Cari Blog Ini

Jumat, 17 Juni 2016

Benua Biru



“Ya. Suatu saat nanti kanal-kanal itu mengalirkan kedamaian lewat kecipak air bersambut bias rona jingga. Sejenak kau tambatkan gondola ini, lalu kau ajak aku menikmati kelip warna langit Venesia. Dan esok, gondola-gondola itu kan membawa kita kembali berdiri meretas arus dengan dayung kita sendiri, melepaskan segala asa menuju istana Neptunus. Mengabarkan bahwa kita masih dan akan selalu baik-baik saja. Dan, langit biru Adriatik semakin cerah ketika kudapati senyummu mengembang membelah langit, meyakinkanku bahwa tidak ada lagi yang mampu menghalangi segala titah Neptunus. Disaksikan rumah dara raksasa , di sepanjang Venice Canal kau bisikkan dengan tulus, Percayalah”.
---------------------
Mimpi itu kembali mengusik hariku. Eropa dan segala keindahannya seakan bergelayut di sepanjang waktu. Mimpiku untuk segera menginjakkan dua kaki di tanah biru Eropa tak lagi dapat diurungkan. Namun, hanya satu yang selalu ia sampaikan kepadaku, “Sabar, dik. Suatu saat nanti ya”. Dia tidak pernah menjanjikan sesuatu yang lebih untukku. Dia hanya selalu meyakinkan bahwa segalanya dapat dengan mudah terwujud dengan satu hal, sabar. Dia enggan memberiku janji-janji manis.
Beberapa hari ini ada yang tidak beres dengan hatiku. Sebentar-sebentar aku merasa muak dengannya. Ia seakan mengacuhkan segala yang aku mau. Ia hanya diam lalu membalasku dengan senyum.
Hari ini adalah Ulang Tahunku. Mengucapkanpun tidak. Bahkan aku berfikir jika ia sama sekali tidak pernah mengingat peristiwa penting itu. Sepulang dari bekerja ia terlelap dengan cepatnya. Padahal aku telah membayangkan berupa-rupa kejutan yang mungkin saja ia siapkan khusus untukku. Mungkin saja ada seikat lili yang ia taruh di meja rias, atau sekotak cokelat di ranjang, atau bahkan setangkai mawar saja yang ia genggam untukku. Kali ini, aku benar-benar marah. Inikah kesabaran yang selama ini ia sarankan? Sungguh, ini sudah terlampau sabar.
Aku membereskan tas kerjanya sambil menggerutu. Tas kulit hitam itu tak sengaja kujatuhkan ketika kakiku tersandung kursi. Ada sesuatu yang menyembul di kantungnya. Aku membukanya. Dua tiket pesawat ke Eropa.
-----------
Kilatan cahaya di sekitar kaki perkasa itu sangat menentramkan. Malam ini membawaku terbang akan mimpi yang pernah terangkai mesra di benak. Aku masih belum percaya jika kami berdua sedang duduk di bawah angkuhnya kaki eiffel yang menopang jutaan cahaya tinggi di atasnya. Angin semilir menerobos paksa jaket hitam yang sedang kupakai. Pergantian musim kali ini agaknya membuatku sedikit menggigil.
Aku mengamatinya lebih tajam. Kaki itu semakin angkuh menantang langit lepas. Sejenak aku menatap dua bola mata indah di sampingku. Kusandarkan bahu di pundaknya. Aku tatap matanya sekali lagi. Ia tersenyum. “Dik, kamu tahu. Keyakinanmu yang membawa kita sampai di sini hari ini. Aku tidak bisa menjanjikanmu apapun. Aku hanya percaya jika Tuhan menciptakan kesabaran untuk sebuah kemenangan. Selamat Ulang Tahun, dik”. Lalu ia mencium keningku.
Ini bukan hanya sekedar hadiah Ulang Tahun. Ini adalah kejutan terindah yang telah dirancang dengan sangat apik oleh Tuhanku. Dan lelaki yang sedang berada di sampingku saat ini adalah salah satu dari sekian banyak rencana Tuhan untukku.
Tidak banyak kata yang terlontar. Mulut-mulut kami sibuk mensyukuri nikmat Tuhan yang sungguh tak layak jika kami dustakan. Jutaan bintang di atas kami seakan tersenyum. Kota cahaya ini benar-benar memberikan ketentraman. Dari sekian ribu pendaran cahaya di sekitarku hanya ada satu cahaya yang sangat terang, bola matanya, menyejukkan.
-----------
Venesia, suatu pagi.
Setelah menikmati hari-hari berkeliling Paris, kami mengunjungi Venesia. Persis seperti di dalam mimpi, aku melihat deretan Gondola wisata yang siap membawa kami menyusuri kanal. Dengan bahasa perancis yang agak terbata aku menawar harga lalu duduk di ujung. Ia tampak sedang merapikan kaus putihnya lalu duduk di belakangku merentangkan tangan. “Sedang apa?”, tanyaku. Ia hanya tersenyum lalu berkata, “Kanal ini nantinya berujung pada samudera Atlantik. Kamu tahu? Sungai Seine di Paris, Nil di Mesir, Bengawan Solo di Indonesia, entah apapun itu pasti berhenti di samudera. Samudera-samudera itu adalah muara segala sesuatu. Begitupun hidup. Kemanapun langkah kita tertuju, yang pasti muaranya hanya satu. Kamu tahu, muara hidupku adalah kamu. Tentunya dengan petunjuk Tuhanku”. Aku tersenyum. Dara-dara berterbangan di di atasku. Lalu berhenti di sebuah air mancur di seberang. Aku semakin tersenyum.
Riak air mendampingi dayung yang semakin maju dan mundur. Aku berkaca diantara riaknya. Wajahku berbeda. Ada seutas senyum yang menyungging indah di sana. Aku pandang sekali lagi. Ronanya berbeda. Aku bahagia.
-------------------
Kafe de La Monte tampak lengang. Ia memesan secangkir kopi mengepul di udara lalu aku membawa secangkir cokelat panas kearah meja bundar  di ujung kafe. Pembatas kaca membawa mata kami memandang lepas kearah matari pagi. Sinarnya yang hangat membuat kami merasa benar-benar terberkati. Sedikit demi sedikit kepulan hangat ini habis. Tidak ada kata. Kami benar-benar hanyut dalam cangkir masing-masing.
Bagiku bahagia itu sederhana. Menikmati senyumnya yang menyungging lewat bibirnya yang tipis adalah sebuah bahagia. Menatap bola-bola cahaya di matanya bagiku juga bahagia. Namun, aku tidak pernah sebahagia ini. Bukan karena aku berhasil meraih mimpiku untuk mengijakkan kaki di tanah biru, namun ini karenanya. Lelaki yang kini sedang menatap hangat kepulan asap arabica khas de La Monte ini telah mampu meyakinkanku dengan caranya. Ia mampu meyakinkanku akan sebuah ketulusan dan kesabaran. Aku percaya, mimpi dan cita-cita tidak akan pernah berhasil tanpa dukungan, usaha dan pasti kesabaran. Dan bagiku, ia adalah pendukung terhebat yang aku miliki. Ia pelatih kesabaran kelas tinggi. Semangatnyalah yang mampu mengantarkanku menuju gerbang benua biru, gerbang mimpiku.
Ia menatapku. Senyumnya semakin manis. “Setelah ini kita kemana?”, tanyanya. Aku membalasnya dengan antusias. “Istanbul, Turki”.
-----------
Pesawat kami akan tiba di koordinat 41”00’49”LU. Selat Bosporus tampak sibuk dilihat dari udara. Bandara Attaturk tampak lengang. Setelah membereskan bagasi, kami menyewa taksi yang kemudian membawa kami menuju kawasan Sultanahmet. Sepanjang perjalanan yang kami lihat adalah kenangan-kenangan masa lalu. Sisa-sisa kejayaan yang pernah Tuhan berikan masih berdiri kokoh meski nafas Tuhan agaknya telah lepas.
“Apa yang kamu rasakan?”, ia mengacaukan gambaran masa lalu di benakku.
Rasa tenang yang aku rasakan. Sejujurnya aku lebih merasa dekat dengan Tuhan ketika menginjakkan kaki di tempat ini. Tuhan seakan ada lebih dekat denganku. Aku kemudian tersenyum dan menjawab, “It’s really home”.
Ia hanya tersenyum lalu memukul ringan pundakku. “Kecil, Ini hanya pintu gerbang saja. Kamu justru akan lebih dekat dengan Tuhan saat kakimu menginjak Tanah Haram”. Aku berdebat panjang dengannya. Aku tumpahkan segala yang aku tahu. Aku berceramah panjang lebar tentang Byzantium, lalu Konstantinopel. Aku mendongeng bebas tentang Usmaniyah, Ottoman, Mustafa Kemal Attaturk dan berbagai hal. Ia hanya mendengar sambil tersenyum. Terkadang ia jengkel lalu mengacak rambutku yang terurai. “Kecil, dasar kamu. Cerewet”. Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya. Langit Istanbul tersenyum.
Setelah membersihkan diri, aku meninggalkannya sebentar untuk menikmati secangkir cokelat hangat di bawah. Aku ingin ada semacam quality time untuk diriku sendiri. Aku membayangkan apa saja yang aku jalani beberapa hari ini. Pikiranku mengarah kepadanya. Ia yang kini menemaniku berkunjung ke benua biru. Ia yang memberikan hadiah perjalanan istimewa ini di hari ulangtahunku. Ia yang selalu memberiku pelajaran kehidupan. Ia, lelaki yang telah menjadi suamiku.
Dulu, aku selalu meremehkan apa yang ia titahkan. Tak pernah sedikitpun aku membenarkan apa yang ia lakukan. Namun dengan sabar ia memberikan tiga perempat dari nafas hidupnya untukku. Ia membuatku semakin dekat dengan Tuhan. Ia membuatku semakin dekat dengan mimpi dan cita-cita. Lelaki itu, suaranya hanya terdengar seperlunya. Ia lebih banyak diam. Hanya bertindak sebagaimana mestinya.
Aku berjalan keluar penginapan. Di depanku, Menara Blue Mosque terlihat megah. Rancangan Sedefhar Mehmet Aga ini sungguh sangat menggoda mata. Di seberangnya, bekas Gereja Patriarchal Orthodox Cathedral berdiri kokoh. Aku menatapnya lama. Lalu kurentangkan tanganku dan menghadap langit. Mataku terpejam. Aku merasakan kedamaian di hati. Ini adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupku. Inilah mimpi yang selama ini mengganggu pejam mataku. Mimpi lama yang akhirnya terwujud oleh ketulusan kasih. Mimpi yang terwujud oleh kedekatan pada Tuhan. Mimpi yang tergapai oleh kesabaran. Mimpi yang ia wujudkan.
Aku menghela nafas tinggi. Syal yang aku pakai terkibas oleh angin. Mataku terbuka. Langit sangat cerah. Biru yang bercampur putih sangat menentramkan hati. Tuhan memberikan kuasanya berlimpah. “Mana lagi nikmat yang pantas aku dustakan?”, aku bertanya pada diri sendiri, dalam hati.
Sepasang lengan mendarat di pinggangku. Ia sudah berdiri di belakangku. Aku berbalik, mencium lembut tangannya juga keningnya. Ia berkata, “Pada saatnya, kamu akan tahu bahwa setiap jiwa memiliki cara yang berbeda untuk memberikan sebuah kebahagiaan. Dan ini caraku untuk membahagiakanmu. Selamat Ulang Tahun, dik”.
Semilir pagi membawa kedamaian di hati. Tuhan, terima kasih.
Nay,
24 Oktober 2014

Sabtu, 14 Mei 2016

Menilik Nasib Kelam Indonesia lewat Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman



Judul : Me Hwa dan sang pelintas zaman
  Penulis: Afifah Afra
ISBN : 978-602-1614-11-2
Tebal : 364 hlm
Cetakan pertama :  Januari 2014
Penerbit : Indiva Media kreasi
 

Menilik Nasib Kelam Indonesia lewat Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman

Resensi oleh: Noura N


Sinopsis:
“Dia korban perkosaan,” bisikan lelaki berjas putih itu menyakitiku. Korban perkosaan. Aku mengerang. Meradang. Seakan ingin memapas sosok-sosok beringas yang semalam itu menghempaskan aku kepada jurang kenistaan. “Kasihan dia,” ujar lelaki itu lagi, samar-samar kutangkap, meski gumpalan salju itu menghalangi seluruh organ tubuhku untuk bekerja normal seperti sediakala. “Kenapa?” tanya seorang wanita, juga berpakaian serbaputih. “Rumahnya dibakar. Tokonya dijarah. Ayahnya stress, masuk rumah sakit jiwa. Dan ibunya bunuh diri, tak kuat menahan kesedihan.”

--------------------
Membaca Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman (MHSPZ) pembaca dibawa berkelana masuk lorong waktu dan berhenti pada peristiwa memilukan yang pernah terjadi pada bangsa Indonesia. Peristiwa tahun 1965 yang tercatat sebagai salah satu masa kelam bangsa menjadi latar peristiwa keseluruhan ide dalam novel ini. Ditambah dengan cerita kelam semasa orde baru – tahun 1998 – tentang penjarahan massal serta perlakuan tanpa etika bagi etnis China.
Bercerita lewat dua sudut pandang yang berbeda membuat novel ini terasa unik dibanding novel sejenis. Dibuka dengan latar peristiwa akhir tahun sembilan puluhan, novel ini mengisahkan tentang gadis cerdas dari etnis Tionghoa bernama Mei Hwa yang sedang menempuh kuliah di Jurusan Kedokteran salah satu kampus terkemuka di kota Solo. Gadis inilah yang kemudian menjadi sentra cerita dan terhubung dengan wanita pelintas zaman bernama Sekar Ayu, seorang wanita yang pernah merasakan peliknya hidup di berbagai zaman.
Mei Hwa  merasa bahwa hidupnya tidak berarti lagi pasca pemerkosaan yang terjadi pada dirinya semasa kerusuhan Mei 1998. Keluarganya mengalami goncangan berat. Harta bendanya habis. Ayahnya harus masuk Rumah Sakit Jiwa, ibunya mati bunuh diri dan kedua kakaknya tanpa kabar. Mei Hwa sendiri mengalami pukulan hidup yang hebat sehingga ingatannya sedikit kacau.
Bertemunya dengan Sekar Ayu membuat Mei Hwa sadar bahwa dirinya tidak sendiri. Masih banyak yang mengalami kepahitan hidup serupa namun tetap tegar melangkah. Di sinilah mengapa ikatan batin mereka kuat. Pada akhirnya, memang antara mereka ada pertalian yang tidak terduga.
Sebagai novel sejarah, MHSPZ menghadirkan fakta-fakta yang jarang terungkap. Dibumbui dengan fiksi yang manis, novel ini mampu menghadirkan satire yang kocak dan mengena, sesuai dengan kejadian pada zamannya. Pembaca seperti dibawa menilik lebih dalam tentang nasib bangsa Indonesia sekitar tahun 1965 kala PKI berjaya dan kerusuhan Mei 1998.
Gaya bertutur penulis dalam menyampaikan ide cerita juga ringan. Hanya saja, sudut pandang orang ketiga untuk menggambarkan seorang Sekar Ayu lebih bagus dibanding dengan gaya penceritaan Mei Hwa yang menggunakan sudut pandang "aku". Hal ini dapat dilihat pada saat Mei Hwa dirawat di rumah sakit pasca kerusuhan. Ia diceritakan sedang terganggu mentalnya. Hal ini seakan kurang pas. Seorang yang sedang terganggu mentalnya dapat dengan mudah bercerita sesuatu yang seharusnya tidak disadari. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut, saat Mei Hwa merasa dirinya berubah sebagai burung Elang:
"Seekor burung gereja mencicit, hinggap di sebuah dahan lemah di tepi jendela. Tertawaku semakin buncah. Kujulurkan paruhku kepada burung gereja itu, mencibir dengan sedahsyat-dahsyatnya cibiran"
Di samping itu, ada beberapa bagian yang sangat disayangkan adanya. Hal ini dapat dilihat pada kalimat yang terdapat pengulangan seperti kata "ini" dan "itu" yang ditulis berulang dalam satu paragraf. Selain itu, banyaknya tokoh membuat cerita kurang fokus. Pembaca dirasa harus menuliskan catatan khusus agar mengetahui jalan cerita tokohnya secara keseluruhan. Seperti contohnya hubungan antara Sekar Ayu dengan kakek neneknya, ayah ibunya, paman bibinya serta orang-orang di sekitarnya.
All in all, Mei Hwa dan Sang Pelintas zaman layak mendapat tiga dari lima bintang. Good Job, mbak Afifah Afra.
 

Kamis, 05 Mei 2016

Ada Apa dengan "Ada Apa Dengan Cinta 2"?: Sebuah Review

pict: google






















Pernah termehek-mehek pas nonton AADC 1 jaman sekolah dulu? atau sampai kuliah nekat minta cariin bajakannya sama mas-mas penjaga warnet? Nah, itu saya. Atau sampai kebawa kehidupan nyata kalau pengen banget punya pacar sastrawan kayak Rangga? Itu saya juga. Fix. Dan saya sudah puas nonton AADC 2 di hari kedelapan pemutarannya. Lalu, apakah sesuai ekspektasi? Mari kita simak review-nya.


Adegan dibuka dengan product placement yang benar-benar bikin enggak fokus. Ya. Aqua. *spoiler

Film Ada Apa Dengan Cinta garapan Miles Production ini benar-benar menarik minat penonton. Bagaimana tidak, pasti penonton yang pernah menggandrungi AADC pada jamannya merasa sangat menunggu film ini, begitupun saya. Adegan awal memunculkan Geng Cinta yang sedang membicarakan rencana liburan mereka. Tempat yang mereka pilih adalah Jogjakarta, sekalian Cinta (Dian Sastro) ingin menilik pameran karya Eko Nugroho. (Seorang Cinta banget ya yang berhubungan dengan seni-seni gitu)
Jadi, Cinta sudah punya Galeri kecil di Jakarta yang fungsinya mewadahi kreatifitas anak muda. Persis sama hobi Cinta pas SMA yang merupakan ketua Tim Mading. Selanjutnya, pertemuan mereka juga karena Cinta ingin mengumumkan kalo dia sama Trian (Ario Bayu) udah tunangan. Saya langsung ingat Borne, cowok tajir yang ngejar Cinta pas SMA. Apa kabar ya dia? Saya kira Borne bakal jadi suami Cinta. Hehehe Lalu yang saya kaget ternyata Milly nikah sama Mamet. Padahal Mamet kan ngejar Cinta pas SMA. Cinta beruntung banget ya dikejar banyak cowok. Tapi Mamet Dewasa sudah enggak culun kok. Hihihi

Selanjutnya, scene berganti saat Rangga sedang berada di dalam kedai kopi yang ia dirikan bersama temannya, Rob di New York. Tetiba ada mbak-mbak muda yang ngaku adek tirinya Rangga. Saya ingat kejadian di AADC 1 tentang keluarga Rangga yang broken. Ibunya pergi dari ayah Rangga bersama dua kakak Rangga karena tidak tahan hidup dengan ayah Rangga dan omongan-omongan orang tentang mereka. Sekedar info, ayah Rangga pernah bikin Tesis tentang kebusukan orang-orang di pemerintahan sekitar tahun 1996 sampai dituduh komunis dan tergabung dalam gerakan makar. Ayah Rangga hidup hanya berdua dengan Rangga lalu pensiun tanpa diberi pesangon  karena masalah tersebut.
Baik, berlanjut tentang mbak-mbak muda yang namanya Sukma itu. Alkisah, mbak Sukma ini minta Rangga pulang karena Si Ibu sudah tua, sakit-sakitan, kangen Rangga dan agak lemah. Rangga yang merasa sudah tidak mempunyai ibu karena dua puluh lima tahun hidup tanpanya membuat Rangga enggan pulang. Singkat cerita, Rangga kangen, pulang ke Indonesia, kangen Cinta, kangen Ibunya. Dia pulang, cari Cinta di rumah lamanya tapi ternyata sudah pindah lalu dia memutuskan ke Jogja cari ibunya  berbekal alamat yang dikasih sama Sukma.

Semesta ikut ambil bagian dalam hal ini. Ketika Geng Cinta sedang di Jogja mereka bertemu Rangga. Karmen (Adinia W) dan Milly (Sissy P) mengikuti Rangga, menceritakan jika mereka dan Cinta sedang di Jogja lalu menjadwalkan pertemuan dengan Cinta. Mereka minta persetujuan ke Maura (Titi Kamal). Agak keberatan memang di awal, tapi akhirnya cinta mau bertemu dengan Rangga. Ia merasa ada ketidakjelasan yang harus ia ketahui sebelum ia benar-benar menikah dengan Trian. FYI, ternyata pasca lulus SMA, Cinta sempat pacaran sama Rangga. LDR gitu lima tahunan. Jakarta - New York. Dan sembilan tahun lalu Rangga memutuskan Cinta lewat surat. Gantung banget kan?

Intinya mereka ketemu di Jogja, sempat jalan bareng, spot-spot Jogjanya berhasil bikin saya mupeng mau ke Jogja. Apalagi pas Rangga ngajak Cinta buat lihat sunrise di atas Punthuk Setumbu, Sebuah bukit dengan gereja berbentuk ayam yang sebenarnya ada di daerah Magelang, bukan Jogja. Spot-spot unik yang ditawarin Rangga emang klasik banget ya. Persis sama kepribadian Rangga yang klasik. Saya jadi ingat kebiasaan Rangga di AADC 1 yang hobi cari buku di Kwitang, sebuah daerah pasar loak yang jual buku-buku bekas.

Dan, apa yang terjadi setelahnya? Apakah Rangga jadi sama Cinta atau Cinta jadi nikah sama Trian? Mending nonton sendiri aja deh. Saya berdosa jika bikin spoler terlalu banyak. Hehe

Menurut saya, Ada Apa Dengan Cinta 2 dibuat memang benar-benar untuk ajang reuni pemain sekaligus penonton. Bagaimana tidak, saya menangkap ada kesan terburu-buru dalam penggarapan ide cerita. Pokoknya asal bisa menyenangkan penonton saja dengan mempertemukan Geng Cinta juga Rangga yang legendaris itu. Begitupun dengan ending cerita  yang bagi saya tidak logis. Mungkin sebagian orang bilang ini romantis. Tapi, seseorang yang sudah bertunangan lalu tetiba batal karena bertemu mantan itu logis ndak sih? *Loh spoiler... Hihihi
Satu lagi, karakter Rangga yang dingin di AADC 1 mendadak mencair di AADC 2. Empat belas tahun di Amerika membawa perubahan yang signifikan. Jadi lebih banyak omong dan romantis. Ciye. Ini yang katanya ndak disukai beberapa orang. Katanya jauh dari ekspektasi mereka tentang seorang Rangga. Saya juga mikir demikian sih. Satu lagi, tentang sahabat Cinta, Alya (Laudya Cheryl). Nah, gadis alus itu dikisahkan meninggal di film ini. Karena kecelakaan. Tiba-tiba banget kan. Aneh aja.


Tapi overall, saya suka bangeettt. Apalagi pas adegan di New York. Berasa ndak nonton film Indonesia. Setting-nya pas musim gugur mau musim dingin gitu jadi seneng aja liatnya. Juga pas adegan *sensor* itu. Maniss. Intinya, lebih banyak bagian yang saya suka daripada yang ndak saya suka. Satu lagi, saya tetep cinta sama pribadinya Rangga. :-D



Nay-
06 Mei 2015


*Dear Cineplex 21, saya masih heran kenapa film itu dikatagorikan film 13+.

Rabu, 30 Desember 2015

KALEIDOSKOP 2015



Rasanya, waktu berjalan cepat. Entah sudah berkah atau belum hidup saya, yang jelas Tuhan sudah terlalu baik kepada saya. Ia telah memberikan nikmatnya yang tak terhingga kepada saya. Rasanya, saya agak jauh melupakan Tuhan. Namun ia tidak pernah sedikitpun melupakan saya. Justru Ia selalu mengingatkan saya dengan cara-caranya yang luar biasa. Inilah yang membuat saya malu jika harus menjauh. Saya berusaha untuk lebih dekat lagi, mencumbuinya kembali dengan setulus hati.

Januari 2015

Lembaran baru itu benar-benar dimulai. Menikah di usia yang belum genap dua puluh lima tahun, kurang dari target menikah yang saya tetapkan yaitu di usia tepat dua puluh lima tahun. Memutuskan sesuatu yang sebelumnya sempat ditarik ulur adalah bukan hal yang mudah. Akhirnya Tuhan memberikan jalan. Ia mempermudah segalanya. Sesungguhnya antara siap dan tidak siap. Ada banyak hantu yang merusak kalbu. Ingin mundur tapi sudah terlanjur. Ingin maju tapi rasanya tidak mampu. Beruntungnya Ia selalu menggandeng tangan. Tuhan tidak pernah salah mengacungkan tangan-Nya.

Februari 2015

Semakin takjub dengan purnama. Semakin bangga dengan kesabarannya. Sebulan menikah, semua pertanyaan selama sembilan tahun bersama terjawab sudah. Dia tidak pernah mengeluh. Dia selalu sabar meski merasa terpinggirkan. Dia hebat.

Maret 2015

Menikah sejatinya bukanlah perubahan. Tapi memang rasanya berbeda. Dan lagi-lagi dia selalu memberi pencerahan. Dari sinilah saya memahami bagaimana arti dari berbagi. Dan saya sangat menikmati.

April 2015

Lagi-lagi Tuhan menguji. Perasaan tidak nyaman itu selalu menghampiri. Tapi sekali lagi, purnama itu selalu berikan sinarnya yang terang.

Mei 2015

Perdana mengetahui jika saya positif hamil. Rasa sakit itu saya anggap biasa. Tidak tahunya itu adalah hal serius. Kata dokter, Blighted Ovum. Saya harus menerima kenyataan jika embrio itu harus diambil di hari pertama saya mengetahui keberadaannya. Embrio yang tidak berkembang karena sel telur yang kurang sempurna. Entah faktor apa yang menyebabkan hal itu terjadi tapi saya sangat benci jika harus dikaitkan dengan kesibukan saya bekerja. Ini murni kelainan sel. Tuhan memang belum mempercayakannya untuk kami.

Juni 2015

Belum bisa mempercayai keadaan. Harapan saya hanya satu, selalu menjadi pendukung di setiap langkahnya. Karena itulah sejatinya yang dia butuhkan.

Juli 2015

Tuhan kembali menguji. Sepertinya ini jawaban untuk kejadian di bulan Mei. Akan ada kejadian ini sehingga Tuhan harus mengambil calon bintang kecil itu dari kami. Tuhan Maha Berencana.

Agustus 2015

Sudah tiga bulan pasca kejadian di bulan Mei. Kata dokter ini sudah saatnya. Tapi kami belum bisa menyegerakan ini. Ada banyak hal yang menghantui pikiran kami. Ada banyak hal yang harus disiapkan. Kami memutuskan untuk sengaja menundanya hingga saat yang belum bisa kami tentukan.

September 2015

Bulan ini, rasanya lupa jika saya pernah mengalami masa-masa sulit. Ini terjadi setelah saya mendengar kabar jika cerpen saya berjudul “Janji di Langit Senja” siap terbit dalam kumcer “Jodoh Pasti Bertamu” dari Penerbit Indiva. Cerpen ini saya tulis di bulan Maret, setelah saya menikah.

Oktober 2015 

“Jodoh Pasti Bertamu” sudah ready di Gramedia dan toko buku online. Ah, rasanya campur aduk. Agak alay sih. Tapi merasa bangga saja jika nama saya ada di dalamnya. Semakin bangga ketika suami bilang: “Tahun depan bikin buku solo ya. Jangan buku keroyokan saja. Pasti bisa.” Ah, lagi-lagi keyakinan dan semangat darinya yang menguatkan.

November 2015                                                                                                               

Perdana merayakan ulang tahun berdua. AlhamdulIllah. Merayakan bersama setelah menikah rasanya bahagia saja.

Desember 2015

Dan, inilah puncak dari segalanya. Saya sudah merencanakan untuk menikmati liburan semester di tempat asal ibu saya, pulau Bawean. Ini sekaligus kado ulang tahun pernikahan kami yang pertama untuk kami sendiri dan kado harri ibu bagi ibunda tercinta. Saya bangga bisa membuatnya tertawa lepas tanpa beban. Saya bahagia bisa membuatnya ceria. Saya bangga bisa mempertemukan ibu saya dengan saudara-saudaranya. Lagi-lagi Tuhan sangat mencintai saya. Setelah duka pasti ada suka. Purnama itu selalu mencerahkan. Dia bilang, “Ini balasan dari orang yang sabar”.

Desember akan segera berakhir. 2015 akan segera menutup lembarannya. Akhir tahun lalu saya menulis, “saya hanya berharap wujud dari mimpi-mimpi kami akan indah”. Saya sudah mendapatkan mimpi saya dengan dipersunting oleh purnama terindah yang selama ini menemani saya. Entah harapan tentang indahnya mimpi itu sepenuhnya terwujud atau tidak. Namun yang saya rasakan adalah Tuhan terlampau mencintai saya dengan caranya yang luar biasa. Ia selalu memberikan rasa nyaman dan berkah atas apa yang terjadi. Kunci segalanya adalah sabar. Terimakasih telah memberikan purnama terang bagi hari-hari saya yang agaknya kurang benderang.

Resolusi 2016
  • Saya sangat ingin ada satu buku solo saya yang diterbitkan, entah itu dari penerbit minor atau mayor. Mungkin akan ada beberapa buku keroyokan lagi yang bisa dibanggakan.
  • Saya sangat ingin diberikan kesiapan untuk menikmati anugerah Tuhan berupa bintang-bintang kecil yang melengkapi kehidupan kami. Entah itu dengan masih tetap bekerja atau harus meninggalkan pekerjaan saya. Semoga saya diberikan kekuatan. Karena saya tidak ingin menjadi yang biasa-biasa saja. Saya ingin menjadi yang luar biasa.


Terimakasih, Tuhan.
Terimakasih, Purnama.

Nay

Akhir Tahun Dua Ribu Lima Belas