Cari Blog Ini

Minggu, 14 Januari 2024

Novel - All About You (Bagian 2)

 



Bagian 2

Kenyataan Pahit

Hamparan rumput hijau dengan batu nisan berjajar tampak sepanjang mataku. Aku mendorong kursi roda yang diduduki Mama. Nisa berjalan di sampingku dengan menggandeng Abah. Hari ini kami mengunjungi makam Kak Fikri. Mama menangis tersedu sejak awal kami datang hingga selesai berdoa. Cukup lama kami berada di sini hingga Abah mengajak untuk pulang. Namun, aku tetap ingin tinggal. Aku ingin mengenang segala tentang lelaki itu.

“Rayya boleh di sini sebentar?”

Abah mengangguk. Nisa mendorong kursi roda Mama disusul dengan Abah yang berjalan di sampingnya. Mereka kembali ke mobil lebih dulu.

Kupeluk nisan batu bertuliskan nama lelaki itu. Aku tidak percaya jika ternyata aku kuat sampai aku bisa menapakkan kakiku ke tempat ini. Ini adalah kali keduaku kemari. Namun, saat pemakaman itu aku hanya diam di dalam mobil. Aku tidak pernah kuat melangkahkan kaki untuk melihat bagaimana tubuh itu dikebumikan.

“Kak, Rayya kangen. Rayya kangen Kak Fikri.”

Aku tidak bisa berkata apapun lagi selain tangis yang semakin tersedu. Rindu ini benar-benar tidak bisa dihentikan. Pun tak mampu kudefinisikan. Aku benar-benar kehilangan.

Hampir lima belas menit aku duduk di samping pusaranya. Aku memutuskan untuk kembali ke mobil saat Nisa meneleponku.

“Apa?”

Bergegas aku berlari menuju mobil saat kudengar Nisa mengatakan jika Mama tak sadarkan diri ketika hendak masuk ke mobil. Nisa bilang kita harus segera ke rumah sakit.

“Tidak…”

Aku menutup mulut dan memundurkan tubuhku ke dinding saat dokter mengatakan jika Mama tidak tertolong. Nisa berteriak memeluk jasad itu. Abah terpaku di samping ranjang. Aku jatuh terduduk lemas. Tidak mungkin. Hatiku benar-benar berontak.

Abah menghampiriku dan merangkulku untuk mendekat ke jasad Mama. Kakiku tidak cukup kuat untuk menopang badanku yang semakin lemas. Kuusap wajah dan kukecup keningnya. Aku berbisik di telinganya.

“Ma, Bangun. Kita belum jalan-jalan ke Taman Sari seperti yang Mama pernah minta ke Rayya dulu. Kita belum minum Es Dawet Mbah Hari di Bringharjo, Ma. Mama bangun, Ma…” Tangisku pecah. Nisa memelukku. Tuhan, mengapa takdir ini begitu sakit.

###

Hari ini adalah hari ketujuh kepergian Mama. Esok adalah kepulanganku kembali ke Surabaya. Ketika memesan tiket kereta, aku sudah merencanakan untuk menginap selama satu minggu di Kota Gede. Ternyata waktu seminggu itu adalah waktu yang benar-benar disiapkan semesta untukku melepas kepergian Mama. Aku benar-benar terpukul. Dua kali kedatanganku ke Jogja adalah dua hari terkelam dalam hidupku. Apa yang direncanakan Tuhan sehingga aku harus merasakan kehilangan saat aku mendatangi kota ini.

“Jadi berangkat besok, Nduk?” tanya Abah saat aku berkemas di dalam kamar.

Aku mengangguk.

“Abah akan selalu merindukanmu, Nduk. Kamu sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri, bagian dari keluarga ini.”

Lelaki tua itu memelukku erat. Aku paham betul bagaimana ia telah menahan rasa sakit setelah kepergian anak laki-lakinya. Pun sekarang setelah kepergian istrinya. Namun, aku juga paham jika lelaki tua di depanku ini adalah sosok terkuat yang pernah aku temui.

“Jaga diri kamu baik-baik ya, Nduk. Jangan pernah takut untuk datang ke Jogja.”

Nggih, Abah.”

Aku tidak mampu berkata banyak. Tangisku cukup menjawab betapa hatiku sangat berat menghadapi takdir yang begitu pekat.

“Abah juga jaga kesehatan, nggih. Kalau ada apa-apa Abah telepon Rayya.”

“Tenang saja, Nduk. Abah tidak serapuh itu. Abah menyerahkan semua kepada Gusti Allah. Kita semua cuma lakon yang siap kapanpun diambil lagi oleh-Nya.”

Aku memegang erat tangan keriput itu.

“Terimakasih telah menganggap Rayya sebagai bagian dari keluarga ini, Bah.”

Aku mencium kedua tangan yang tampak semakin keriput itu.

Abah meninggalkanku sendirian di dalam kamar. Aku meletakkan pakaian yang sudah kulipat ke dalam koper. Setelah itu, kuambil jaket yang kutaruh di dinding. Aku teringat sesuatu. Kumasukkan tanganku ke dalam saku jaket itu dan kutemukan kertas yang diselipkan Vino untukku. Sebaris nomor telepon.

Aku mengambil ponsel dan menyentuh layarnya untuk menuliskan sebaris nomor itu. Ragu aku memencet tombol panggil. Namun, akhirnya kupencet juga. Beberapa detik nada dering mengalun. Lalu kuputus panggilan itu. Aku memutuskan untuk mengirim pesan saja.

Ini aku, Rayya. Maaf baru menghubungimu sekarang. Bisa ketemu nanti malam jam 7 di Pendopo Lawas?

Hanya beberapa detik pesanku dibalas.

Sure. Sampai ketemu nanti.

Nisa mengantarku dulu ke Pendopo Lawas. Ia akan pergi dengan temannya. Namun, sebelum pergi ia temani aku dulu duduk sebentar sambil menunggu Vino datang.

Laki-laki itu datang dengan jaket hoodie warna abu dan warna jeans senada. Aku melambaikan tangan saat ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia lantas menghampiriku dengan senyum.

“Hei. Udah lama nunggu?”

“Enggak. Masih sebentar kok. Vin, kenalin ini Nisa, adiknya Kak Fikri.”

“Hai. Nisa.”

“Vino. Nice to meet you.”

Nisa membalasnya dengan senyum.

“Ya udah, Mbak. Kak Vino kan udah datang. Nisa pergi dulu ya. Nanti Mbak Rayya telepon Nisa aja kalo udah mau pulang.”

“Makasih ya, Nis.”

Nisa tersenyum, memelukku sebentar lalu pergi.

Aku memesan secangkir cappuccino sedangkan Vino memesan kopi hitam. Setelah meneguk cangkir masing-masing, aku mulai berbicara. Aku merasa jika aku membutuhkan tempat untuk meluapkan tangis. Menyandarkan bahuku ke Nisa, memeluk erat Abah atau menelopon Bunda dan Ayah ternyata belum cukup membuatku kuat untuk menghadapi takdir yang terlalu menyakitkan ini.

“Mama pergi, Vin. Mama meninggal sehari setelah kedatanganku.”

My God! Rayya. Are you okay?”

“Aku ga cukup kuat untuk merasa baik-baik saja, Vin. Dunia ini terlalu jahat buatku. Takdir ini terlalu sakit. Kenapa setiap kali kedatanganku ke sini setiap itu pula harus ada yang pergi? Seburuk itukah aku?”

Aku tidak mampu lagi mengontrol tangis. Vino bangkit dan memelukku.

Stop saying that it’s your fault, Ya. Ini takdir. Kita ga akan pernah bisa melawan takdir.”

Pelukan itu menjadi tempat kutumpahkan segala penat dan sesal di dada. Tidak ada suara, hanya isak tangisku yang tak bisa berhenti. Seketika itu aku sadar pada siapa kubersandar. Aku melepas pelukan itu dan menangkupkan kedua tanganku ke wajah.

“Tapi takdir ini terlalu sakit, Vin. Orang-orang yang aku sayangi selalu pergi ketika aku justru ingin menjemput bahagia bersama mereka.”

“Ya, trust me! Semesta selalu baik dengan rencananya.”

“Apakah takdir ini yang kamu sebut baik, Vin? Tidak.”

Ia meletakkan kedua tanganku di atas meja. Dipegangnya tanganku erat. Bola matanya berhenti tepat di depan mataku.

“Rayya, believe me! It will over soon.”

Aku tidak menjawab.

“Aku pulang ke Surabaya besok. Thanks ya udah nemenin aku selama di Jogja.”

“Keretamu jam berapa besok?”

“Jam 8. Aku diantar Nisa ke stasiun.”

“Aku temenin kamu sampai keretamu jalan, ya?”

“Enggak perlu, Vin. Thanks so much.”

Sepertinya Vino tahu jika aku butuh waktu untuk sendiri. Meski ia berusaha mendekatiku, aku merasa jika ia paham mengapa aku seperti ingin kita berjarak.

“Hubungi aku kalo kamu ada perlu apa-apa, Ya. It’s fine if I can help you.”

“Termasuk kalo aku butuh temen buat ke Aussie?” Tiba-tiba kalimat yang meluncur dari mulutku membuat suasana mencair.

Sure. Itu pasti, Ya.”

Vino menatapku lekat. Terimakasih atas keteduhan mata itu, Vin.

Sabtu, 13 Januari 2024

Novel - All About You (Bagian 1)



Bagian 1

Menjemput Rindu

Deretan rumah penduduk memenuhi sepanjang mataku saat melihat ke arah jendela. Pagi ini Argo Wilis membawaku dari Stasiun Gubeng Surabaya menuju Jogja. Pukul dua belas tepat nanti aku akan sampai di Stasiun Tugu. Kali ini adalah kali kedua aku pergi ke kota pelajar itu pascakelulusanku.

Perjalananku kali ini membutuhkan kekuatan yang lebih. Aku sempat tidak ingin menginjakkan kakiku kembali ke Jogja. Aku marah pada takdir yang telah merenggut kebahagiaanku di kota itu. Namun, perubahan harus muncul dari diriku sendiri. Aku tidak ingin hatiku tersakiti terlalu lama. Aku ingin bernafas lega.

Namaku Rayya. Aku lulus dari salah satu universitas negeri di Jogjakarta dua tahun silam. Setelah wisuda, aku hanya sekali kembali ke kota itu untuk pertemuan dua keluarga. Sekarang aku pergi ke sana untuk sebuah tujuan yang berbeda.

Kondektur memberi informasi jika kereta akan berhenti di stasiun Jombang. Aku merapikan jaketku dan memasang headset. Perjalanan ini masih jauh. Aku ingin tidur sebentar.

Suara laki-laki membangunkanku.

“Permisi, Mbak. Kursi saya 18 B.”

Dengan mata yang masih terpejam aku mengangguk dan membalasnya, “Silakan, Mas.”

Lima belas menit berlalu dan aku terbangun untuk mengambil air mineral di dalam tas. Aku terperanjat saat melihat wajah lelaki yang duduk sebelahku seperti tidak asing. Ia sedang memejamkan mata. Sepertinya ia tertidur pulas.

Air mineral yang kuteguk seharusnya segar. Namun, ia seperti belum mampu menghapus dahagaku. Aku mencoba untuk memejamkan mata sekali lagi tapi ia tidak mau terpejam. Kuedarkan pandangan ke luar jendela. Hamparan sawah nan hijau dan gunung menjulang nun jauh di sana menemani hatiku yang berkecamuk. Lelaki itu, lelaki yang sedang duduk di sebelahku seketika itu juga membuat hatiku seperti diguncang hebat.

“Rayya,” panggilnya sesaat setelah ia terbangun.

“Kamu Rayya, kan?” Ia bertanya sekali lagi.

“Vino? Ini kamu?”

Aku mencoba menutupi kegugupannku dengan senyum.

Lelaki itu memakai kaus berwarna hijau yang dibalut dengan kemeja flannel warna serupa dengan kancing yang dibiarkan terbuka. Ia memakai topi chrocet warna abu dan earbud di telinga. Style celana jeans dan sepatu converse warna hitam putih ini masih sama seperti dulu, saat langkah kaki itu menemaniku menghapus rindu.

“Rayya, apa kabar? Aku gak percaya bisa ketemu kamu di sini. Mau kemana?”

“Jogja. Kamu apa kabar, Vin?”

As what you see.”

Ia tersenyum dan senyumnya masih menawan.

Shit. Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi. Aku kira semua rasa itu sudah selesai. Namun, kenapa hatiku berdebar. Mata itu, bibir itu, sosok itu dengan sekejap mengingatkanku pada jutaan kenangan yang telah lama terkubur dalam.

“Kamu mau kemana, Vin?”

“Sama. Aku tinggal di Jogja sekarang. Kamu? Gimana kuliahmu di Jogja? Udah selesai ya?”

Aku tersentak. Kenapa ia bisa tahu jika aku kuliah di Jogja? Bukankah kita berpisah  saat tahun pertama SMA?

“Kaget? Lupa ya kalau aku sempat follow semua sosmedmu sebelum ada yang blokir aku tiba-tiba.” Ia tertawa.

Aku tersipu. Aku ingat saat itu tahun pertamaku kuliah. Aku sangat terganggu dengan kehadirannya di dunia maya. Kuputuskan untuk memblokir semua akun yang terhubung dengannya. Aku pikir kita berdua sudah selesai.

“Kamu gimana sekarang, Vin? Lagi sibuk apa?”

Aku bertanya untuk mencairkan suasana.

“Pengangguran.” Tawanya renyah.

Aku memicingkan mata lalu membalasnya dengan senyum.

Kereta melaju dengan anganku yang semakin tak tentu arah. Aku mengingat kembali tujuanku pergi ke Jogja adalah untuk menemui kenangan tentangmu, lelaki yang selama empat tahun menemaniku. Namun, dalam perjalananku menemuimu mengapa harus kutemui dirinya, lelaki yang pernah mengisi hatiku saat wangi remaja baru saja kuhirup. Meski hanya satu tahun tapi kenangan itu masih membekas jelas, terlalu indah.

Aku berdiri tepat ketika kereta berhenti. Aku bermaksud mengambil koper yang kutaruh di rak bagasi. Ia langsung berdiri untuk membantuku.

“Ada bagasi? Wait. Aku bantu.”

Aku menunjukkan yang mana koperku dan mengucapkan terima kasih saat koper sudah di tangan. Ponselku berbunyi. Sebuah panggilan dari Nisa.

Aku menerima panggilan itu sembari berjalan ke luar kereta.

“Keretanya baru berhenti. Kamu ndak usah khawatir. Nanti saya langsung ke rumah ya. Siap. Akan saya kabari nanti.”

Lelaki itu masih di belakangku saat aku menutup telepon. Ia kemudian mengajakku duduk di deretan pedagang kaki lima di dalam stasiun. Aku menyelonjorkan kaki sambil memainkan gawai. Sebotol minuman isotonik disodorkannya kepadaku.

“Terimakasih,” jawabku.

“Janjian sama temen?”

“Enggak. Dia ga bisa jemput. Jadi aku pakai grab nanti ke sana.”

“Bareng sama aku aja. Tujuanmu kemana?”

“Kota Gede.”

“Buru-buru atau gimana?”

“Enggak juga, sih. Santai aja.”

“Ikut aku dulu, yuk! Jalan-jalan bentar di Malioboro. Mau?”

Aku terhenyak. Aneh sekali. Setelah bertahun-tahun berpisah dan tidak pernah bertemu atau berhubungan sekalipun dengan mudahnya ia mengajakku jalan. Aku ingin menolak tapi hatiku berontak. Sepertinya ada rindu yang mengetuk hatiku.

Setelah membantuku menitipkan koper di stasiun, ia mengajakku berjalan kaki menyusuri lorong stasiun. Kami menyeberangi rel kereta api menuju arah pedestrian. Lelaki itu sama seperti dulu. Ia selalu ceria dengan lelucon konyol yang dilemparkannya kepadaku. Praktis, aku tidak merasakan lelah sama sekali meski jarak stasiun dan jalan Malioboro cukup memakan waktu dengan berjalan kaki.

“Makan, yuk! Kamu sudah pernah coba nasi gudeg di belakang Pasar Bringharjo?”

Aku menggeleng.

“Yuk!”

Sepiring gudeng menggugah selera sudah di tangan. Perpaduan sayur nangka muda, koyor dan telur rebus berbumbu membuat perutku meronta. Perjalanan kereta yang hampir lima jam ini membuat perutku lapar.

“Oh ya, katanya kamu sekarang tinggal di Jogja. Tinggal Dimana? Udah lama?”

Aku tidak tahan bersamanya tanpa suara.

“Masih setahun ini. Aku tinggal di daerah Sosrowijayan.”

“Oh,” gumamku.

“Kamu sekarang kerja di Surabaya?”

Aku mengangguk. Ia kemudian bercerita. Seperti memahami segala pertanyaan yang masih berputar di otakku.

“Setahun ini aku sama temenku buka usaha kecil-kecilan di daerah Sosrowijayan. Sablon kaos dan sticker gitu. Beberapa hari yang lalu aku pulang ke Jombang buat jenguk ibu.”

“Eh, Ibu apa kabar? Lama ya ga denger suara ibu.”

“Baik. Kangen kamu katanya.”

Aku tertawa. Tidak mungkin. Bertemu dengan perempuan yang ia panggil ibu itu saja aku tidak pernah. Hanya mengobrol via telepon. Dulu, masih jaman wartel lelaki itu selalu memaksaku mengobrol dengan ibunya. Ah, lelaki itu memang pintar membuatku tersipu.

“Sebenarnya tiap pulang ke Jombang aku ga pernah naik kereta loh, Ya.”

“Naik apa? Vespa?” Aku tertawa. Spontan aku menyebut kata vespa karena memang sejak SMP Vino menyukai jenis kendaraan itu.’

“Bener banget. Ga tau kenapa kemaren males aja. Jadi berangkat sama balik pesen tiket kereta sekalian. Ternyata semua ini ulah semesta ya, Ya. Kenapa bisa banget aku pesen tiket yang pas kamu juga ada di sana. Eh dapet bonus kursinya kita sebelahan. Semesta emang baik banget ngaturnya.” Kami berdua tertawa lepas. Lepas sekali.

“Oh ya, kamu udah nikah?”

Pertanyaannya membuatku kaget. Segera kuteguk botol air mineral di sebelahku.

“Belum.” Aku menjawab singkat.

Setelah itu, tidak ada suara satupun. Aku melanjutkan makan hingga sendok terakhir. Setelah mengelap mulutku dengan tisu, aku memutuskan untuk menceritakan tujuan kedatanganku ke Jogja.

“Waktu kuliah, aku dekat sama kakak tingkat. Dia asli Jogja. Setelah wisuda, dia memutuskan untuk melamarku. Keluarganya pergi ke Surabaya. Beberapa bulan setelah itu, keluargaku ke Jogja untuk membahas lebih jauh rencana pernikahan kami. Tapi takdir berkata lain. Saat ia menjemput kami di stasiun, mobilnya mengalami kecelakaan. Beberapa jam setelahnya, ia dinyatakan meninggal.”

Vino diam. Ia menatapku tajam.

“Aku marah pada kenyataan. Aku datang untuk menjemput masa depan tapi Tuhan justru mengambilnya duluan. Ironis ya. Pasca kejadian itu, aku ga pernah mau pergi ke Jogja. Jogja itu udah kayak mimpi buruk buat aku.” Aku tersenyum kecut.

I am sorry to hear that. Lalu sekarang kamu ke sini? Udah kuat?”

“Harus.” Aku tersenyum.

“Mamanya Kak Fikri sakit. Beliau pengen ketemu aku. Kata Nisa, Mama cariin aku, panggil-panggil aku terus. Yang tadi telepon aku itu Nisa, adiknya Kak Fikri. Aku harus kuat buat ketemu Mama. Mama butuh banget aku di sana. Aku ga boleh egois. Aku harus bisa mengalahkan sakit hatiku pada keadaan. Mama sudah kehilangan Kak Fikri, anak laki-laki satu-satunya. Bagi Mama, melihatku sama dengan melihat Kak Fikri,” lanjutku.

“Oh ya, kamu sendiri gimana? Anak kamu udah kelas berapa sekarang?”

Pertanyaan yang seperti tercekat di tenggorokan itu akhirnya keluar. Aku ingat bagaimana kami berpisah. Kami bersama saat kelas tiga SMP. Kemudian kami lulus dan berbeda SMA. Saat itu, aku mendapat kabar jika ia harus berhenti sekolah karena suatu hal yang membuatku membencinya.

We are divorced. Cuma dua tahun kami menikah, Ya. Kami cerai setelah anak kami meninggal karena suatu penyakit. Aku belum punya cukup biaya untuk pengobatannya.”

“Oh.” Aku tidak berkomentar apapun.

“Siapa sih Ya yang mau punya suami pengangguran, enggak well-educated. Cuma lulusan SMP dan ga punya kerjaan tetap. Ya udah kalau perceraian itu yang terbaik. Dia udah nikah lagi sekarang. Sedangkan aku masih gini-gini aja.” Vino tertawa.

“Pasca perceraian itu. Aku ke Jogja. Tujuanku mau ketemu kamu. Itulah kenapa aku resek ke kamu via sosmed. Eh, tahu-tahu aku diblok.”

Kami berdua tertawa.

“Setelah itu ada yang ngajak aku ke Aussie. Aku kerja di sana. Cuma kerja kasar, sih. Tapi cukup buat kirim uang bulanan ke Ibu dan makan sehari-hari.”

“Oh, jadi itu kenapa dari tadi ngomongnya pakai inggris-inggris terus.” Aku mendorong bahunya. “Keren dong ya udah ke luar negeri. Naik pesawat. Aku aja masih belom pernah ke luar negeri,” lanjutku.

“Mau ke luar negeri? Sama aku? Yuk!”

Aku mendorong bahunya sekali lagi.

“Main ke toko, Yuk! Aku kenalin kamu ke temen-temen aku. Mau?” ajaknya.

“Boleh.”

###

“Hallo. Nisa, saya sampai rumah sepertinya sore. Saya masih ketemu temen. Enggak usah. Nanti saya balik ke stasiun lagi. Koper masih di stasiun. Ndak usah repot-repot, Nis. Oh gitu.. Ya udah deh. Nanti saya kabari kalau sudah di stasiun.” Panggilan dari Nisa aku tutup.

Kuedarkan mataku ke sekeliling. Toko yang bagiku seperti sebuah galeri ini cukup artistik. Bangunannya berlantai dua dan cukup luas. Di lantai bawah, ruang depan dan belakang disekat dengan dinding kaca. Pengunjung bisa melihat display kaus di ruang depan dan proses sablon kaus di ruang belakang dapat dilihat dari dinding kaca itu.

“Ke atas, Yuk!” ajak Vino.

Ruangan di atas dibagi beberapa sekat. Dari arah tangga, pengunjung bisa melihat berbagai kegiatan mulai dari cutting sticker hingga jadi. Ada semacam balkon yang berisi meja kursi dengan hiasan lampu artistik di atasnya. Lebih ke dalam lagi, ada ruangan-ruangan kecil dan kamar mandi. Sepertinya ruangan itu adalah tempat istirahat untuk karyawan.

“Kamu tinggal di sini?” tanyaku saat memasuki ruangan persegi itu. Ada kasur lantai dan sebuah lemari kayu. Ada meja kecil dan laptop di atasnya.

Vino mengangguk.

“Ya bisa dibilang aku dan satu temanku ini penanam saham utama. Jadi kami berdua berhak tinggal di sini.”

“Oh, CEO Perusahaan Sablon sepertinya.” Aku tertawa. “Bercanda, Vin.”

“Tidak apa-apa, Ya. Paling tidak sekarang aku punya modal untuk bisa aku banggakan di depan orang lain. Dulu, siapa yang mau punya temen kayak aku. SMA harus putus sekolah karena menghamili anak orang. Menikah dan diberi cobaan dengan penyakit yang diderita anakku, Ya. Anakku cerebral palsy. Hanya bertahan dua tahun lalu meninggal. Aku bekerja serabutan dengan hanya mengandalkan ijazah SMP. Lebih ironis mana hidupku sama hidupmu, Ya?” Vino tetap tersenyum. Aku tahu senyumnya adalah satu-satunya alat untuk membuatnya bertahan dengan segala keadaan.

Vino, lelaki itu. Kami satu SMP. Ibunya menitipkannya di rumah tantenya di Surabaya. Ayahnya sudah berpulang saat ia TK. Hidupnya sudah berat. Masa sekolah dasarnya ia gunakan untuk membantu ibunya berjualan di pasar. Lelaki itu telah kenyang asam garam kehidupan di usianya yang masih belia. Maka tidak heran jika masa SMP daya pikirnya sudah jauh di atas usia sebayanya. Kami bersama saat kelas tiga SMP. Bukan pacaran tapi lebih ke sahabat dekat. Saat SMA, kami masih di kota yang sama tapi berbeda sekolah. Disitulah kebersamaan kami berkurang hingga akhirnya aku mendengar kabar itu. Kabar yang benar-benar membuatku muak jika aku pernah bersahabat dan menaruh rasa kepadanya.

“Duduk, Ya. Aku ambilkan minum.”

Ia mengambil sebotol air mineral dingin dari lemari pendingin yang berada di dekat pintu balkon. Dari balkon tersebut ada tangga luar yang terhubung dengan teras toko. Jadi pengunjung bisa menikmati pemandangan dari atas balkon dengan menaiki dua tangga, dari dalam dan luar toko. Biasanya pengunjung menunggu pesanan dengan duduk di sana atau sekadar duduk santai menikmati langit sore Jogja.

“Nanti aku antar ke stasiun ya, Ya. Nisa jemput kamu jam berapa?”

“Jam 4 katanya.”

“Mau naik vespa? Aku belum punya mobil, Ya.”

Aku tersenyum dan mengangguk.

###

“Mbak Rayya…”

Nisa memanggil dan melambaikan tangan ke arahku. Bergegas aku menuju perempuan berkerudung warna salem yang berdiri di sebelah Honda Brio berwarna abu. Kutengok sebentar lelaki di sebelahku ini dan kujabat tangannya.

Nice to meet you, Vin. Semoga kita bisa bertemu kembali.”

“Pasti, Ya. Semesta akan mengatur segalanya.” Ia menjabat tanganku erat. Diselipkannya kertas kecil di sana. Sebaris nomor telepon.

Aku memeluk Nisa. Ia sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Takdirku yang menjadi anak tunggal membuatku tidak mengerti bagaimana rasanya punya kakak dan adik. Dari Kak Fikri dan Nisa aku mampu merasakan itu semua. Kak Fikri dan Nisa adalah dua bersaudara. Bagi keluarga mereka, aku seperti anak tengah. Empat tahun bersama kak Fikri adalah empat tahun terindah aku bersama keuarga itu.

“Teman kuliah, Mbak?” tanya Nisa.

“Bukan. Teman SMP. Ketemu di kereta. Kebetulan tinggal di Jogja sekarang. Semuanya baik-baik saja kan, Nis?”

“Seperti yang selama ini Nisa ceritakan, Mbak. Mama benar-benar terpukul. Abah sudah tidak tahu lagi harus membawa Mama berobat kemana. Terkadang Mama bisa baik banget. Kadang bisa marah-marah ndak jelas dan suka lempar-lempar barang di kamar. Beberapa hari ini Mama cuma bisa berbaring di ranjang. Mama sering tidur. Dalam tidurnya, Mama suka mengigau. Dan nama yang sering ia sebut dalam tidurnya hanya nama Mbak Rayya.”

Aku terpukul. Aku tahu betapa Mama sangat menginginkan pernikahan ini. Kata Mama, memiliki aku sebagai menantunya adalah anugerah. Aku tak tahu apa alasannya. Menurutku, aku adalah perempuan biasa dan sikapku juga biasa. Namun, mereka sangat baik kepadaku. Pun dengan Kak Fikri, Bunda dan Ayah sangat mencintai Kak Fikri. Mereka sangat percaya jika Kak Fikri adalah lelaki yang tepat untukku.

Mobil masuk ke dalam pagar kayu berwarna cokelat. Di dalam pagar itu, halaman berumput tampak luas. Sebuah bangunan kayu jati berbentuk joglo dengan arsitektur jawa kuno berdiri kokoh di tengah halaman itu. Mbok Darmi, perempuan paruh baya yang mengabdi di rumah ini menghampiri kami yang baru saja turun dari mobil.

“Mbak Rayya, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu nggih, Mbak,” sapa Mbok Darmi.

Nggih, Mbok. Sehat, Mbok?”

“Alhamdulillah sehat, Mbak.”

Mbok Darmi mengangkat koperku ke dalam. Nisa menmpersilakanku masuk ke dalam rumah. Silakan istirahat dulu, Mbak. Bersih-bersih dulu. Sambil nunggu Abah pulang. Nanti jam makan malam kita ketemu di ruang makan ya. Baru nanti kita ke kamarnya Mama.

Aku mengangguk. Nisa membawaku ke kamar ini. Ini adalah kamar milik Kak Fikri. Membuka pintunya, dadaku terisak. Ada udara yang menguar masuk menerobos relung hatiku yang paling dalam. Kebersamaan selama empat tahun itu tidaklah sebentar. Kuhampiri ranjang kayu dengan sprei putih itu. Kuambil sebuah pigura kecil di atas nakas. Ada foto kami di dalamnya, saat kami berdua sedang menikmati kokohnya Candi Prambaban. Air mataku menets. Aku ingat bagaimana Kak Fikri berjanji kepadaku untuk segera meminangku selepas aku lulus kuliah. Katanya, cintanya terlalu kokoh seperti kokohnya candi. Aku tersenyum. Namun, senyum itu tak mampu melawan tangisku yang semakin menjadi. Aku rindu. Rindu yang teramat sendu.

###

“Sehat, Nduk?”

Abah berdiri menyambutku yang baru saja keluar kamar.

Sae, Bah. Njenengan?”

Apik. Lungguh, Nduk!”

Abah mempersilakan aku duduk.

“Keluarga kabeh sehat yo, Nduk?”

Nggih, Bah. Alhamdulillah.”

“Silakan dimakan, Mbak. Kita ke kamar Mama setelah ini,” pinta Nisa.

Ruangan itu harum. Mama suka meletakkan aroma therapy dengan wangi mawar di ujung kamar. Mama tidur pulas. Nisa membangunkannya karena sudah waktunya makan.

“Ma, bangun, Yuk! Makan dulu, ya. Lihat Nisa sama siapa?”

Mama membuka mata. Nisa membantunya duduk bersandar dengan bantal di belakangnya.

“Rayya… Ini kamu, Nduk?”

Nggih, Ma. Mama sehat?”

Aku tak kuasa membendung air mata. Mama memelukku erat. Hangat yang kurasakan semakin membuatku teriris. Kerinduan yang membuncah itu kini melebur jadi satu. Aku seperti melihat senyum Kak Fikri di antara pelupuk mataku.


Senin, 19 Desember 2022

Perempuan Bermata Biru, Sebuah Ujian dan Kesehatan Mental

 



https://play.google.com/store/books/details/Perempuan_Bermata_Biru_Penerbit_Novel_Lovrinz?id=Yms4EAAAQBAJ&gl=US



Perempuan Bermata Biru merupakan sebuah novel karya Noura N. Novel ini merupakan buku solo kedua penulis setelah kumpulan cerpen anak, Zahid dan Sepak Bola Api. Novel setebal 208 halaman ini diterbitkan oleh Lovrinz Publishing pada Mei 2021.

Perempuan Bermata Biru berkisah tentang seorang dosen muda bernama Rhein Kusuma. Ia bersama suaminya Gerald Sjarif harus menerima kenyataan jika janin yang sudah lama mereka harapkan ternyata memiliki kelainan pada kromosom 21 sehingga menyebabkan sindrom down. Keadaan ini membuat ibu Gerald tidak terima. Apalagi sejak dokter memberikan diagnosa bahwa perempuan paruh baya itu mengalami mood swing yang berlebih. Ia kerap berhalusinasi dan ingatannya tidak stabil. Hal ini membuat Gerald dihadapkan pada dua hal berat. Pertama, ia harus menjaga mental istrinya dan merawat anaknya yang memiliki kelainan. Kedua, ia harus menjaga mamanya.

Rhein tidak cukup kuat. Ia memutuskan untuk pergi. Ia merasa sanggup merawat bayi itu sendirian daripada mentalnya terus diuji dengan keadaan mertuanya itu. Akhirnya, ia pergi dengan harapan Gerald bisa memperbaiki semuanya dan mengajaknya kembali. Namun, usahanya bertepuk sebelah tangan. Gerald tidak berusaha lebih keras untuk itu.

Ketika Rhein sudah mampu berdiri tegak dengan kakinya sendiri, datanglah Hansel. Mahasiswanya yang menaruh hati padanya. Usia tidak menjadikan pria muda itu menyerah untuk mendapatkan hati Rhein. Setelah hati itu perlahan ia dapatkan, Justru ia menerima sebuah kenyataan yang sulit ia terima.

Perempuan Bermata Biru menceritakan tentang konflik rumah tangga pada umumnya. Hubungan antara suami, menantu dan mertua sangat erat kaitannya dengan keseharian kita. Namun, dengan adanya kelainan pada bayi si tokoh utama serta kesehatan mental pada tokoh ibu Gerald membuat novel ini berbeda dan menarik untuk dibaca. Selain itu, gaya bahasa yang lugas membuat novel ini nyaman dibaca.

Kekurangan dari novel ini adalah pada riset. Penulis agaknya kurang mengadakan riset yang mendalam. Sehingga, ada beberapa bagian yang dirasa kurang greget. Selain itu, beberapa typo masih sering ditemukan. Selamat membaca dan menyelami kisah Rhein Kusuma.



Noura N

19 Desember 2022

Minggu, 31 Januari 2021

Kemana Mencari Istiqomah?

Kemana mencari Istiqomah? Nah, pertanyaan itulah yang kerap mungkin terlintas di benak kita saat menulis. Maksud hati ingin rajin menulis namun apa daya ada saja godaan yang menggoyahkan niat tersebut. Memang sejatinya menulis tidak saja butuh niat dalam hati namun juga upaya keras untuk mewujudkannya.

Dalam KBBI istilah Istiqomah adalah sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Sedangkan dalam Bahasa Arab sendiri Istiqomah diartikan sebagai sesuatu yang lurus, suatu usaha untuk menjaga perbuatan baiknya secara konsisten dan tidak berubah.

Dalam kasus mencari Istiqomah ini, saya merasa ada yang salah dengan niat. Ketika seseorang hanya memiliki niat untuk dikenal bukan karena tulus ikhlas ingin menebar manfaat pada sekitar, maka kesalahan fatal sudah terjadi. Sperti pula jika menulis karena hanya ingin mengejar royalti. Sudah pasti akan lenyap di tengah jalan seiring nominal-nominal yang semakin berputar di angan.

Lantas, apa yang harus dilakukan?
Perbaiki dulu niat. Baru upayakan yang terbaik.

Mari berusaha menjadi baik dan berikan yang terbaik.
Selamat mencari Istiqomah..



Nay
Januari 2021

Kamis, 22 Oktober 2020

CERPEN - PERUT YANG LAPAR


Bukan sebuah masalah jika bang Tri, seorang Preman Pasar Baru, tidak bisa makan sehari-hari karena biasanya ia masih bisa menjarah sisa dagangan para pedagang di sana. Tapi tidak dengan hari ini. Hari dimana pandemi Covid-19 sedang berlangsung. Pasar Baru menjadi bagian dari Zona Merah. Sudah saatnya diberlakukan PSBB. Banyak pedagang yang memilih untuk bekerja dari rumah. Jualan mereka dijual secara online. Mereka bersedia membayar lebih pada kurir asalkan dagangan mereka laku tanpa duduk berjam-jam di pasar. Bang Tri kebingungan. Mendadak ia dipaksa memahami keadaan. Tidak ada satupun setoran dari para penghuni pasar yang sampai di tangannya. Praktis. Virus Corona sangat berdampak pada kehidupannya.

"Sial. Kok ya ndak ada satu dua kios yang buka. Sudah hampir tiga minggu ini aku gak nerima setoran", kata Bang Tri kepada Mang Jana, si Tukang Becak.

"Ampun, Bang. Sedari pagi saya di sini.. ndak ada satupun yang naik becak. Saya ndak bisa bayar sekarang, Bang", timpal Mang Jana.

"Gue gak minta jatah lo hari ini. Gue tahu kita semua lagi susah sekarang"

Bang Tri berlalu dari muka Mang Jana. Ia berjalan sesukanya sembari menendang kerikil-kerikil di jalanan. Slayer kuning yang tadi melingkar di tangan kanannya kemudian ia lepas dan ditaruhnya di saku celana.

Di sisi lain, pak Harun yang baru saja datang mulai membuka kiosnya di sebelah pangkalan becak Mang Jana. Ia terlihat agak pucat.

"Pagi, pak. Kok tumben agak siangan bukanya", sapa Mang Jana.

"Iya, Mang. Badan lagi gak enak. Kata anak-anak plastiknya disuruh jual online saja seperti yang lain. Tapi bapak gak mau. Siapa yang mau beli plastik online. Bapak buka saja kiosnya. Itung-itung menghibur diri sendiri. Bosan di rumah", balas pak Harun.

"Benar, pak. Kalau saya sih lebih ke kebutuhan ya pak. Di suruh di rumah saja tapi kebutuhan dapur harus dipenuhi. Kalau saya ndak narik ya makan apa nanti". Mang Jana berkata kemudian.

"Tapi bersyukurlah juga, Mang. Kamu masih bisa makan kan.. Bukannya kemaren habis dapet sembako gratis ya dari pak kades", sela Pak Harun, si Penjual Plastik.

Mang Jana menjawab, "Iya. AlhamdulIllah. Tapi ya tetap butuh pemasukan, pak. Apalagi sekarang Ramadhan. Anak saya yang di kota ndak bisa pulang. Gak ada yang kasih uang Lebaran. Disuruh pakek apa itu kerening kerening apa itu saya ndak mudheng".

"Rekening maksudnya, Mang?", tanya pak Harun.

"Nah, itu"

Mang Jana manggut-manggut setuju.

Sementara itu, Bang Tri yang masih menghisap rokoknya dalam-dalam kembali berjalan ke arah Mang Jana dan Pak Harun. Ia memandang awan. Menerawang.

"Bang, maaf ya saya ndak bisa setor uang harian. Plastik saya belum laku", kata pak Harun.

"Eh iya. Saya tau kok, Pak. Kita susah semua sekarang". Lamunan Bang Tri ambyar.

"Tapi maaf. Bang Tri gak dapat sembako gratis?", tanya Mang Jana kemudian.

"Saya tidak masuk di KK atau KTP manapun, Mang. Mana bisa dapat jatah bantuan?". Bang Tri membalas dengan malas lalu menendang batu yang lebih besar di depannya. Kemudian ia berjalan ke ujung selatan pasar. Berharap ada satu dua kios yang masih buka dan bersedia membayar setoran.

Sore itu, masjid di samping komplek Pasar Baru sedang mengadakan Kajian Virtual. Hanya ada satu ustadz yang sedang cuap-cuap di depan kamera bersama beberapa orang yang mendampiginya. Bang Tri yang tanpa sengaja lewat di depan masjid tersebut tiba-tiba berhenti. Ia bergumam, "Biasanya ada bagi-bagi takjil di sini. Tapi sekarang sepi"

Lalu, ia melanjutkan perjalanan. Ia berjalan tidak tentu arah. Menahan perutnya yang kelaparan sejak beberapa hari sebelumnya.

Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara sepeda motor yang berhenti mendadak di belakangnya.

"Hei, lo Tri kan?, sapa orang di balik helm hitam itu.

"Sebentar. Bukannya lo Umam? Yang tahun kemaren dipenjara gegara bunuh preman di pasar sebelah?

Bang Tri merasa mengenal laki-laki itu.

Tawa laki-laki itu melengking.

"Rupanya ingatan lo cemerlang juga. Ngapain lo di sini?"

"Nunggu magrib. Kali aja di masjid itu nanti ada bagi-bagi takjil. Gue kayak udah puasa setiap waktu...setiap hari. Gak ada uang buat beli makan. Gak ada yang mau kasih gue makan."

Tawa laki-laki itu melengking kembali.

"Kasihan banget sih Lo. Lo laper? Mending lo ikut gue."

"Kemana?"

"Udah lo ikut aja. Nanti lo pasti tahu sendiri"

Tanpa banyak kata, Bang Tri naik di jok belakang motor N-Max hitam itu. Ia mau saja dibawa kemanapun oleh Umam padahal ia tidak tahu rencana Umam yang sebenarnya. Dalam pikirannya, ia hanya ingin perutnya kenyang.

Di Pos Ronda Desa Kemuning yang sekaligus sebagai Posko Covid-19, beberapa warga berkerumun. Pak Harun, si Penjual Plastik, selaku Ketua RT desa tersebut menghampiri mereka yang tampak ribut sendiri. Tidak seperti pada umumnya, pikir pak Harun.

"Eh ini ada apa ribut-ribut?"

"Eh Pak Harun. Kebetulan ada Bapak di sini. Begini pak.. Baru saja kami mengejar maling. Tapi tidak ketemu." Kata lelaki bercelana pendek.

"Maling? Tarawih-tarawih begini ada maling?"

"Benar, pak. Tokonya pak Sukri ini barusan disatroni Maling, pak", balas lelaki berpeci dengan sarung yang diselempangkan di bahunya.

"Ya, pak Harun. Tadi saya sedang sholat berjamaah dengan anak dan istri saya di ruang tamu. Tiba-tiba kami mendengar suara pukulan keras di pintu toko. Kami melanjutkan tarawih saja. Ketika sampai witir istri saya menengok ke depan dan berteriak. Ternyata pintu belakang toko saya sudah jebol. Istri saya melihat dua orang laki-laki bertubuh besar sedang membawa dua kardus mie instant dan sekarung beras berusaha keluar dari toko saya. Saya keluar dan berusaha mengejarnya. Tapi hanya bisa meraih ini".

Pak Sukri menjelaskan sembari menyerahkan sebuah slayer berwarna kuning kepada pak Harun. Sepertinya pak Harun mengenal kain slayer itu. Namun ia tidak berani berspekulasi.

"Lalu bagaimana dengan kardus mie instant dan berasnya, pak?", tanya pak Harun kemudian.

"Berasnya ditinggal, pak. Mungkin dia takut karena kain slayernya saya ambil. Tapi yang satu larinya gesit sekali. Dua kardus mie instant saya amblas. Ndak apa-apa sih pak saya...wong yang diambil cuma mie instant. Tapi saya agak heran juga. Kenapa maling kok maling mie instant ya pak?"

Pertanyaan pak Sukri diamini juga oleh yang lain.

"Ya sudah. Saya simpan kain slayer ini. Kalian sekarang pulang ke rumah masing-masing. Ingat, physical distancing"

"Baik, pak"

Kerumunan warga itu bubar. Pak Harun kembali ke rumahnya dengan membawa slayer di tangan. Pikirannya hanya ada pada satu nama, Bang Tri. Si Preman Pasar.

Sementara itu, di basecamp preman Pasar Baru, yang merupakan sebuah bekas kios sayuran di bagian ujung belakang pasar, tampak Bang Tri yang duduk ngos-ngosan. Di belakangnya ada Umam yang juga bernafas berat sembari merangkul dua kardus mie instant.

"Lagian lo ngapain ngajak jalan sih? Lebih enak pakai N-Max lo itu"

"Lo capek?" Tawa umam melengking.

"Ya lagian...lo punya motor gedhe juga jelas uang lo ada banyak juga ngapain ngajak gue maling mie instant ama  beras. Gak maling motor aja sekalian"

"Inget lagi ada Corona, Tri. Maling motor mau lo jual kemana? Ini N-Max gue hasil begal di kecamatan sebelah udah dapet tiga mingguan juga gak laku-laku. Biasanya cepet kan gue jual gini-ginian. Gue juga laper bro. Dan mie instant adalah salah satu yang realistis"

Tawa Umam kembali melengking.

"Lo ngapain sih keluar penjara kalo masih mental maling kayak gini"

"Salah siapa coba. Enak-enak gue di dalem penjara segelanya terjamin. Tiba-tiba aja dikeluarin gegara takut corona masuk di penjara. Gak mikir apa...di luar penjara kita-kita bingung juga kan mau makan apa kerja apa orang gak ada yang percaya lagi ama kita. Ya kita maling aja lagi buat nyambung idup". Tawa Umam semakin melengking sekarang.

Bang Tri memikirkan sesuatu. Ada benarnya juga perlataan Umam. Ia merasa dunia ini sedang mengalami bencana yang sangat hebat. Sejujurnya, bencana itu bukan karena Virus itu sendiri. Tetapi lebih kepada moral bangsanya. Jalan pikiran bangsanya sudah di atas normal. Sepuluh persen kapasitas otak dari seratus persen yang diberikan Tuhan kepada manusia digunakan untuk hal-hal di luar nalar.

"Ah, tapi aku benar-benar lapar", batin Bang Tri. "Persetan dengan segala kejahatan yang ada. Ada benarnya juga kata Umam. Kita harus realistis". Bang Tri manggut-manggut sendiri dengan pikirannya.

Esok paginya, pak Harun mengendap ke belakang pasar untuk mencari keberadaan Bang Tri. Ia mendapati sebuah Motor N-Max hitam terparkir di depan bekas kios sayur. Ia mengintip di balik motor besar tersebut. Melalui pintu kios yang agak rusak ia bisa mengamati dua orang di dalam kios sedang tidur pulas. Dengkurannya pun cukup jelas terdengar. Ia mencoba mengintip dari jendela kios. Betapa kagetnya ia karena melihat dua kardus mie instant sedang duduk manis di samping laki-laki bertubuh besar dan bertato naga di pelipis kirinya.

"Bukannya itu Umam?", batin pak Harun. "Bukannya dia dipenjarakan tahun lalu ya? Kenapa bisa di sini sekarang? Dan seorang Umam kenapa maling Mie Instant?". Banyak pertanyaan muncul di dalam benak pak Harun. Ia tidak habis pikir dengan yang telah dilakukan oleh kedua preman yang terkenal luar biasa kejam itu.

Tiba-tiba ia tersandung  sebuah kaleng bekas. Pak Harun jatuh. Kombinasi suara kaleng bekas dan tubuh pak Harun yang membentur tanah sepakat membuat Bang Tri dan Umam serempak bangun. Ia berlari ke depan kios.

Sementara itu, pak Harun yang ketakutan mencoba berdiri ingin kabur. Namun langkahnya tertahan oleh tubuh Umam yang sudah berdiri mematung di sebelah kirinya.

"Ampun...Ampun....".

Pak Harun memohon ampun.

"Ngapain di sini?", tanya Umam dengan suara lantang.

"Maaf saya hanya ingin mengembalikan ini"

Pak Harun menyerahkan slayer berwarna kuning itu kepada Bang Tri. Sementara itu, Bang Tri hanya diam menerima benda itu. Ada semacam wajah ketakutan terlihat dalam diri pak Harun. Namun ada yang lebih menakutkan lagi. Tampang Bang Tri tidak seseram biasanya. Rupanya ia sangat menahan lapar akibat Corona.

Senin, 06 Januari 2020

Anniversary yang Ke Lima

Taraaaa...... udah yang kelima aja nih.... Enggak kerasa ya... Berasa masih kemaren aja Nikahnya. Soalnya anaknya masih umur dua tahun sih yaa...jadinya kayak baru kemaren aja gitu 😊
Terlebih, memang kita berdua masih sama-sama banyak belajar. Biar bisa dibilang "worth it" lah ya....

Perjalanan ini sama sekali enggak mudah. Dari awal nikah udah banyak banget pro kontra yang kita cuma bisa yakin bahwa Tuhan itu lagi bikin skenario buat Drama Kehidupan kita. Jadi slow aja yang penting sampek... 😊

Apa aja sih suka dukanya sampek jalan lima tahun ini? Banyaaaakkk... Mulai dari yang kita dapet kejutan Hamil di tiga bulan pernikahan. Lalu ternyata harus Kuret karena Hamil Kosong atau Blighted Ovum. Sampek kita pernah memutuskan buat gak mau punya anak karena sesuatu hingga akhirnya kita pengen juga punya anak sendiri 😂
Kita yang udah tahan buat tutup kuping yang katanya keguguran karena kecapekan, banyak kerjaan, sibuk cari uang, atau apalah padahal Dokter udah jelas bilang itu Blighted Ovum yg penyebab utamanya adalah pola makan, yg saat itu masih sering berdua curi waktu makan fast food, gila ngopi, soda, apa-apalah yg enggak sehat blas. Tapi balik lagi sih, Tuhan sudah tau kalo saat itu kita belom siap makanya amanahnya diambil lagi. Mungkin kalo kita bisa denger, Tuhan pasti bilang: Sik...ben belajar sik 😂😂😂

Daaaannn....gak tau kenapa ya...perjalanan lima tahun ini rasanya yg paling jadi masalah besar itu adalah tentang "keihklasan". Gimana ya ceritanya... intinya begini, kita hampir sembilan tahun deket meskipun putus nyambung. Kita udah kenyang perihal masalah tentang keuangan, perempuan lain, laki-laki lain, pro kontra keluarga....dan jatohnya kita itu kayak belom bisa ikhlas gitu. Kita bisa memaafkan tapi kita enggak bisa melupakan. Dibilang nyesel enggak juga...Tapi berasa belom ikhlas gt....

Tapi, overall kita tahu...Tuhan itu sekali lagi sedang nulis skenario...sudah ditulis yg kayak begini ini ya dijalani aja. Disyukuri. Dinikmati. Mosok ya Narrative Text itu gak ada Resolusinya. Buktinya setelah Complication kan ada Resolution 😂😂😂



Buat kamu,
I Love You to The Moon and Back
Ayo sama-sama belajar. Doanya aja yang diperkeras lagi.


Nay
06 Januari 2020