Kulihat uang di dompetku, dua ratus ribu. Hari ini seorang teman berencana untuk pergi ke toko buku. Maksud hati ingin menitipkan selembar lima puluhan untuk buku yang sedang aku cari hampir beberapa minggu ini. akhir juni buku ini luncur, namun belum ada satu toko buku di tempatku yang menjualnya. "Belum ada, mbak..." selalu jawaban itu yang aku dapat. Antara iya dan tidak aku mencoba mengikhlaskan satu lembar lima puluh ribuan ini karena aku tahu hidupku masih lama di perantauan ini. Antara cukup dan tidak cukup uang dalam dompetku untuk hari-hariku yang panjang. "Ah, sudahlah...toh kapan lagi aku mendapatkannya. mumpung sudah ada di toko buku" pikiranku waktu itu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk ikut dengannya, ke toko buku.
Berderet buku tersusun rapi diatas rak coklat berbau khas. Segera kumainkan jariku di atas keybord untuk mencari di rak mana buku incaranku berada. Tuhan, terima kasih. Ada.
Tanpa banyak pertimbangan, aku ambil dan aku pulang.
Tak butuh banyak waktu untuk melahapnya, kawan... 112 halaman yang bagiku cukup hanya dalam waktu makan siang. sengaja tak kuhiraukan dering ponselku. aku hanya memusatkan mata dan otak untuk karya terbaru ini, Sebelas Patriot. Andrea Hirata tak pernah lelah dengan tawanya, kawan....Aku bilang tawa karena memang aku mampu tertawa atas buku ini.
(Bersambung, kawan...)
Kehidupan adalah sebuah keindahan mimpi-mimpi, perwujudan angan serta meluapnya harapan. menjadi sebuah pribadi yang berkarakter adalah awal dari segala macam perwujudan. kehidupan akan terus berjalan, maka bermimpilah. Zendagi Megzara-Life Must Go On.
Cari Blog Ini
Kamis, 28 Juli 2011
Senin, 18 Juli 2011
Langkah Awal
malam ini adalah malam keduaku di tempat ini. belum ada hal yang mampu menjadi keindahan yang terindah, namun kebersamaan bersama teman-teman adalah satu keindahan awal seiring menantinya keindahan-keindahan lain. let's see what happen next... Tuhan Maha Tau.
Selasa, 05 Juli 2011
Midnight Moment
This was sunday and it was night. Everyone knew it was night and I had no choice except just stay at home. This was my sixth day to be in home after my exam day last week. Being home was my dream when I had to feel the grey side of my boarding house. Being trapped in the dark circle of life had made me become a stoic person in seeing the life rotation. I needed the fresh air so that I decided to go home. I felt comfort firstly. I could find the joyful after the hard day. Then it became a bored damn condition. The grey environment which I had to stay seemed to be the boomerang for me to stay alive. I could not stand strongly to fight that, so that I feel so weak and helpless. I tried to find the new life, being the new soul and going to the new world.
This was me with my luxurious dream. So many challenges which I had to fight. But I never got the way to pull it down. I was like a little turtle trapping in the line of armies, be difficult to find the path.
I never knew whether this difficult was naturally happen on me or just because I did not want to wake up early. One thing that I knew, that I wanted to stand by my self without knowing when it be.
I was only sighing in facing my self. I tried to smile in my stupidity.
Hooaaam. . . It was almost midnight and I had to close my eyes. Morning had been waiting my awareness to be changed. Good Night.
This was me with my luxurious dream. So many challenges which I had to fight. But I never got the way to pull it down. I was like a little turtle trapping in the line of armies, be difficult to find the path.
I never knew whether this difficult was naturally happen on me or just because I did not want to wake up early. One thing that I knew, that I wanted to stand by my self without knowing when it be.
I was only sighing in facing my self. I tried to smile in my stupidity.
Hooaaam. . . It was almost midnight and I had to close my eyes. Morning had been waiting my awareness to be changed. Good Night.
Minggu, 12 Juni 2011
Rindu Hujan
Sajakku untuk angin yang mulai tenang,
untuk awan yang tak lagi hitam, kepada hujan yang sedang bersemayam.
Tak biasa angin tenang.. Biasanya ricuh bahkan saling beradu.
Tak biasa angin berhembus pelan.. Biasanya kejam hingga melenyapkan.
Dari angin kulihat awan, bertahta dalam gumpalannya yang kian hitam, pekat bergelantungan.
Dari awan kulihat hujan, deras dengan air yang keras, membawa langit habis terperas.
Kini tak ada lagi angin..tak ada lagi awan..bahkan hujan.
Semuanya tenang...aman..tentram.
Namun aku rindu pada hujan. . . Pada hitamnya awan. . Serta gaduhnya angin yang mengancam. .
Karena dari situlah kita berdiri berpegang tangan.
-NaYa-
untuk awan yang tak lagi hitam, kepada hujan yang sedang bersemayam.
Tak biasa angin tenang.. Biasanya ricuh bahkan saling beradu.
Tak biasa angin berhembus pelan.. Biasanya kejam hingga melenyapkan.
Dari angin kulihat awan, bertahta dalam gumpalannya yang kian hitam, pekat bergelantungan.
Dari awan kulihat hujan, deras dengan air yang keras, membawa langit habis terperas.
Kini tak ada lagi angin..tak ada lagi awan..bahkan hujan.
Semuanya tenang...aman..tentram.
Namun aku rindu pada hujan. . . Pada hitamnya awan. . Serta gaduhnya angin yang mengancam. .
Karena dari situlah kita berdiri berpegang tangan.
-NaYa-
`Kesalahan Terindah`
`Kesalahan Terindah`
Aku mengagumimu selayaknya hawa patuh kepada adam, senafsu zulaikha mengagumi yusuf, serta setulus juliet kepada romeo, damai bila melihat senyum di mata indahmu. Burung-burung melantunkan syair merdunya ketika aku mendapati dirimu berjalan seiring irama sendu hatiku. Melihatmu bermain diantara rumput liar, menari bersama capung tanah lapang adalah indah..sungguh sangat indah.
Aku mengagumimu seperti aku memilikimu. Menganggap dirimulah bagian dari hatiku adalah mimpi yang senantiasa berkejaran dalam malam panjangku.
Aku mengenalmu saat aku hilang arah, tak mampu berpegang pada satu hati, membuatku merasa nyaman bersanding denganmu melewati hari. Senyum yang setia terukir di sela-sela bibir tipismu selalu membuatku bersemangat menjalani mimpi.
Pernahkah kau merasakan saat aku dengan sengaja mengajakmu menikmati malam. Berjuta alasan agar aku bisa bersamamu, walau hanya separuh waktu. Pernakah kau membaca rangkaian kata yang melompat-lompat diantara bola mataku, itulah api biru yang inginkan siraman cinta dari hatimu.
------
Mataku tetap setia menjelajahi malam ini, meski putaran waktu memaksaku untuk berhenti. Aku lemah dalam arah. Sesekali aku diam dan membayangkan penunjuk arah dalam malamku yang parah. Aku menyusuri setapak demi setapak ingatan masa lalu. Mencoba menelisik diantara waktuku yang pernah terbuang bersamamu. Namun semua tak pernah mampu tuk menarik hatimu masuk dalam relung jiwaku.
Aku bersandar pada lelah. Tampak langit kamarku berubah seperti remah, berhamburan perlahan menusuk mata, hingga bening mutiara memaksaku tuk jatuh tersungkur menikmati bayangmu yang perlahan luntur.
Salahkah bila rasaku ada untukmu?
Pantaskah bila aku ingin dapatkan rasamu?
-----
Aku mencoba menghapus bayangmu yang bagiku sungguh tak mampu, melupakan semua kebersamaan yang sepertinya tak layak untuk dikenang. Aku menyerah dalam diam, menyoba menutup mata, mulut dan telinga dari semua tentangmu.
Biarlah waktu yang hapus aku dari rasaku kepadamu.
Selamat. . Malam. .
-NaYa-
Aku mengagumimu seperti aku memilikimu. Menganggap dirimulah bagian dari hatiku adalah mimpi yang senantiasa berkejaran dalam malam panjangku.
Aku mengenalmu saat aku hilang arah, tak mampu berpegang pada satu hati, membuatku merasa nyaman bersanding denganmu melewati hari. Senyum yang setia terukir di sela-sela bibir tipismu selalu membuatku bersemangat menjalani mimpi.
Pernahkah kau merasakan saat aku dengan sengaja mengajakmu menikmati malam. Berjuta alasan agar aku bisa bersamamu, walau hanya separuh waktu. Pernakah kau membaca rangkaian kata yang melompat-lompat diantara bola mataku, itulah api biru yang inginkan siraman cinta dari hatimu.
------
Mataku tetap setia menjelajahi malam ini, meski putaran waktu memaksaku untuk berhenti. Aku lemah dalam arah. Sesekali aku diam dan membayangkan penunjuk arah dalam malamku yang parah. Aku menyusuri setapak demi setapak ingatan masa lalu. Mencoba menelisik diantara waktuku yang pernah terbuang bersamamu. Namun semua tak pernah mampu tuk menarik hatimu masuk dalam relung jiwaku.
Aku bersandar pada lelah. Tampak langit kamarku berubah seperti remah, berhamburan perlahan menusuk mata, hingga bening mutiara memaksaku tuk jatuh tersungkur menikmati bayangmu yang perlahan luntur.
Salahkah bila rasaku ada untukmu?
Pantaskah bila aku ingin dapatkan rasamu?
-----
Aku mencoba menghapus bayangmu yang bagiku sungguh tak mampu, melupakan semua kebersamaan yang sepertinya tak layak untuk dikenang. Aku menyerah dalam diam, menyoba menutup mata, mulut dan telinga dari semua tentangmu.
Biarlah waktu yang hapus aku dari rasaku kepadamu.
Selamat. . Malam. .
-NaYa-
Langganan:
Postingan (Atom)