Cari Blog Ini

Senin, 19 Desember 2022

Perempuan Bermata Biru, Sebuah Ujian dan Kesehatan Mental

 



https://play.google.com/store/books/details/Perempuan_Bermata_Biru_Penerbit_Novel_Lovrinz?id=Yms4EAAAQBAJ&gl=US



Perempuan Bermata Biru merupakan sebuah novel karya Noura N. Novel ini merupakan buku solo kedua penulis setelah kumpulan cerpen anak, Zahid dan Sepak Bola Api. Novel setebal 208 halaman ini diterbitkan oleh Lovrinz Publishing pada Mei 2021.

Perempuan Bermata Biru berkisah tentang seorang dosen muda bernama Rhein Kusuma. Ia bersama suaminya Gerald Sjarif harus menerima kenyataan jika janin yang sudah lama mereka harapkan ternyata memiliki kelainan pada kromosom 21 sehingga menyebabkan sindrom down. Keadaan ini membuat ibu Gerald tidak terima. Apalagi sejak dokter memberikan diagnosa bahwa perempuan paruh baya itu mengalami mood swing yang berlebih. Ia kerap berhalusinasi dan ingatannya tidak stabil. Hal ini membuat Gerald dihadapkan pada dua hal berat. Pertama, ia harus menjaga mental istrinya dan merawat anaknya yang memiliki kelainan. Kedua, ia harus menjaga mamanya.

Rhein tidak cukup kuat. Ia memutuskan untuk pergi. Ia merasa sanggup merawat bayi itu sendirian daripada mentalnya terus diuji dengan keadaan mertuanya itu. Akhirnya, ia pergi dengan harapan Gerald bisa memperbaiki semuanya dan mengajaknya kembali. Namun, usahanya bertepuk sebelah tangan. Gerald tidak berusaha lebih keras untuk itu.

Ketika Rhein sudah mampu berdiri tegak dengan kakinya sendiri, datanglah Hansel. Mahasiswanya yang menaruh hati padanya. Usia tidak menjadikan pria muda itu menyerah untuk mendapatkan hati Rhein. Setelah hati itu perlahan ia dapatkan, Justru ia menerima sebuah kenyataan yang sulit ia terima.

Perempuan Bermata Biru menceritakan tentang konflik rumah tangga pada umumnya. Hubungan antara suami, menantu dan mertua sangat erat kaitannya dengan keseharian kita. Namun, dengan adanya kelainan pada bayi si tokoh utama serta kesehatan mental pada tokoh ibu Gerald membuat novel ini berbeda dan menarik untuk dibaca. Selain itu, gaya bahasa yang lugas membuat novel ini nyaman dibaca.

Kekurangan dari novel ini adalah pada riset. Penulis agaknya kurang mengadakan riset yang mendalam. Sehingga, ada beberapa bagian yang dirasa kurang greget. Selain itu, beberapa typo masih sering ditemukan. Selamat membaca dan menyelami kisah Rhein Kusuma.



Noura N

19 Desember 2022

Minggu, 31 Januari 2021

Kemana Mencari Istiqomah?

Kemana mencari Istiqomah? Nah, pertanyaan itulah yang kerap mungkin terlintas di benak kita saat menulis. Maksud hati ingin rajin menulis namun apa daya ada saja godaan yang menggoyahkan niat tersebut. Memang sejatinya menulis tidak saja butuh niat dalam hati namun juga upaya keras untuk mewujudkannya.

Dalam KBBI istilah Istiqomah adalah sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Sedangkan dalam Bahasa Arab sendiri Istiqomah diartikan sebagai sesuatu yang lurus, suatu usaha untuk menjaga perbuatan baiknya secara konsisten dan tidak berubah.

Dalam kasus mencari Istiqomah ini, saya merasa ada yang salah dengan niat. Ketika seseorang hanya memiliki niat untuk dikenal bukan karena tulus ikhlas ingin menebar manfaat pada sekitar, maka kesalahan fatal sudah terjadi. Sperti pula jika menulis karena hanya ingin mengejar royalti. Sudah pasti akan lenyap di tengah jalan seiring nominal-nominal yang semakin berputar di angan.

Lantas, apa yang harus dilakukan?
Perbaiki dulu niat. Baru upayakan yang terbaik.

Mari berusaha menjadi baik dan berikan yang terbaik.
Selamat mencari Istiqomah..



Nay
Januari 2021

Kamis, 22 Oktober 2020

CERPEN - PERUT YANG LAPAR


Bukan sebuah masalah jika bang Tri, seorang Preman Pasar Baru, tidak bisa makan sehari-hari karena biasanya ia masih bisa menjarah sisa dagangan para pedagang di sana. Tapi tidak dengan hari ini. Hari dimana pandemi Covid-19 sedang berlangsung. Pasar Baru menjadi bagian dari Zona Merah. Sudah saatnya diberlakukan PSBB. Banyak pedagang yang memilih untuk bekerja dari rumah. Jualan mereka dijual secara online. Mereka bersedia membayar lebih pada kurir asalkan dagangan mereka laku tanpa duduk berjam-jam di pasar. Bang Tri kebingungan. Mendadak ia dipaksa memahami keadaan. Tidak ada satupun setoran dari para penghuni pasar yang sampai di tangannya. Praktis. Virus Corona sangat berdampak pada kehidupannya.

"Sial. Kok ya ndak ada satu dua kios yang buka. Sudah hampir tiga minggu ini aku gak nerima setoran", kata Bang Tri kepada Mang Jana, si Tukang Becak.

"Ampun, Bang. Sedari pagi saya di sini.. ndak ada satupun yang naik becak. Saya ndak bisa bayar sekarang, Bang", timpal Mang Jana.

"Gue gak minta jatah lo hari ini. Gue tahu kita semua lagi susah sekarang"

Bang Tri berlalu dari muka Mang Jana. Ia berjalan sesukanya sembari menendang kerikil-kerikil di jalanan. Slayer kuning yang tadi melingkar di tangan kanannya kemudian ia lepas dan ditaruhnya di saku celana.

Di sisi lain, pak Harun yang baru saja datang mulai membuka kiosnya di sebelah pangkalan becak Mang Jana. Ia terlihat agak pucat.

"Pagi, pak. Kok tumben agak siangan bukanya", sapa Mang Jana.

"Iya, Mang. Badan lagi gak enak. Kata anak-anak plastiknya disuruh jual online saja seperti yang lain. Tapi bapak gak mau. Siapa yang mau beli plastik online. Bapak buka saja kiosnya. Itung-itung menghibur diri sendiri. Bosan di rumah", balas pak Harun.

"Benar, pak. Kalau saya sih lebih ke kebutuhan ya pak. Di suruh di rumah saja tapi kebutuhan dapur harus dipenuhi. Kalau saya ndak narik ya makan apa nanti". Mang Jana berkata kemudian.

"Tapi bersyukurlah juga, Mang. Kamu masih bisa makan kan.. Bukannya kemaren habis dapet sembako gratis ya dari pak kades", sela Pak Harun, si Penjual Plastik.

Mang Jana menjawab, "Iya. AlhamdulIllah. Tapi ya tetap butuh pemasukan, pak. Apalagi sekarang Ramadhan. Anak saya yang di kota ndak bisa pulang. Gak ada yang kasih uang Lebaran. Disuruh pakek apa itu kerening kerening apa itu saya ndak mudheng".

"Rekening maksudnya, Mang?", tanya pak Harun.

"Nah, itu"

Mang Jana manggut-manggut setuju.

Sementara itu, Bang Tri yang masih menghisap rokoknya dalam-dalam kembali berjalan ke arah Mang Jana dan Pak Harun. Ia memandang awan. Menerawang.

"Bang, maaf ya saya ndak bisa setor uang harian. Plastik saya belum laku", kata pak Harun.

"Eh iya. Saya tau kok, Pak. Kita susah semua sekarang". Lamunan Bang Tri ambyar.

"Tapi maaf. Bang Tri gak dapat sembako gratis?", tanya Mang Jana kemudian.

"Saya tidak masuk di KK atau KTP manapun, Mang. Mana bisa dapat jatah bantuan?". Bang Tri membalas dengan malas lalu menendang batu yang lebih besar di depannya. Kemudian ia berjalan ke ujung selatan pasar. Berharap ada satu dua kios yang masih buka dan bersedia membayar setoran.

Sore itu, masjid di samping komplek Pasar Baru sedang mengadakan Kajian Virtual. Hanya ada satu ustadz yang sedang cuap-cuap di depan kamera bersama beberapa orang yang mendampiginya. Bang Tri yang tanpa sengaja lewat di depan masjid tersebut tiba-tiba berhenti. Ia bergumam, "Biasanya ada bagi-bagi takjil di sini. Tapi sekarang sepi"

Lalu, ia melanjutkan perjalanan. Ia berjalan tidak tentu arah. Menahan perutnya yang kelaparan sejak beberapa hari sebelumnya.

Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara sepeda motor yang berhenti mendadak di belakangnya.

"Hei, lo Tri kan?, sapa orang di balik helm hitam itu.

"Sebentar. Bukannya lo Umam? Yang tahun kemaren dipenjara gegara bunuh preman di pasar sebelah?

Bang Tri merasa mengenal laki-laki itu.

Tawa laki-laki itu melengking.

"Rupanya ingatan lo cemerlang juga. Ngapain lo di sini?"

"Nunggu magrib. Kali aja di masjid itu nanti ada bagi-bagi takjil. Gue kayak udah puasa setiap waktu...setiap hari. Gak ada uang buat beli makan. Gak ada yang mau kasih gue makan."

Tawa laki-laki itu melengking kembali.

"Kasihan banget sih Lo. Lo laper? Mending lo ikut gue."

"Kemana?"

"Udah lo ikut aja. Nanti lo pasti tahu sendiri"

Tanpa banyak kata, Bang Tri naik di jok belakang motor N-Max hitam itu. Ia mau saja dibawa kemanapun oleh Umam padahal ia tidak tahu rencana Umam yang sebenarnya. Dalam pikirannya, ia hanya ingin perutnya kenyang.

Di Pos Ronda Desa Kemuning yang sekaligus sebagai Posko Covid-19, beberapa warga berkerumun. Pak Harun, si Penjual Plastik, selaku Ketua RT desa tersebut menghampiri mereka yang tampak ribut sendiri. Tidak seperti pada umumnya, pikir pak Harun.

"Eh ini ada apa ribut-ribut?"

"Eh Pak Harun. Kebetulan ada Bapak di sini. Begini pak.. Baru saja kami mengejar maling. Tapi tidak ketemu." Kata lelaki bercelana pendek.

"Maling? Tarawih-tarawih begini ada maling?"

"Benar, pak. Tokonya pak Sukri ini barusan disatroni Maling, pak", balas lelaki berpeci dengan sarung yang diselempangkan di bahunya.

"Ya, pak Harun. Tadi saya sedang sholat berjamaah dengan anak dan istri saya di ruang tamu. Tiba-tiba kami mendengar suara pukulan keras di pintu toko. Kami melanjutkan tarawih saja. Ketika sampai witir istri saya menengok ke depan dan berteriak. Ternyata pintu belakang toko saya sudah jebol. Istri saya melihat dua orang laki-laki bertubuh besar sedang membawa dua kardus mie instant dan sekarung beras berusaha keluar dari toko saya. Saya keluar dan berusaha mengejarnya. Tapi hanya bisa meraih ini".

Pak Sukri menjelaskan sembari menyerahkan sebuah slayer berwarna kuning kepada pak Harun. Sepertinya pak Harun mengenal kain slayer itu. Namun ia tidak berani berspekulasi.

"Lalu bagaimana dengan kardus mie instant dan berasnya, pak?", tanya pak Harun kemudian.

"Berasnya ditinggal, pak. Mungkin dia takut karena kain slayernya saya ambil. Tapi yang satu larinya gesit sekali. Dua kardus mie instant saya amblas. Ndak apa-apa sih pak saya...wong yang diambil cuma mie instant. Tapi saya agak heran juga. Kenapa maling kok maling mie instant ya pak?"

Pertanyaan pak Sukri diamini juga oleh yang lain.

"Ya sudah. Saya simpan kain slayer ini. Kalian sekarang pulang ke rumah masing-masing. Ingat, physical distancing"

"Baik, pak"

Kerumunan warga itu bubar. Pak Harun kembali ke rumahnya dengan membawa slayer di tangan. Pikirannya hanya ada pada satu nama, Bang Tri. Si Preman Pasar.

Sementara itu, di basecamp preman Pasar Baru, yang merupakan sebuah bekas kios sayuran di bagian ujung belakang pasar, tampak Bang Tri yang duduk ngos-ngosan. Di belakangnya ada Umam yang juga bernafas berat sembari merangkul dua kardus mie instant.

"Lagian lo ngapain ngajak jalan sih? Lebih enak pakai N-Max lo itu"

"Lo capek?" Tawa umam melengking.

"Ya lagian...lo punya motor gedhe juga jelas uang lo ada banyak juga ngapain ngajak gue maling mie instant ama  beras. Gak maling motor aja sekalian"

"Inget lagi ada Corona, Tri. Maling motor mau lo jual kemana? Ini N-Max gue hasil begal di kecamatan sebelah udah dapet tiga mingguan juga gak laku-laku. Biasanya cepet kan gue jual gini-ginian. Gue juga laper bro. Dan mie instant adalah salah satu yang realistis"

Tawa Umam kembali melengking.

"Lo ngapain sih keluar penjara kalo masih mental maling kayak gini"

"Salah siapa coba. Enak-enak gue di dalem penjara segelanya terjamin. Tiba-tiba aja dikeluarin gegara takut corona masuk di penjara. Gak mikir apa...di luar penjara kita-kita bingung juga kan mau makan apa kerja apa orang gak ada yang percaya lagi ama kita. Ya kita maling aja lagi buat nyambung idup". Tawa Umam semakin melengking sekarang.

Bang Tri memikirkan sesuatu. Ada benarnya juga perlataan Umam. Ia merasa dunia ini sedang mengalami bencana yang sangat hebat. Sejujurnya, bencana itu bukan karena Virus itu sendiri. Tetapi lebih kepada moral bangsanya. Jalan pikiran bangsanya sudah di atas normal. Sepuluh persen kapasitas otak dari seratus persen yang diberikan Tuhan kepada manusia digunakan untuk hal-hal di luar nalar.

"Ah, tapi aku benar-benar lapar", batin Bang Tri. "Persetan dengan segala kejahatan yang ada. Ada benarnya juga kata Umam. Kita harus realistis". Bang Tri manggut-manggut sendiri dengan pikirannya.

Esok paginya, pak Harun mengendap ke belakang pasar untuk mencari keberadaan Bang Tri. Ia mendapati sebuah Motor N-Max hitam terparkir di depan bekas kios sayur. Ia mengintip di balik motor besar tersebut. Melalui pintu kios yang agak rusak ia bisa mengamati dua orang di dalam kios sedang tidur pulas. Dengkurannya pun cukup jelas terdengar. Ia mencoba mengintip dari jendela kios. Betapa kagetnya ia karena melihat dua kardus mie instant sedang duduk manis di samping laki-laki bertubuh besar dan bertato naga di pelipis kirinya.

"Bukannya itu Umam?", batin pak Harun. "Bukannya dia dipenjarakan tahun lalu ya? Kenapa bisa di sini sekarang? Dan seorang Umam kenapa maling Mie Instant?". Banyak pertanyaan muncul di dalam benak pak Harun. Ia tidak habis pikir dengan yang telah dilakukan oleh kedua preman yang terkenal luar biasa kejam itu.

Tiba-tiba ia tersandung  sebuah kaleng bekas. Pak Harun jatuh. Kombinasi suara kaleng bekas dan tubuh pak Harun yang membentur tanah sepakat membuat Bang Tri dan Umam serempak bangun. Ia berlari ke depan kios.

Sementara itu, pak Harun yang ketakutan mencoba berdiri ingin kabur. Namun langkahnya tertahan oleh tubuh Umam yang sudah berdiri mematung di sebelah kirinya.

"Ampun...Ampun....".

Pak Harun memohon ampun.

"Ngapain di sini?", tanya Umam dengan suara lantang.

"Maaf saya hanya ingin mengembalikan ini"

Pak Harun menyerahkan slayer berwarna kuning itu kepada Bang Tri. Sementara itu, Bang Tri hanya diam menerima benda itu. Ada semacam wajah ketakutan terlihat dalam diri pak Harun. Namun ada yang lebih menakutkan lagi. Tampang Bang Tri tidak seseram biasanya. Rupanya ia sangat menahan lapar akibat Corona.

Senin, 06 Januari 2020

Anniversary yang Ke Lima

Taraaaa...... udah yang kelima aja nih.... Enggak kerasa ya... Berasa masih kemaren aja Nikahnya. Soalnya anaknya masih umur dua tahun sih yaa...jadinya kayak baru kemaren aja gitu 😊
Terlebih, memang kita berdua masih sama-sama banyak belajar. Biar bisa dibilang "worth it" lah ya....

Perjalanan ini sama sekali enggak mudah. Dari awal nikah udah banyak banget pro kontra yang kita cuma bisa yakin bahwa Tuhan itu lagi bikin skenario buat Drama Kehidupan kita. Jadi slow aja yang penting sampek... 😊

Apa aja sih suka dukanya sampek jalan lima tahun ini? Banyaaaakkk... Mulai dari yang kita dapet kejutan Hamil di tiga bulan pernikahan. Lalu ternyata harus Kuret karena Hamil Kosong atau Blighted Ovum. Sampek kita pernah memutuskan buat gak mau punya anak karena sesuatu hingga akhirnya kita pengen juga punya anak sendiri 😂
Kita yang udah tahan buat tutup kuping yang katanya keguguran karena kecapekan, banyak kerjaan, sibuk cari uang, atau apalah padahal Dokter udah jelas bilang itu Blighted Ovum yg penyebab utamanya adalah pola makan, yg saat itu masih sering berdua curi waktu makan fast food, gila ngopi, soda, apa-apalah yg enggak sehat blas. Tapi balik lagi sih, Tuhan sudah tau kalo saat itu kita belom siap makanya amanahnya diambil lagi. Mungkin kalo kita bisa denger, Tuhan pasti bilang: Sik...ben belajar sik 😂😂😂

Daaaannn....gak tau kenapa ya...perjalanan lima tahun ini rasanya yg paling jadi masalah besar itu adalah tentang "keihklasan". Gimana ya ceritanya... intinya begini, kita hampir sembilan tahun deket meskipun putus nyambung. Kita udah kenyang perihal masalah tentang keuangan, perempuan lain, laki-laki lain, pro kontra keluarga....dan jatohnya kita itu kayak belom bisa ikhlas gitu. Kita bisa memaafkan tapi kita enggak bisa melupakan. Dibilang nyesel enggak juga...Tapi berasa belom ikhlas gt....

Tapi, overall kita tahu...Tuhan itu sekali lagi sedang nulis skenario...sudah ditulis yg kayak begini ini ya dijalani aja. Disyukuri. Dinikmati. Mosok ya Narrative Text itu gak ada Resolusinya. Buktinya setelah Complication kan ada Resolution 😂😂😂



Buat kamu,
I Love You to The Moon and Back
Ayo sama-sama belajar. Doanya aja yang diperkeras lagi.


Nay
06 Januari 2020

Sabtu, 23 November 2019

Bertahan atau Kembali Pulang? - Sebuah Puisi


Aku

Coba kau lihat aku,
Aku rela berdiri menanti
Meski ku tau yang datang adalah tak pasti,
Rela duduk bersama membaui rupa-rupa di dalam angkutan kota.

Ketika kanan kiri saling mencaci,
Menghina karena lelah yang tak sebanding dengan rupiah
Aku tetap bertahan, melajukan langkah yang sama sekali tak goyah

Jujur, pernah pula aku merasakan payah.
Tapi aku malu dengan mimpi yang pernah singgah
Jika boleh aku mengeluh, pasti sudah
Tapi aku tak mau berhenti, karena aku tak mau untuk tak peduli

Aku tak mau
jika harus melihat bibit-bibit yang siap berbuah lebat
Kemudian gugur karena hama yang mengikat
Aku tak tega
Jika banyak calon pemenang masa depan
Harus kalah hanya karena tak ada pendorong perubahan

Dari situlah mimpiku bermula
Mengawal perubahan untuk masa depan gemilang

Tapi,
Jujur akupun sedih
Saat di depan mereka aku tak dianggap apa-apa
Saat kataku hanyalah isapan jempol atau
Bahkan hanya ludah tak berguna yang keluar dari mulut
Sia-sia

Masihkan aku rela
Berdiri berjam-jam untuk menuju sebuah gedung nun jauh di atas gunung
Melewati setapak yang penuh pasir dan kerikil, penuh debu
Menusuk hidung

Masihkah aku rela
Jika yang kuimpikan justru dengan sengaja mengabaikan
Masihkah aku acuh terhadap upah jika sang pemenang masa depan dengan sadarnya
Mengacungkan jari tengah tanda mengajakku perang

Haruskah aku diam,
Berbalik arah dan kembali pulang?


Nay,
23 Nopember 2019
21:47

Jumat, 03 November 2017

Balada Ibuk-Ibuk Muda

Menjadi ibu adalah impian setiap wanita. Katanya, kodrat wanita akan sempurna jika dia bisa hamil dan memiliki anak dari rahimnya sendiri. Namun, banyak di luar sana yang belum seperti demikian. Kali ini, saya tidak akan membahas tentang itu. Tapi saya lebih ingin sharing tentang "Menjadi ibu baru itu bagaimana sih?". Tentunya dengan sudut pandang saya yang juga baru mau tiga bulan jadi ibu.
Jadi begini, beberapa hal yang sering menjadi buah bibir manis para ibuk-ibuk muda yang pertama adalah masalah popok. Ada saja yang berdebat kusir tentang pemakaian popok kain atau yang sekali pakai. Dengan adanya pospak alias popok sekali pakai, maka ibuk-ibuk muda yang "milih gampang"-nya akan dengan pede bilang, "Ah, popok kain mahal. Malas nyucinya. Ndak punya banyak waktu buat nyuci, lha dipakek nyuci bentar aja bocah udah ngerengek minta disusuin. Noda di popok kain susah ilang, ah. Aduh ndak telaten, pospak aja sekali pake buang beres" dan berjuta alasan lainnya. Kalau saya sendiri sih ya bergantung pribadi masing-masing saja. Saya pribadi yang pernah ikut organisasi lingkungan hidup (ciyeee....) cukup paham bagaimana si pospak itu sudah berkontribusi banyak dalam kekumuhan Indonesia. Selain itu, saya yang kerjanya naik angkot, setiap berangkat dan pulang kerja disuguhi dengan pemandangan sampah di kanan kiri jalan yang mayoritas adalah sampah pospak. Nah, saya ndak suka dengan hal tersebut. Jadi saya berusaha meminimkan penggunaan pospak. Lantas apakah dari situ saya no pospak sama sekali? Tidak munafik jika saya juga pengguna pospak. Namun sekali lagi saya tekankan, saya berusaha meminimalisir penggunaan pospak. Sejak pagi sampai jam delapan malam, saya menggunakan popok kain untuk anak saya. Baru kalau saya mau tidur, saya pakaikan pospak. Alasan saya karena pospak sifatnya membuat kering permukaan kulit jadi harapan saya boboknya si kecil nyenyak ndak risih kayak pakek popok kain yang sebentar aja si dia udah minta ganti. Jadi sehari bisa habis hanya dua pospak saja mengingat pee anak saya banyaaak. Intinya, pemakaian pospak atau tidak itu bergantung pribadi masing-masing. No nyiyir satu sama lain.
Nah, kedua. Masalah ASI vs Sufor. Aduuuuh... Ini masalah dari jaman nenek moyang sampek jaman now masih saja dibahas. Memang sih ya ASI is the best milk. Banyak penelitian yang bilang kalo ASI adalah penyumbang terbanyak intelejensi seorang anak. Tapi bukan berarti anak Sufor gak pinter loh. Banyak kok sekeliling saya yang anak Sufor tapi juaranya gak ketulungan. Inget ya, pinter enggaknya anak itu bergantung pada orang tua. Kalo ortunya telaten ngajari anak ya pasti pinter. Kalo bibitnya pinter tapi gak direken sama orang tuanya ya sama aja bohong. Seorang ibu ndak bisa kasih ASI itu karena banyak faktor. Puting kecil lah, kuantitas ASI yang sedikit, harus kerja delapan jam sehari dan bla bla bla lainnya. Enggak ada ibuk-ibuk yang sengaja pengen nelantarin anaknya dengan gak kasih dia ASI. They have they own reason. Jadi buat yang ndak ngerti hidup orang mending ndak usah nyiyir deh. Saya? Alhamdulillah saya bisa kasih ASI anak saya dengan lancar selancar-lancarnya meski pada dua hari pertama ASI saya cuma keluar netes dan balada puting yang keciiil banget. Tapi karena dukungan di sekeliling saya, akhirnya ndak pernah ada kata menyerah. Ya sampek ada drama ditarik sama tabung injeksi lah, si kecil yang sempat kuning lah karena mimiknya kurang, dan apalah. Tapi karena ketelatenan, maka yang begitu-begitu cuma sampek seminggu kok. No lebih. Tanpa sufor? Ah, saya masih membutuhkan itu. Saya bekerja dan saya ndak mungkin pumping ASI karena media penyimpanan yang ndak ada. Saya ndak mau nyusahin yang momong anak saya. Jadi saya beri dia sufor. Hanya saat saya bekerja. Bingung puting? Alhamdulillah ndak. Kalo anak merasa ndak nyaman dan agak bingung, disusuin aja terus. Anak gak akan lupa bau ibuknya, kok. Jadi ndak ada tuh drama anak gak mau nenen dan kecanduan dot gegara bingung puting.
Next, jadi wanita karir atau ibu rumah tangga? Ini nih yang seriiiiiing banget dibikin gosip mulut-mulut tidak bertanggung jawab. Once again, everyone has a certain reason. Jadi ibuk-ibuk pekerja sama jadi fulltime mother itu sama-sama susahnya loh ya. Siapa bilang? Saya. Saya bekerja di sekolah. Kalau pagi saya mengajar di sekolah dan sore di Bimbingan Belajar. Tapi beruntungnya, di Sekolah saya hanya dua hari dalam seminggu dan di BimBel ada jatah sepuluh pertemuan dalam satu bulan. Saya merasakan dua-duanya. Capek? Ya memang capek. But we have to be strong because we want to see such a little smile from our baby. Jadi working mom harus bangun pagi-pagi (yang saya juga sering telat bangun sih...) buat masakin bapaknya, nyuciin popoknya si kecil, mandiin si kecil lalu siap-siap berangkat. Bahkan biasanya malem, pas anak merem saya berusaha menyempatkan buat buka-buka materi mengajar esok harinya. Jadi ibu rumah tangga gimana? Samaaa. Fisik sudah capek. Pikiran tambah capek. Butuh piknik emang iya. Masalah perhatian ibuk ke anaknya? Hello.....gak semua loh ya anaknya ibuk pekerja itu gak diperhatiin. Justru banyak dari mereka yang bisa bikin waktu yang sedikit itu lebih berkualitas. Ndak jarang juga yang pinter-pinter akademik dan non akademiknya. Intinya bukan di rumah atau tidaknya ibu. Tapi di telaten atau tidaknya. So, sekali lagi No Nyinyir.

All in all. Semua bergantung pada pribadi masing-masing. Ndak bisa kita men-judge kita benar dia salah atau sebaliknya. Hidup itu terlalu susah kalo kita bikin buat hebring nyinyirin hidup orang. Dunia itu luas loh... Jalan-jalan dong biar mind-nya opened. Biar ndak seperti katak dalam tempurung. Mulai sekarang, biarkan orang bahagia dengan pilihannya.


Noura N
Ibuk Zahid
3 Nopember 2017
21.57

Jumat, 27 Oktober 2017

Sebuah Kala

Aku panik. Tangisnya tidak terdengar. Di pikiranku saat itu hanya, "dirujuk, dirujuk dan dirujuk". Allah.

 Kamis, 10 Agustus 2017.
Ada darah merembes di kakiku sebelum aku mengambil air wudhu shubuh. Sempat panik tapi aku berusaha tenang karena tidak ada rasa sakit di perut atau di bagian tubuh lainnya. Darah merah muda semakin intens keluar hingga kamis sore aku memutuskan untuk periksa ke bidan. "Pembukaan satu, mbak. Kalau ndak sakit banget perutnya jangan dibawa ke sini dulu", bu Bidan berkata. Aku hanya mengiyakan karena memang aku tidak merasakan sakit yang berarti. Kamis malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Punggung terasa sangat kaku dan perut bawah nyeri.

Jumat pagi, 11 Agustus 2017
Darah itu keluar lagi disertai nyeri di bagian perut bawah. Namun, aku masih menganggapnya biasa karena memang aku pernah merasakan sakit yang lebih sakit dari ini. Menurutku, nyeri kali ini lebih ringan dibanding sakit perut karena dilep setiap kali aku datang bulan. Jam 6 aku ikut jalan sehat desa berharap nyeri itu hilang atau paling tidak membantu pembukaan jalan lahir jika memang sudah waktunya dilahirkan. Setengah jalan aku menyerah karena nafas yang semakin ngos-ngosan dan perut yang semakin nyeri. Namun aku tetap bersikap biasa karena memang sesungguhnya aku sering merasakan dilep yang lebih sakit dari ini. Jumat siang, aku sengaja tidur sebagai pengganti tidur malamku yang kurang. Jumat sore nyeri itu semakin intens, sekitar sepuluh menit sekali. Namun aku masih bersikap biasa. Bahkan aku masih sempat mengunjungi satu kawanku yang baru saja melahirkan. Aku selalu ingat kata bu bidan, "jangan dibawa ke sini kalau belum benar-benar sakit".

Dan, malam itu adalah jawaban atas segala penantian. Ba'da magrib perutku keram total. Rahim seperti diobok-obok, lebih parah dari dilepku selama ini. Namun aku mencoba bertahan. Aku melakukan beberapa gerakan ringan dari senam hamil seperti yang sering aku lakukan sebelumnya. Nyeri semakin parah hingga pukul 19.00 aku tidak kuat. Aku hanya berbaring di kamar dengan sesekali menggigit ujung bantal saat gelombang cinta itu bertransformasi menjadi sakit yang sangat tidak tertahan. Ibuku panik, suamiku apalagi. Tapi aku berusaha tenang. Keluargaku memaksaku untuk segera pergi ke bidan namun aku tetap ingin bertahan. Hingga pukul 20.30 aku menyerah. "Sudah, aku mau ke bidan sekarang".

Di sana, setelah dilakukan VT ternyata sudah pembukaan 4. "Ditunggu di sini ya.. Ndak usah pulang", kata bu Bidan. Karena menurutku antara pembukaan 4 hingga sempurna itu masih membutuhkan waktu yang lama maka aku berusaha tetap tenang meski orang-orang di sekitarku semakin panik. Aku tetap membujuk janin dalam perutku untuk bisa bekerjasama selama proses persalinan nanti. Di depan ruang tindakan, aku berusaha untuk kuat berjalan-jalan, sesekali membungkuk, menungging, sembari berkomunikasi dengan janin di perutku. "Nak, ayo berjuang bareng Ibuk buat bisa lahiran normal. Lihat teman-temanmu yang sudah keluar duluan. Mereka bisa normal. Kita harus bisa". Gelombang cinta itu semakin intens. Tercatat ada tiga kontraksi setiap lima menit. Aku sudah tidak kuat. Pukul 23.00 Bidan membawaku ke ruang tindakan. VT dilakukan lagi dan ternyata sudah pembukaan sempurna. Peralatan disiapkan. Bidan dan asistennya siap menuntunku untuk proses melahirkan. Ibuku menemaniku sembari memegang tanganku erat. Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit rasanya isi perutku semakin ingin turun tapi tertahan. Tarikan nafasku naik turun.

Aku berbisik pada diriku sendiri, "Ayo. Aku Pasti bisa. Ayo, Nak. Kita berjuang bersama". Bu Bidan menuntunku membaca ayat-ayat suci sambil mengajak berpikir positif. Ibuku semakin erat memegang tanganku. Hampir satu jam kepala bayiku keluar masuk. Aku berusaha mengejan dengan sempurna namun terputus. Drama belum selesai. Bu Bidan dan asistennya tetap membaca ayat-ayat suci sembari mendorong perutku. Kontraksi semakin hebat namun nafasku lemah. Aku tetap mensugesti diri sendiri bahwa aku bisa melahirkan dengan normal. Pukul 00.00 aku menyerah. Aku meminta ibuku untuk memanggil suamiku. Aku pikir, dengan bersamanya akan mempermudah buah hati kami menyambut dunia.

Dan, bersama bu Bidan dan asistennya, suamiku diminta membantu mendorong. Tangan kekarnya mendorong perutku dengan kuat. Dua kali kontraksi hebat dan tepat pada pukul 00:15, Sabtu 12 Agustus 2017, bayi laki-laki itu berhasil keluar. Tapi nanti dulu, tidak ada tangis. Sunyi. Suamiku keluar dari ruang tindakan. Dalam hati ia tidak tega, katanya. Pikiranku kacau saat itu. Aku panik. Tangisnya tidak terdengar. Di pikiranku saat itu hanya, "dirujuk, dirujuk dan dirujuk". Allah. Bu Bidan mengangkat bayi merah itu sambil berkata, "Ya Allah, ini yang membuat ibumu kesakitan, Nak. Ini yang membuat kepalamu keluar-masuk cukup lama".

Ya. Bayiku terlilit tali pusar di lehernya. Ada dua lilitan. Tanpa berkata kembali, bu Bidan mengambil tindakan. Segera dibersihkannya bayi merah itu dan memasukkan sejenis selang di mulutnya. Dan, tangis yang kami nantikan hadir. Tangisnya lantang, keras, cukup menggetarkan hatiku. AlhamdulIllah. Aku menangis haru. Tangis ini yang sudah sangat aku nantikan. Setelah semuanya beres Bu Bidan berkata, "AlamdulIllah sehat. Berat 3 kg. Panjang 49 cm. Bayi Laki-laki. Mari IMD dulu".

Ya. Buah cinta kami telah hadir. Ia hadir di usia 31 bulan pernikahan kami, hampir tiga tahun. Suka duka mewarnai perjalanan kami untuk benar-benar bisa yakin, "Ya. Kami siap punya anak". Allah telah menyiapkan waktu yang tepat. Saat inilah waktu itu tiba.

Terimakasih atas segenap doa dan bantuan. Allahlah sang Maha Pembalas dari segala balasan. Amin.

Terimakasih sudah berjuang bersama Ibuk, Nak Ahmad Abroruz Zahidin, Zahid. 12 Agustus 2017. 00:15.