, hampir 90% isi cerita sepadan dengan sejarah aslinya. Keotentikan cerita serta tata artistik yang tidak main-main mengantarkan film ini menjadi sebuah sajian yang istimewa. Maka tak heran jika film tersebut memborong sejumlah penghargaan pada FFI (Festival Film Indonesia) tahun 2013 lalu dan mendapatkan kesempatan untuk diputar kembali pada tanggal 9 Januari 2014 di seluruh bioskop di Indonesia.. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa film tersebut adalah film terbaik sepanjang tahun tahun 2013. Meskipun film Sang Kiai merupakan film biopik pertama karya sang Sutradara, namun film tersebut digarap secara total sehingga layak menjadi film tersukses dari sekian banyak film karya sang Sutradara.
Sang Kiai berkisah tentang Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang merupakan bapak perjuangan salah satu Organisasi Massa Islam Terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama’. Film tersebut menceritakan dengan lugas bagaimana perjuangan kaum pesantren lewat peran sertanya membela Tanah Air. Sejarah tidak begitu jelas merangkum jejak para santri ini, namun sebenarnya tonggak perjuangan bangsa dan peristiwa perang membela Tanah Air atas penjajahan adalah atas prakarsa kaum bersarung dan berpeci yang hampir 60% menduduki wilayah Indonesia, terlebih pada peristiwa Sepuluh Nopember.
Rekam jejak perjuangan kaum santri tidak begitu banyak diketahui pernah diungkap Idham Chalid pada tulisannya di www.suarakaryaonline.com yang menyebutkan bahwa pengabaian tersebut disebabkan karena beberapa hal. Salah satunya adalah ketakutan akan anggapan bahwa NU adalah organisasi yang radikal dengan menyerukan Jihad fi Sabilillah, berperang dijalan Allah dalam membela tanah air. Hal tersebut berseberangan dengan reputasi NU yang sebenarnya yakni moderat dan kompromis.
Sang Kiai diawali dengan penjemputan paksa Hadratus Syaikh, diperankan Ikranegara, oleh pasukan tentara Jepang tanpa ada alasan yang jelas. Diduga penangkapan tersebut dikarenakan posisi pondok pesantren Tebuireng yang diasuh oleh beliau berada di wilayah pabrik gula Cukir yang sedang mengalami kerusuhan. Penangkapan tersebut kemudian menjadi awal dari pembelaan kaum santri sebagai wujud taat kepada Maha Gurunya. Perlu diketahui pada zaman tersebut masyarakat lebih taat dan patuh terhadap guru atau kiai dibandingkan dengan pemerintahan manapun. Penagkapan paksa tersebut juga ditengarai atas dasar ketidakpatuhan Hadratus Syaikh pada perintah Jepang yakni untuk melakukan Seikkerei atau menundukkan tubuh Sembilan puluh derajat sebagai tanda penghormatan bagi Kaisar Tertinggi Jepang dan terlebih kepada Dewa Matahari. Hal tersebut berdasarkan keyakinan dan aqidah Hadratus Syaik serta umat Islam lainnya bahwa yang layak disembah hanyalah Allah SWT.
Jika diamati, film tersebut berusaha menyajikan keseluruhan bagian sejarah yang tidak pernah diungkapkan dalam buku sejarah. Seperti ketika perjuangan arek-arek Suroboyo melawan sekutu yang dikenal dengan sebutan peristiwa sepuluh nopember. tak bayak diketahui bahwa bung Tomo, pembakar semangat perjuangan arek-arek Suroboyo sowan (red: berkunjug untuk meminta nasihat) kepada Hadratus Syaikh.Beliau yang memberikan saran kepada bung Tomo untuk menambahkan Kalimat Takbir "Allahu Akbar" sebanyak tiga kali pada pidatonya. Dan beliau pulalah yang mencetuskan untuk membentuk Hisbullah, barisan milisi yang ikut bertindak dalam peristiwa sepuluh Nopember tersebut. Seperti digambarkan dalam filmnya bahwa awal pembentukan Tentara Hisbullah adalah ketika Hadratus Syaikh diperintahkan Tentara Jepang untuk ikut serta mengumpulkan pasukan pribumi menghadapi perang antar sekutu di Burma.
Yang menjadi nilai plus dalam film ini justru adalah tokoh figuran Harun yang diperankan oleh Adipati Dolken. Secara penuh ia bertambah matang dalam perannya. Pendatang baru tersebut terlihat sangat berusaha menampilkan yang terbaik. Meski ada beberapa perannya yang terkesan datar, namun secara keseluruhan ia telah menampilkan sajian yang hebat.Terlebih pada peristiwa kesalahpahaman antara pasukan milisi atas kedatangan Jenderal Mallaby dan anak buahnya di sepanjang jalan Jembatan Merah Surabaya. Kedatangan Mallaby yang berusaha memberitahukan peristiwa Gencatan Senjata antara sekutu dan pemerintahan Indonesia kepada Pasukan India pimpinannya dimaksudkan lain oleh pasukan pribumi. Pasukan India pimpinan Mallaby memulai baku tembak kepada pasukan pribumi karena tidak mengetahui gencatan senjata tersebut akibat jaringan komunikasi yang terputus. dari baku tembak inilah kemudian Jenderal Mallaby tewas. Dalam sejarah, penembak Mallaby masih misterius. Tidak ada satupun yang mengetahui siapakan sosok penembak Mallaby yang ditemukan tewas di dalam mobilnya dan bersamaan dengan itu lemparan granat menghanguskan mobilnya. Dalam Sang Kiai, pemunculan Harun yang ikut serta dalam barisan Hisbullah menjadi sosok yang disoroti. Pasalnya ia menjadi sosok yang selama ini misterius. Dalam film tersebut, Harun menembakkan pistolnya tepat di kapala Mallby setelah mengendap lama di balik mobilnya disusul dengan lemparan granat oleh anak buah Mallaby yang ditujukan kepada Harun. Pada akhirnya ia syahid.
Ada beberapa hal yang menarik dalam film tersebut. Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratus Syaikh dijelaskan secara rinci sehingga dapat mencadi sedikit pencerahan bagi awam yang kurang paham tentang apa itu Resolusi Jihad. Selain itu, amalan-amalan yang diajarkan oleh Hadratus Syaikh dan menjadi amalan keseharian NU dijelaskan secara gamblang seperti kebiasaan takbir sebanyak tiga kali, yasinan ketika ada orang meninggal, memperbanyak sholawat, mencium tangan guru atau kiai, sikap tawadhuk (red: patuh) antara murid dengan guru dan lain sebagainya. Jalan pemikiran Hadratus Syaikh dan putera-puteranya, lebih khusus pemikiran Kiai Wahid Hasyim (Agus Kuncoro) menjadi satu hal yang unik untuk dikaji. Keputusan mereka tunduk kepada Jepang bukan berarti tunduk dan bertekuklutut secara penuh. Hal itu dimaksudkan sebagai cara santun dalam menyerang musuh dari dalam. Pemikiran yang terkesan membelok dan aneh tidak dapat dicerna oleh akal pikiran manusia biasa, bahkan santri-santrinya sendiri.
Selain daripada itu, tata musik serta tata artistik yang sangat mirip dengan keadaan pada jamannya memberikan kesan otentik dan nyata. Adegan pemukulan Jepang kepada kaum santri, hukum Rajam yang dihadapi Hadratus Syaikh serta siksaan demi siksaan dapat memberikan kesan nyata sehingga penonton merasa trenyuh melihatnya. Meskipun pada dasarnya adegan seperti itu tidak layak ditonton oleh usia anak-anak dan orang-orang yang dangkal pemikirannya. 
Pada akhirnya, film Sang Kiai memang layak ditonton. Terlepas dari motif apa pembuatan film tersebut, film Sang Kiai dapat membuat mata penonton sadar (melek) atas sejarah yang sempat dikaburkan, tentang perjuangan membela Negara, tentang ilmu dan menghormati seorang Guru, tentang kewajiban membela tanah air dan bangsa serta ketaatan pada suami sebagai Imam dunia dan akhirat.
Satu kesimpulan. Perjuangan Hadratus Syaikh tidak boleh berhenti sampai di sini saja.



Gresik, 10 Januari 2014
nay

Sabtu, 28 Desember 2013

Dawn Rhyme

A dawn rhyme for you, Mama..
Since I breath the dawn air,
I knew you're strong and fair
Like a fairy flew away the stream


A dawn rhyme for you, Mama. .
A bunch of honest from the deepest
Though you were in gloom,
you're still able to give me the bloom


I could feel your sorrow, Mama..
Accrossing the grey bridge alone
You stood still, Mama...
And asked me to go with,
caught the colony of butterfly,
chased away the depressed and loneliness



I wrote this rhyme for you, Mama..
To praise how strong you are
to tell how much I love you
to show how much I need you


Nay
Gresik
Dec, 22nd 2013


HAPPY MOTHER'S DAY FOR EVERY MAMA IN THIS WORLD <3

Mutiara dari Seberang





Ia memiliki minat belajar yang sangat tinggi. Kemampuannya menerima pelajaran sungguh melebihi teman sekelasnya. Tuhanpun memberikan ketajaman berfikir baginya. Lembar demi lembar kitab suci mampu bertahan dalam ingatannya. Tapi siapa sangka. Dibalik keistimewaan itu, cobaan setia menemani. Memaksanya untuk berurai air mata. Membuat matanya hitam. Sehitam hari-hari mudanya.

Seorang lelaki paruh baya sedang memungut sampah di jalanan. Ia pungut satu gelas bekas air mineral. Tak jarang ia hentikan kayuhan sepeda tuanya di tengah jalan. Membiarkan puluhan kendaraan berhenti di belakangnya.

Ia menyambut lelaki paruh baya itu di depan pintu, mengambilkan secangkir air yang baru saja ia tuangkan dari kendi. Di bilik paling belakang, seorang wanita yang juga paruh baya sedang menanak nasi untuk makan siang suaminya.

Mereka bertiga lalu menyantap nasi yang mengepul. Berkawan sambal dan daun singkong hangat yang tadi dipetik dari dekat sungai. Dia terlihat lahap. Begitu pula lelaki itu. Keringatnya berkah.

Setiap pagi ia pergi ke sekolah. Menyeberangi bengawan yang tak berujung. Sampan kecil inilah yang menemaninya setiap saat. Baginya, tak ada satupun yang mampu menghalangi langkahnya mencari ilmu.

Sesekali dia buka kitab kecil di tangannya. Lamat-lamat terdengar lantunan ayat yang menyejukkan. Angin menyiratkan hawa teduh. Kecipak air ikut bertasbih memuja sang pengendali alam.

Ia melakukan apa saja demi meraih apa yang pantas ia raih. Setiap malam ia mengulang lagi apa yang sudah ia pelajari di sekolah. Rumah itu hanyalah bilik bambu yang beralas tanah. Hanya disekat lemari dan beberapa papan untuk memisahkan mana kamar dan mana kakus. Untung saja listrik sudah masuk. Pikirnya, "aman".

Malam adalah kawannya berjuang. Ia berusaha pecahkan segala teka-teki Tuhan. Sepertiga malam itu seperti penerang di sela hidupnya yang malang.

Dia masih kecil. Namun berbagai tempaan hidup ia alami. Dunianya keras. Ia berusaha dengan lantang menembus batas yang harus ia tembus. Melangkahkan kaki dengan pasti ke arah cahaya di seberang bengawan.

Lelaki paruh baya itu tetap memungut sampah di jalanan. Ia banyak diam. Kayuhan sepedanya ia percepat agar segera sampai seberang. Ditambatkannya sepeda tua itu pada kayu di pinggir sungai. Lalu ia dayung sampan hingga ke seberang. Malam itu larut. Dia hanya berkata, "Nak, ini uang sekolahmu". Dan ia pun terlelap.




Gresik, 20 Desember 2013
Nay

Senin, 02 Desember 2013

Edisi Hari Guru *telat posting*

Omong-omong tentang Hari Guru tanggal 25 Nopember kemarin, rasa-rasanya saya latah ingin berkisah tentang ini. Saya menjadi hingga saat ini pun tak luput ya karena jasa-jasa mereka, guru. Bagi saya, guru itu seperti pelita dalam gelapnya malam. Mungkin benar salah satu lirik Hymne Guru "Engkau sebagai pelita dalam kegelapan.. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan...". Ketika saya haus ilmu ada titik-titik air yang diberikan oleh mereka yang saya sebut guru.


Baiklah. Guru yang paling berjasa bagi saya adalah Ibu saya sendiri. Mungkin karena beliau adalah Guru TK sehingga dapat dengan sabar membimbing saya. Pun tak kalah berjasa adalah paman dan bibi saya yang juga seorang guru, yang pernah mengajar saya di sekolah dan di rumah. Well. Mereka dari kalangan keluarga saya sendiri. Abaikan.


Saya mencintai bahasa inggris sejak SD. Guru saya itu namanya Bu Sunnah. Gaya bicaranya yang "keren" membuat saya begitu tertarik dengan pelajaran ini. Saya pun akhirnya meletakkan mapel Bahasa Inggris pada urutan pertama mapel favorit ketika menulis buku diari milik teman-teman (yang pernah hidup di jaman 1999-2000an pasti paham diari beginian).


Selanjutnya, Pak Budi adalah guru terbaik menurut saya. Saya bersekolah di MTs Swasta dan bapak tersebut adalah guru SMP Negeri. Pernah menjadi muridnya adalah satu kebanggan. Saya dibuat heran ketika dengan entengnya beliau keluarkan kamus Inggris-Inggris alias Oxford dan menerjemahkan satu persatu vocab yang saya tanyakan. Saya yang masih kelas satu Madrasah Tsanawiyah semakin tertarik dengan kekerenannya itu. Itulah mengapa hingga saat ini saya lebih suka membawa Oxford ketimbang Kamus Milyaran lainnya. Hal ini saya tularkan ke adik-adik (red: siswa-siswi) saya.


Bahasa Inggris tak pernah mati bagi saya. Di SMA saya lebih gila dengan mapel satu ini. Apalagi dengan adanya Ma'am Roby. Saya sangat antusias ketika diberi tugas menerjemahkan lagu bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Ini pada saat saya di kelas X. Hasil translate-nya masih ada sekarang. Dan saya tertawa setiap kali membacanya karena sungguh sangat hancur pola kalimat yang saya pakai waktu itu.
Di masa inilah saya mulai banyak membaca. Terlebih Lembar Kerja Siswa yang kami gunakan banyak sekali mencantumkan folktale, fairytale, legend, myth dan kawan-kawan. Apalagi saat itu hoby membaca sedang gencar-gencarnya karena didukung perpustakan sekolah yang menyediakan aneka menu novel. Saya mulai mengenal Dewi Lestari dengan Supernova-nya, lalu Andrea Hirata, Habiburahman El Shirazi, dan Hans C. Andersen. Saya suka membaca. Saya suka sastra Indonesia. Saya suka Bahasa Inggris. Jadilah saya penasaran, bagaimana jika sastra digabungkan dengan Bahasa Inggris? Inilah yang mendorong idealisme saya untuk menulis Sastra Inggris di urutan pertama SNMPTN 2008. Dan well, Tuhan mengijinkan saya untuk menyelam jauh ke dalamnya.


Jangan lupa, Dosen juga Guru loh ya.. Karena merekalah yang pernah menunjukkan jalan yang lurus menuju gerbang masa depan.
Dosen kebanggaan saya adalah Pak Khoiri a.k.a Pak Emcho dan Ma'am Tiwi. Keduanya adalah orang hebat. Saya bangga pernah mengenal dan dikenal mereka. Awal ketertarikan saya adalah ketika mendengarnya bercerita tentang Budaya, Menulis, Iowa University dan segala apapun tentang sastra. Saya menyadari ternyata pengetahuan saya tentang sastra sangat minim. Jujur saya merasa bodoh sendiri di kelas. Saya baru mengenal Rudyard Kipling, Ernest Hemmingway, Leo Tolstoy dan lainnya pada saat itu. Dan saya juga baru tahu jika statement "Tuhan Tau Tapi Menunggu" yang ada di novel Andrea Hirata adalah Ungkapan dari Eyang Leo Tolstoy. Awalnya saya pikir itu punya Hirata sendiri. (Hihihi)

Yang selanjutnya adalah Ma'am Tiwi. Beliau sedang studi di Aussie sekarang. Saya dibuat agak gila oleh Freud, Jung, dan orang-orang gila lainnya. Saya dibuat jatuh cinta kepada sosok Amir dalam buku Khalled Hossaeni, The Kite Runner. Begitu banyak air yang masuk otak saya sehingga banyak yang tumpah bahkan tak meninggalkan sisa. (eyaaaaa. Begitu bebalnya otak saya)



Well. Berbicara tentang guru, bukan melulu soal peran serta kedudukannya di masyarakat. Saya menyadari benar jika semua itu harus di dasari niat. Jika tulus ikhlas maka feedback dari siswapun baik. Sebaliknya, jika tidak maka hanya lelah saja yang didapat. Mencintai profesi ini sama dengan mencintai pacar. Sekali belok, maka hasilnya nol besar. (eyaaaa... Spam. Abaikan.)


Akhirnya, terima kasih setulus-tulusnya kepada para Pelita Malam yang telah menunjukkan saya dari jalan gelap gulita menuju jalan yang terang benderang yakni Addinul Islam.. (eh salah ya...) Terima kasih tak terhingga bagi segenap guru yang pernah ada di kehidupan saya, baik di bangku sekolah maupun di lingkungan sekitar. Teman-teman yang selalu ada untuk saya adalah guru yang berharga juga. Saya tidak sanggup membalas apa-apa. Saya hanya dapat mengamalkan apa yang sudah kalian berikan. Saya tulus memberikan ilmu yang pernah saya terima.
Nay-271113

Pelita Malam

Bukan melulu soal peran,
tapi aku berkata tentang kebenaran,
tentang mimpi-mimpi membawa Lintang ke langit menjulang
Menerobos labirin menyibak semak menjemput siang.


Kebodohan itu ibarat malam, gelap, pengap
Lentera yang diagungkan tak kunjung datang,
pelita pembebas duka tak mau mendekat,


Ada banyak kisah tentang mimpi, harap,
Ada berjuta Lintang di luar sana, Pilik dengan Sakola Alitnya, Alif anak amak yang gigih hingga ke Amerika.
Hanya berkaca pada itu saja. . Semangat yang tulus membara, meski harus mengulang dari titik nol.


Ya. Kau tahu. Malam segera hilang kerana fajar. Pekat melebur lewat matari yang bersinar terang. Jalan setapak yang terjal perlahan mulai hilang.


Hanya satu. Tulus. Semua tak akan jadi penghalang.


Dirgahayu untuk para Pelita Malam..
24 Nopember 2013
nay

Minggu, 17 November 2013

A Story: An Honesty through 6.903 Miles


Have you known about the honesty?
Yes. Here it is. The real story told by the name of honest.


Membaca buku ini, saya merinding, terharu, ikut igit-igit dan lainnya. Pada dasarnya, isi buku ini hampir sama dengan Kisah Lainnya, buku pertama tentang NOAH dan karyanya. Yang lebih istimewa dari sini adalah kemasannya yang eksklusif, disertai dengan gambar-gambar menarik tentang perjalanan mereka selama berkiprah di dunia musik.


6.903 Miles diambil dari jarak tempuh mereka mengadakan konser 2 Benua 5 Negara September 2012 lalu. Buku ini menjelaskan secara detail apa saja yang terjadi ketika perencanaan konser, problem yang muncul hingga suksesnya konser yang berhasil mengantongi rekor MURI ini. Buku ini memberikan pelajaran tentang keyakinan, mimpi serta perjuangan. Keyakinan akan mimpi membawa kerja keras bagi tiap-tiap personil untuk mewujudkan sehingga pada akhirnya mimpi tersebut dapat diraih melalui perjuangan yang tidak mudah.


Candra Gautama dan Hidayat A berhasil merangkai kenyataan yang ada menjadi susunan narasi yang menarik. Kekonyolan para personil NOAH mengisi satu dua kisah sehingga memberikan warna renyah dalam cerita. Momen-momen yang penting seputar konser berhasil disajikan secara apik dan runtut sehingga pembaca dapat mendapatkan deskripsi yang jelas dan menyeluruh.


Sebagai pembaca yang melihat dari sisi content bacaan itu sendiri, kisah-kisah yang terjadi tertuang terlihat sengat natural. Hal ini membawa pembaca seakan-akan berada di sana ada di antara mereka, ikut merasakan pelik masalah yang ada, hingga merasakan kemenangan bersama. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami, tidak berlebihan dan renyah. Gambar-gambar konser, kegiatan harian dan lainnya membuat pembaca betah berlama-lama membuka satu persatu lembar.


Selain itu, kejujuran satu persatu personilnya dalam bercerita patut diacungi jempol. Banyak pelajaran yang dapat diambil seperti perihal beberapa pesonilnya yang sangat dekat dengan Tuhan, bahan yang matang sebelum memutuskan suatu ide, serta solidaritas dan kekeluargaan tiap personil. Kerja sama yang baik dengan berbagai pihak juga menjadi satu alat kuat bagi bersatunya band tersebut.


Di sisi lain, bagi kalangan yang kurang berminat dengan ini, buku ini terlihat seperti media untuk memperbaiki citra NOAH pasca kasus yang menimpa salah satu personilnya. Terlebih ketika buku yang pertama "Kisah Lainnya" terbit berdekatan dengan kebebasannya dari penjara.

All in all, buku ini layak dibaca, terutama bagi mereka yang mengaku "Sahabat". Selalu ada pelajaran dari setiap langkah mereka. Bukan hanya satu dua personil saja, namun seluruhnya.


"Keberanian untuk merawat impian adalah separuh jalan menuju keberhasilan. Selebihnya ditentukan oleh semangat dan gairah untuk bekerja keras mencapai yang terbaik". (NOAH. 6.903 Miles)




Gresik, 17 Nopember 2013
Nay