Cari Blog Ini

Kamis, 11 Agustus 2016

Namaku Espresso #MyCupOfStory



Namaku Espresso
Oleh: Noura N

Historica Coffe Shop nampak ramai. Jajaran meja kursi kayu dan lampu yang menggantung membuat suasana manis. Sofa-sofa putih di sudut ruangan sudah ramai terisi. Seseorang dengan rambut terurai sebahu sedang berbincang dengan lelaki yang juga berambut sebahu. Kaus maroon yang sedang mereka kenakan sama persis. Mungkin sengaja disamakan untuk mengindikasikan jika keduanya adalah sepasang kekasih. Tapi tunggu dulu, ternyata bukan ini yang aku temukan di keduanya.
“Nad, Saya punya pertanyaan buat kamu.” Lelaki itu bertanya.
“Ya, kak”, perempuan itu tersenyum.
“Kamu tahu kenapa saya suka Espresso? Lebih tepatnya Single Espresso.”, tanya Fikri, lelaki itu.
Nadia hanya tersenyum. Busa Latte Macchiatto yang menggunung dimainkan dengan sendok panjang.
“Seharusnya kamu enggak perlu repot-repot jawab juga sih. Kenikmatan Espresso memang bukan untuk dirangkai dalam kata. Cukup untuk dirasa”, Fikri membalas dengan senyum.
“Kak Fikri lagi kurang pembahasan ya?”, ia meneguk Latte Macchiatto dengan senyum yang lebar.
Hai, namaku Espresso. Aku tertawa sendiri melihat percakapan mereka. Aku merasa disanjung. Aku selalu menemani hari-hari mereka di sini, di coffe shop ini. Historica Coffe Shop selalu menjadi jujukan keduanya. Aku dan saudara-saudaraku selalu tersaji manis di masing-masing meja saji.
Rasanya bahagia bisa menemani manusia-manusia ini. Ada rasa yang kurang bisa aku pahami saat melihat keduanya bercengkrama. Semacam rasa yang tak terungkap, rindu yang malu-malu, atau benci yang dibuat-buat. Yang pasti aku puas saat melihat mereka pergi dengan senyum dan menikmatiku habis hingga teguk terakhir.
“Espresso itu rasanya kuat. tajam. Single Espresso disajikan dengan hati. Suhu sembilan puluh derajat celcius membuatnya pas di lidah. Pressure-nya pas. Semuanya pas. Single Espresso biasa dinikmati mereka yang ramah, easy-going, mudah akrab sama orang. Nah, unik.”, Nadia membuka suara. “Sama seperti kamu, kak. Pikiranmu tajam. Kamu peka terhadap permasalahan apapun. Semacam peka terhadap zaman. Hahaha”, Nadia terbahak. “Kak Fikri cowok unik yang pernah saya kenal.” Tiba-tiba dingin. Diseruputnya kembali Latte Macchiatto itu pelan.
“Tapi saya enggak peka sama cewek ya. Cewek cantik kayak kamu masih saja saya abaikan”.
“Glek.” Latte Macchiato yang manis berhenti tiba-tiba di tenggorokan Nadia.
“Hahaha jangan kayak kancil yang kepergok nyuri timun gitu ah. Tapi jujur, lima tahun kenalan sama kamu, saya masih belum berani memutuskan. Kamu terlalu baik. Tapi kamu nyaman kan?”
Tidak ada suara. Aku tertawa melihat mereka. Fikri kemudian menegukku pelan. Aku seperti masuk ke dalam aliran darahnya lalu ke hatinya. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di sana, di hati. Rasa itu seperti ingin berontak tapi pelan-pelan bisa ditahan. Dia sangat hati-hati. Dia tidak ingin gegabah.
Tampaknya, Fikri bukanlah lelaki yang plin-plan. Dia tidak seperti lelaki buaya penebar pesona. Satu yang kuamati, dia sangat hati-hati. Dia tidak ingin merusak segalanya.
----
Di waktu yang lain, seseorang yang berdasi necis tengah memesan Triple Espresso, duduk tak beraturan, kemudian merenggut cangkir dengan paksa dan meneguknya tergesa-gesa. Aku membaca kebencian di wajahnya, juga hatinya. Ponselnya berdering.
“Sudah kubilang. Aku tidak ada apa-apa dengan wanita itu.  Sekali lagi kamu tanyakan itu, aku akan ceraikan kamu”
“Tidak usah menangis. Urus saja dirimu. Mengurus diri sendiri saja tidak becus. Bagaimana bisa aku simpati padamu?”
“Aku tidak main-main. Tujuh tahun menikah dan belum mendapatkan momongan itu hal yang sederhana menurutmu? Aku sudah capek kau tuduh terus-terusan”
Ponselnya dimatikan.
Aku menutup mata erat-erat. Perasaanku tercabik saat mendapati mulutnya menegukku paksa. Panas tubuhku setelah diseduh dengan sembilan puluh derajat celcius air tidak lagi dihiraukannya dan aku masuk ke dalam aliran darahnya yang penuh kebencian. Dia terlihat seperti pecandu berat kopi. Tiga kali ukuran standar espresso membuat larutan dalam cangkirnya sangat kental. Dia ambisius. Emosional. Aku bisa membacanya saat aliran darahnya yang panas menyatu dengan sembilan puluh derajat panas tubuhku.
------
Namaku Espresso. Aku biasa menghadapi berupa-rupa jiwa. Kadang pahit, kadang manis. Sama sepertiku, hidup juga memiliki sisi pahit. Hidup memang rumit. Betapa mudahnya membuat masalah, memunculkan dendam lalu menyemai benci.
Aku dipuja orang namun tetap ada sisi lain dalam diriku yang sebenarnya pilu. Aku hanya bisa mendengar dan melihat mereka menikmatiku tapi tidak untuk bercengkrama dengan mereka, bukan untuk menegur mereka saat ada yang kurang tepat atau memuji mereka saat mereka benar-benar hebat. Meski begitu, aku bahagia bisa menemani mereka dalam suka maupun duka.
Pernah ada satu masa, saat aku benar-benar tidak dijamah sampai aku benar-benar dingin. Malam itu berbeda. Yang kudapati hanya air mata.
Dua cangkir Double Espresso ada di atas meja saat itu.
“Dokter tidak mungkin memberikan diagnosa yang salah.” Lelaki itu berbicara kepada langit. Wanita di depannya terisak. “Tapi kanker itu tidak berbahaya kan..?”, tangisnya memecah malam.
“Dua bulan lagi katanya. Jika bertahan.”, tangan kurus itu menggenggam erat jemari  si wanita. Tangisnya menderu. Aku dibiarkan diam.
“Aku akan berusaha semampuku untuk membahagiakanmu. Mungkin ini caraku sebelum benar-benar pergi. Aku ingin menjadi yang terbaik yang pernah kamu punya. Aku ingin menjadi kenangan terindah untukmu”.
Si wanita menangis. Tidak ada kata.
Aku merenung.
-----
Tapi, aku selalu bahagia melihat pasangan ini. Fikri dan Nadia adalah langganan Historica Coffe Shop. Tidak ada pilihan lain bagi Fikri selain memilihku untuk menemani hari-harinya. Katanya, aku adalah potret dirinya. Aku di temani saudaraku, Latte Macchiatto, yang selalu tampak manis.
Fikri mencoba untuk mencairkan suasana.
“Bagaimana kuliahmu? Ada masalah sama diktatnya?”
“Bukan tentang diktat kuliahnya, kak. Melihat wajah professor saja saya sudah bingung. Bagaimana saya bisa paham materinya?”, tawa Nadia mengudara.
“Yang saya tangkap sih begini ya kak, Persona itu topeng. Ibaratnya begini, saya sebenarnya seorang yang pemalas. Lalu di depan calon mertua, tiba-tiba saya jadi orang yang rajin banget, rapi banget, dandan manis, suka bersih-bersih dan apa aja lah. Nah itu namanya Persona. Tingkah laku yang saya tampilkan di lingkungan sosial dengan tujuan menampilkan kesan tertentu pada sekitar. Dengan arti lain saya menyembunyikan sifat asli dari lingkungan sekitar. Sama aja munafik dong kak?”.
“Sebenarnya begini, Jung mengartikan Persona sebagai topeng yang dipakai seseorang sebagai respon terhadap tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat. Singkatnya, buat cari identitas lah.”
“Enggak paham”. Nadia megusap gelas Latte Macchiatto yang tinggal separuh isinya.
“Hahaha.. Sabar, Nad. Yang jelas dalam dunia psikologi, psikis manusia terbagi jadi dua. Yang pertama temperamen atau watak, lalu ada personality atau kepribadian. Watak itu sifat bawaan sejak lahir sementara kepribadian itu sifat yang sengaja dibentuk. Kadang malah sengaja dibentuk biar bisa nutupin yang jadi sifat aslinya. Nah, karena persona itu diambil dari kata personality maka bisa dipastikan bahwa persona, demi maksud tertentu, digunakan untuk menutupi watak kita yg asli”.
“Sudah ah, kak. Ngobrol yang lain aja yuk.” Nadia enggan memikirkan tugas kuliahnya.
Ah, Fikri memang lelaki cerdas. Sayangnya, dia tidak punya cukup keberanian untuk  mengungkapkan rasa yang mengganjal.
Namaku Espresso. Lalu lalang penikmat kopi di coffe shop ini sama sekali tidak membuatku terganggu untuk mengamati pasangan ini. Aku hanya bisa mengumpat kesal atas sikap Fikri yang kurang tegas. Seharusnya, jika dia benar-benar potret diriku, dia tidak akan selambat itu mengungkap rasa. Aku tidak mau seorang Fikri seperti orang kebanyakan yang hanya sok menikmati kopi dan menyandingkan jiwanya seperti kopi padahal sebenarnya ide tentang kopi di otaknya nonsense.
Seperti ada kata-kata yang ingin kumuntahkan di depannya. “Ayo, Fikri. Come on. Just say it. Lima tahun sudah terlalu lama untuk sebuah perasaan.”  Sekali lagi. Namaku Espresso. Aku hanya bisa mengamati mereka lewat cawan enam puluh mili saja. Aku tidak mampu bersuara.
Fikri menatap Nadia sekilas. Dia nampak sangat hati-hati.
“Nad, Espresso adalah dasar dari segala kopi yang bisa kita nikmati. Ibarat roti, espresso adalah biangnya. Dari espresso kita bisa menikmati Affogato, Americano, Long Black bahkan Macchiatto yang sedang kamu nikmati sekarang. Saya pernah punya keinginan, kalau suatu saat nanti saya menemukan seseorang yang benar-benar cocok sama saya, akan langsung saya nikahi dia. Tapi sejauh ini belum ada yang seperti itu. Baru sekitar beberapa saat yang lalu, setelah lima tahun pengamatan saya, saya merasa you are the one. Saya pengen jadi dasar dari segala kebahagiaan. Bagi saya, menjadi espresso adalah sesuatu yang mengagumkan. Espresso bisa menawarkan bermacam-macam rasa. Saya pengen kamu merasakan bermacam-macam rasa yang saya berikan”
Nadia merasakan dingin yang luar biasa.
“Saya tidak ingin gegabah. I just wanna say my feeling in words. Saya sudah cukup lama membuat hatimu sakit”
“Kak Fikri ngomong apa sih? Nadia ngerasa nyaman kok. Bagi Nadia, kedekatan yang tulus tanpa ada rasa itu lebih nyaman dibanding perasaan yang tumbuh karena terpaksa”
Fikri diam. Pun dengan Nadia. Ada jeda di antara keduanya.
“Kak, kak Fikri sudah jadi Espresso buat Nadia. Kak Fikri selalu ada di saat apapun. Kak Fikri sudah memberikan kebahagiaan yang berwarna. That’s enough.”
Tiba-tiba aku merasa tersanjung. Satu hal yang aku pahami sekarang. Tidak selamanya aku hanya bisa mendengar dan melihat manusia-manusia itu berkeluh kesah tanpa melakukan apa-apa. Ternyata aku mampu meredam amarah mereka, memuaskan mereka dengan rasa serta mampu memberikan berjuta rasa lewat saudara-saudaraku yang tersaji dalam berbagai rupa. Aku bahagia karena bisa memberi kebahagiaan. Aku bahagia menjadi dasar yang mampu menyuguhkan manis. Karena rasa telah mengalahkan segalanya.
nay



Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Jumat, 24 Juni 2016

Lelaki Bermata Biru (Bagian Dua)



Rumah Rhein.
Aku disibukkan dengan hari-hari mengurus Mama. Hampir satu minggu aku bolak-balik antara rumah sakit, rumah dan kantor. Nanti malam lagi-lagi aku harus tidur di rumah sakit. Ada waktu sekitar satu jam sebelum senja benar-benar melebarkan sayapnya. Baru saja aku  pulang dari kantor dan segera kupanaskan air untuk mandi sore ini. Beberapa ikat sawi siap kurajang lalu kucuci bersih bersama potongan ayam yang sudah aku siapkan di dalam kulkas. Malam ini aku akan makan di rumah sakit. Satu hal yang istimewa, Ken akan menemaniku malam ini.
Saya jemput kamu ya. Jangan naik taksi. Jatah taksi disimpan saja.
Sebaris pesan singkat masuk di ponselku.
Kenapa dia lebih sering menghubungiku lewat ponsel ya? Pertayaan bodoh. Kadang aku merindukan tulisan tangannya. Oh. Aku merindukan Ken. Aku biarkan pesan itu tak terbalas. Kulanjutkan memasak. Hanya tiga puluh menit dan ayam kecap sawi itu sudah matang. Semoga lidah Amerikamu tidak ngilu merasakan masakanku.
Aku sudah mandi. Kaus warna salem dan jeans hitam aku padankan syal bercorak senada. Sepasang convers merah melengkapi kakiku yang melenggang ke luar kamar. Lelaki itu sudah duduk di teras.
“Let’s go!”, tanganku meraih tangannya.
“Dont be in hurry!”, balasnya sambil tertawa.
Aku tidak ingin berlama-lama. Aku hanya ingin segera sampai di rumah sakit. Honda Brio merah itu melaju tenang. Tidak ada kata. Sesekali mulutnya bernyanyi menirukan suara Elvis Presley melagukan Cant Help Falling in Love. Aku tersenyum. Ada begitu banyak rasa yang kembali mengisi relung hatiku. Aku mencoba untuk tidak salah mengartikan ini semua. Aku menghela nafas panjang. Mataku menutup pelan.
Kami berdua menyusuri lorong demi lorong Darmo International Hospital. Ujung lorong itu adalah tangga menuju lantai dua. Sekali belok, aku telah menemukan kamar Mama. Suster tersenyum kepadaku saat aku membuka pintu kamar Mama. Kulihat Mama tak lagi terbaring. Matanya sudah terbuka dan tubuhnya bersandar di dinding ranjang.
“Ibu Sarah sudah lebih baik, Nona. Dia sudah bisa diajak bicara. Saya permisi dulu. Jika ada yang diperlukan, silahkan anda tekan bel”
Aku mengangguk. “Terima kasih, Sus”, kataku.
Aku menghampiri Mama. Ada senyum yang bias di bibirnya. Aku memeluk tubuhnya erat. Aku merasakan air matanya menetes di ubun-ubunku.
Ken berdehem. Aku belum sadar jika aku belum memperkenalkannya kepada Mama. Aku berdiri dan mempersilahkan Ken duduk di kursi sedangkan aku duduk di samping Mama.
“Ma, masih ingat Ken? Teman SMA Rhein yang pernah Rhein ceritakan dulu?”, tanyaku hati-hati.
Mama mengangguk. Tangannya meraih pipi Ken. Ia tersenyum. Ken meraih tangan Mama, menciumnya dan menggenggamnya.
“Bagaimana keadaan Tante?”
Mama tersenyum. Ia melepas genggaman Ken dan meletakkannya di atas tanganku. Ada rasa yang berdesir hebat.
“Ehm, kita belum makan malam”, Ken melepaskan tangannya.
Aku melihat piring Mama sudah tinggal separuh.
“Mama mau makan lagi? Rhein suapi ya?”. Mama menggeleng. Ia menyuruh kami untuk segera makan. Meja tunggu itu kemudian penuh dengan bekal nasi dan ayam kecap sawi buatanku. Kami menikmatinya dalam diam. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba merasuki benakku. Apakah aku jatuh cinta?

Bersambung...

Lebaran Kelabu - Sebuah Cerpen

"Sepertinya kamu sakit, Nduk?", kata Bu Yati suatu sore.
Teras nampak manis dengan jajaran adenium yang baru saja ia sirami. Beberapa anak kecil yang tak lain adalah adik-adiknya, sepupu-sepupunya, serta anak-anak tetangga berlarian menggiring bola di lapangan rumput yang tak begitu luas, tepat di depan rumahnya. Matanya membulat mengawang ke depan. Suara ibunya seperti sambil lalu, tidak ia dengarkan. Tangan Bu Yati melingkari pinggangnya. Nurani terhenyak.
 "Kamu sakit?", ulang Bu Yati kembali.
Ia menggeleng. Kursi teras ia duduki. Matanya tak lepas dari gerombolan mahkluk kecil yang sedari tadi ia pandangi. Bu Yati menghampirinya, duduk di sampingnya.
"Bu, semisal lebaran tahun ini Rani ndak bisa kasih ibu sangu seperti tahun lalu bagaimana?", mulutnya bersuara.
"Nduk, dengan kamu di sini menemani ibuk selama Ramadhan ini saja ibuk sudah senang. Ibuk ndak minta apa-apa." Jawab bu Yati.
"Mas Rijal ndak digaji buk bulan ini. Gaji saya banyak dipotong cicilan koperasi. Tulisan-tulisan saya beberapa minggu ini belum ada yang nyantol di redaksi. Penerbit juga belum transfer hasil penjualan buku saya yang kemarin, Buk" Bu Yati hanya menghela nafas panjang. Ia diam.
"Rani hanya ndak ingin Ibuk sedih ketika Lebaran datang. Rani benar-benar ndak bisa memberi sedikit rejeki Rani untuk ibuk, adek-adek, sepupu dan anak-anak yatim itu seperti tahun kemarin. Mungkin lebaran kemarin rejeki kami berdua sedang di atas. Tetapi tidak dengan tahun ini, Buk". Ia memegang tangan ibunya. Bu Yati menatap bola matanya lekat-lekat.
"Nurani, anakku. Tuhan tidak pernah memberikan kehidupan yang tak berarti. Semua ada maksudnya. Roda terus berputar. Kadang di atas kadang di bawah. Mungkin tahun lalu kamu sedang diuji dengan rejeki berlimpah dan tahun ini ujianmu adalah dengan rejeki yang berkurang. Semua adalah ujian, Nduk. Kamu lulus ujian-Nya kemarin. Dengan rejekimu yang melimpah kamu masih ingat ibuk, adik-adikmu, sepupu-sepupumu, anak-anak tetangga yang yatim dan lainnya. Itu artinya kamu bisa menggunakan rejeki yang diberi Tuhan di jalan yang benar. Sekarang ujianmu berbeda. Kamu diuji kesabaranmu dengan rejeki yang berbeda. Tuhan memberikan pelajaran yang penting buatmu, Nak. Tentang bagaimana kamu bersyukur atas segala yang kamu punya", air mata bu Yati menetes seiring kalimatnya yang berakhir.
Nurani menangis. Ia memandang lekat ibunya dan menggenggam jemarinya erat.
"Sudah, bikinkan suamimu kopi. Sebentar lagi bedug magrib. Ibu mau menyiapkan lauk dan nasi di meja". Genggaman itu dilepaskan. Bu Yati menghilang dibalik pintu depan. Ia mengikuti langkah ibunya."Biar Rani saja buk yang menyiapkan. Ibu panggil saja Amir dan Zuhdi. Sudah larut mereka bermain bola", langkahnya tertuju ke arah dapur. Bu Yati berjalan ke arah Nurani, membelai lembut kerudung tipisnya lalu tersenyum. Kemudian ia berbalik ke arah pintu depan. --- Bedug Magrib tiba. Mujair goreng hasil Rijal memancing tampak menggugah selera. Sambal ulek yang diracik khusus oleh Nurani membuat nafsu makan semakin menggelora. Bu Yati tersenyum melihat anak-anaknya berkumpul. "Seandainya Bapakmu masih ada pasti ia bahagia melihat kalian". Mulut Nurani terkunci ketika mendengar ibunya bersuara. Mata-mata lain saling bertatapan lalu akhirnya turun di meja makan. Senja itu tanpa suara, hanya piring yang saling beradu dengan jemari tangan. Selepas Tarawih. "Kamu melamun, dik." Rijal memeluk tubuh isterinya dari belakang. Bulan Separuh sedang bercengkrama dengan bintang. Pasukan awan menyingkir. Langit cerah. "Mas, apa kita harus hutang untuk sangu lebaran?", Nurani bertanya. "Jangan, dik. Berapapun yang kita punya kita harus menerimanya. Ndak baik kita bertopeng. Dari luar kelihatan berduit tapi sebenarnya tidak. Sabar dulu, dik", Rijal menatap lekat mata isterinya. "Maaf, mas. Rani belum bisa membelikan mas Rijal baju untuk lebaran", ia memeluk tubuh suaminya. "Maafkan mas yang belum bisa menjadi Imam terbaik buatmu, dik". Pelukan itu semakin erat.

Nay,
Juni 2016

Jumat, 17 Juni 2016

Benua Biru



“Ya. Suatu saat nanti kanal-kanal itu mengalirkan kedamaian lewat kecipak air bersambut bias rona jingga. Sejenak kau tambatkan gondola ini, lalu kau ajak aku menikmati kelip warna langit Venesia. Dan esok, gondola-gondola itu kan membawa kita kembali berdiri meretas arus dengan dayung kita sendiri, melepaskan segala asa menuju istana Neptunus. Mengabarkan bahwa kita masih dan akan selalu baik-baik saja. Dan, langit biru Adriatik semakin cerah ketika kudapati senyummu mengembang membelah langit, meyakinkanku bahwa tidak ada lagi yang mampu menghalangi segala titah Neptunus. Disaksikan rumah dara raksasa , di sepanjang Venice Canal kau bisikkan dengan tulus, Percayalah”.
---------------------
Mimpi itu kembali mengusik hariku. Eropa dan segala keindahannya seakan bergelayut di sepanjang waktu. Mimpiku untuk segera menginjakkan dua kaki di tanah biru Eropa tak lagi dapat diurungkan. Namun, hanya satu yang selalu ia sampaikan kepadaku, “Sabar, dik. Suatu saat nanti ya”. Dia tidak pernah menjanjikan sesuatu yang lebih untukku. Dia hanya selalu meyakinkan bahwa segalanya dapat dengan mudah terwujud dengan satu hal, sabar. Dia enggan memberiku janji-janji manis.
Beberapa hari ini ada yang tidak beres dengan hatiku. Sebentar-sebentar aku merasa muak dengannya. Ia seakan mengacuhkan segala yang aku mau. Ia hanya diam lalu membalasku dengan senyum.
Hari ini adalah Ulang Tahunku. Mengucapkanpun tidak. Bahkan aku berfikir jika ia sama sekali tidak pernah mengingat peristiwa penting itu. Sepulang dari bekerja ia terlelap dengan cepatnya. Padahal aku telah membayangkan berupa-rupa kejutan yang mungkin saja ia siapkan khusus untukku. Mungkin saja ada seikat lili yang ia taruh di meja rias, atau sekotak cokelat di ranjang, atau bahkan setangkai mawar saja yang ia genggam untukku. Kali ini, aku benar-benar marah. Inikah kesabaran yang selama ini ia sarankan? Sungguh, ini sudah terlampau sabar.
Aku membereskan tas kerjanya sambil menggerutu. Tas kulit hitam itu tak sengaja kujatuhkan ketika kakiku tersandung kursi. Ada sesuatu yang menyembul di kantungnya. Aku membukanya. Dua tiket pesawat ke Eropa.
-----------
Kilatan cahaya di sekitar kaki perkasa itu sangat menentramkan. Malam ini membawaku terbang akan mimpi yang pernah terangkai mesra di benak. Aku masih belum percaya jika kami berdua sedang duduk di bawah angkuhnya kaki eiffel yang menopang jutaan cahaya tinggi di atasnya. Angin semilir menerobos paksa jaket hitam yang sedang kupakai. Pergantian musim kali ini agaknya membuatku sedikit menggigil.
Aku mengamatinya lebih tajam. Kaki itu semakin angkuh menantang langit lepas. Sejenak aku menatap dua bola mata indah di sampingku. Kusandarkan bahu di pundaknya. Aku tatap matanya sekali lagi. Ia tersenyum. “Dik, kamu tahu. Keyakinanmu yang membawa kita sampai di sini hari ini. Aku tidak bisa menjanjikanmu apapun. Aku hanya percaya jika Tuhan menciptakan kesabaran untuk sebuah kemenangan. Selamat Ulang Tahun, dik”. Lalu ia mencium keningku.
Ini bukan hanya sekedar hadiah Ulang Tahun. Ini adalah kejutan terindah yang telah dirancang dengan sangat apik oleh Tuhanku. Dan lelaki yang sedang berada di sampingku saat ini adalah salah satu dari sekian banyak rencana Tuhan untukku.
Tidak banyak kata yang terlontar. Mulut-mulut kami sibuk mensyukuri nikmat Tuhan yang sungguh tak layak jika kami dustakan. Jutaan bintang di atas kami seakan tersenyum. Kota cahaya ini benar-benar memberikan ketentraman. Dari sekian ribu pendaran cahaya di sekitarku hanya ada satu cahaya yang sangat terang, bola matanya, menyejukkan.
-----------
Venesia, suatu pagi.
Setelah menikmati hari-hari berkeliling Paris, kami mengunjungi Venesia. Persis seperti di dalam mimpi, aku melihat deretan Gondola wisata yang siap membawa kami menyusuri kanal. Dengan bahasa perancis yang agak terbata aku menawar harga lalu duduk di ujung. Ia tampak sedang merapikan kaus putihnya lalu duduk di belakangku merentangkan tangan. “Sedang apa?”, tanyaku. Ia hanya tersenyum lalu berkata, “Kanal ini nantinya berujung pada samudera Atlantik. Kamu tahu? Sungai Seine di Paris, Nil di Mesir, Bengawan Solo di Indonesia, entah apapun itu pasti berhenti di samudera. Samudera-samudera itu adalah muara segala sesuatu. Begitupun hidup. Kemanapun langkah kita tertuju, yang pasti muaranya hanya satu. Kamu tahu, muara hidupku adalah kamu. Tentunya dengan petunjuk Tuhanku”. Aku tersenyum. Dara-dara berterbangan di di atasku. Lalu berhenti di sebuah air mancur di seberang. Aku semakin tersenyum.
Riak air mendampingi dayung yang semakin maju dan mundur. Aku berkaca diantara riaknya. Wajahku berbeda. Ada seutas senyum yang menyungging indah di sana. Aku pandang sekali lagi. Ronanya berbeda. Aku bahagia.
-------------------
Kafe de La Monte tampak lengang. Ia memesan secangkir kopi mengepul di udara lalu aku membawa secangkir cokelat panas kearah meja bundar  di ujung kafe. Pembatas kaca membawa mata kami memandang lepas kearah matari pagi. Sinarnya yang hangat membuat kami merasa benar-benar terberkati. Sedikit demi sedikit kepulan hangat ini habis. Tidak ada kata. Kami benar-benar hanyut dalam cangkir masing-masing.
Bagiku bahagia itu sederhana. Menikmati senyumnya yang menyungging lewat bibirnya yang tipis adalah sebuah bahagia. Menatap bola-bola cahaya di matanya bagiku juga bahagia. Namun, aku tidak pernah sebahagia ini. Bukan karena aku berhasil meraih mimpiku untuk mengijakkan kaki di tanah biru, namun ini karenanya. Lelaki yang kini sedang menatap hangat kepulan asap arabica khas de La Monte ini telah mampu meyakinkanku dengan caranya. Ia mampu meyakinkanku akan sebuah ketulusan dan kesabaran. Aku percaya, mimpi dan cita-cita tidak akan pernah berhasil tanpa dukungan, usaha dan pasti kesabaran. Dan bagiku, ia adalah pendukung terhebat yang aku miliki. Ia pelatih kesabaran kelas tinggi. Semangatnyalah yang mampu mengantarkanku menuju gerbang benua biru, gerbang mimpiku.
Ia menatapku. Senyumnya semakin manis. “Setelah ini kita kemana?”, tanyanya. Aku membalasnya dengan antusias. “Istanbul, Turki”.
-----------
Pesawat kami akan tiba di koordinat 41”00’49”LU. Selat Bosporus tampak sibuk dilihat dari udara. Bandara Attaturk tampak lengang. Setelah membereskan bagasi, kami menyewa taksi yang kemudian membawa kami menuju kawasan Sultanahmet. Sepanjang perjalanan yang kami lihat adalah kenangan-kenangan masa lalu. Sisa-sisa kejayaan yang pernah Tuhan berikan masih berdiri kokoh meski nafas Tuhan agaknya telah lepas.
“Apa yang kamu rasakan?”, ia mengacaukan gambaran masa lalu di benakku.
Rasa tenang yang aku rasakan. Sejujurnya aku lebih merasa dekat dengan Tuhan ketika menginjakkan kaki di tempat ini. Tuhan seakan ada lebih dekat denganku. Aku kemudian tersenyum dan menjawab, “It’s really home”.
Ia hanya tersenyum lalu memukul ringan pundakku. “Kecil, Ini hanya pintu gerbang saja. Kamu justru akan lebih dekat dengan Tuhan saat kakimu menginjak Tanah Haram”. Aku berdebat panjang dengannya. Aku tumpahkan segala yang aku tahu. Aku berceramah panjang lebar tentang Byzantium, lalu Konstantinopel. Aku mendongeng bebas tentang Usmaniyah, Ottoman, Mustafa Kemal Attaturk dan berbagai hal. Ia hanya mendengar sambil tersenyum. Terkadang ia jengkel lalu mengacak rambutku yang terurai. “Kecil, dasar kamu. Cerewet”. Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya. Langit Istanbul tersenyum.
Setelah membersihkan diri, aku meninggalkannya sebentar untuk menikmati secangkir cokelat hangat di bawah. Aku ingin ada semacam quality time untuk diriku sendiri. Aku membayangkan apa saja yang aku jalani beberapa hari ini. Pikiranku mengarah kepadanya. Ia yang kini menemaniku berkunjung ke benua biru. Ia yang memberikan hadiah perjalanan istimewa ini di hari ulangtahunku. Ia yang selalu memberiku pelajaran kehidupan. Ia, lelaki yang telah menjadi suamiku.
Dulu, aku selalu meremehkan apa yang ia titahkan. Tak pernah sedikitpun aku membenarkan apa yang ia lakukan. Namun dengan sabar ia memberikan tiga perempat dari nafas hidupnya untukku. Ia membuatku semakin dekat dengan Tuhan. Ia membuatku semakin dekat dengan mimpi dan cita-cita. Lelaki itu, suaranya hanya terdengar seperlunya. Ia lebih banyak diam. Hanya bertindak sebagaimana mestinya.
Aku berjalan keluar penginapan. Di depanku, Menara Blue Mosque terlihat megah. Rancangan Sedefhar Mehmet Aga ini sungguh sangat menggoda mata. Di seberangnya, bekas Gereja Patriarchal Orthodox Cathedral berdiri kokoh. Aku menatapnya lama. Lalu kurentangkan tanganku dan menghadap langit. Mataku terpejam. Aku merasakan kedamaian di hati. Ini adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupku. Inilah mimpi yang selama ini mengganggu pejam mataku. Mimpi lama yang akhirnya terwujud oleh ketulusan kasih. Mimpi yang terwujud oleh kedekatan pada Tuhan. Mimpi yang tergapai oleh kesabaran. Mimpi yang ia wujudkan.
Aku menghela nafas tinggi. Syal yang aku pakai terkibas oleh angin. Mataku terbuka. Langit sangat cerah. Biru yang bercampur putih sangat menentramkan hati. Tuhan memberikan kuasanya berlimpah. “Mana lagi nikmat yang pantas aku dustakan?”, aku bertanya pada diri sendiri, dalam hati.
Sepasang lengan mendarat di pinggangku. Ia sudah berdiri di belakangku. Aku berbalik, mencium lembut tangannya juga keningnya. Ia berkata, “Pada saatnya, kamu akan tahu bahwa setiap jiwa memiliki cara yang berbeda untuk memberikan sebuah kebahagiaan. Dan ini caraku untuk membahagiakanmu. Selamat Ulang Tahun, dik”.
Semilir pagi membawa kedamaian di hati. Tuhan, terima kasih.
Nay,
24 Oktober 2014