Aku panik. Tangisnya tidak terdengar. Di pikiranku saat itu hanya,
"dirujuk, dirujuk dan dirujuk". Allah.
Kamis, 10 Agustus 2017.
Ada darah merembes di kakiku sebelum aku
mengambil air wudhu shubuh. Sempat panik tapi aku berusaha tenang karena
tidak ada rasa sakit di perut atau di bagian tubuh lainnya. Darah merah
muda semakin intens keluar hingga kamis sore aku memutuskan untuk
periksa ke bidan. "Pembukaan satu, mbak. Kalau ndak sakit banget
perutnya jangan dibawa ke sini dulu", bu Bidan berkata. Aku hanya
mengiyakan karena memang aku tidak merasakan sakit yang berarti. Kamis
malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Punggung terasa sangat kaku dan
perut bawah nyeri.
Jumat pagi, 11 Agustus 2017
Darah itu keluar lagi disertai nyeri di
bagian perut bawah. Namun, aku masih menganggapnya biasa karena memang
aku pernah merasakan sakit yang lebih sakit dari ini. Menurutku, nyeri
kali ini lebih ringan dibanding sakit perut karena dilep setiap kali
aku datang bulan. Jam 6 aku ikut jalan sehat desa berharap nyeri itu
hilang atau paling tidak membantu pembukaan jalan lahir jika memang
sudah waktunya dilahirkan. Setengah jalan aku menyerah karena nafas yang
semakin ngos-ngosan dan perut yang semakin nyeri. Namun aku tetap
bersikap biasa karena memang sesungguhnya aku sering merasakan dilep
yang lebih sakit dari ini. Jumat siang, aku sengaja tidur sebagai
pengganti tidur malamku yang kurang. Jumat sore nyeri itu semakin
intens, sekitar sepuluh menit sekali. Namun aku masih bersikap biasa.
Bahkan aku masih sempat mengunjungi satu kawanku yang baru saja
melahirkan. Aku selalu ingat kata bu bidan, "jangan dibawa ke sini kalau
belum benar-benar sakit".
Dan, malam itu adalah jawaban atas segala penantian. Ba'da magrib
perutku keram total. Rahim seperti diobok-obok, lebih parah dari dilepku
selama ini. Namun aku mencoba bertahan. Aku melakukan beberapa gerakan
ringan dari senam hamil seperti yang sering aku lakukan sebelumnya.
Nyeri semakin parah hingga pukul 19.00 aku tidak kuat. Aku hanya
berbaring di kamar dengan sesekali menggigit ujung bantal saat gelombang
cinta itu bertransformasi menjadi sakit yang sangat tidak tertahan.
Ibuku panik, suamiku apalagi. Tapi aku berusaha tenang. Keluargaku
memaksaku untuk segera pergi ke bidan namun aku tetap ingin bertahan.
Hingga pukul 20.30 aku menyerah. "Sudah, aku mau ke bidan sekarang".
Di
sana, setelah dilakukan VT ternyata sudah pembukaan 4. "Ditunggu di sini
ya.. Ndak usah pulang", kata bu Bidan. Karena menurutku antara
pembukaan 4 hingga sempurna itu masih membutuhkan waktu yang lama maka
aku berusaha tetap tenang meski orang-orang di sekitarku semakin panik.
Aku tetap membujuk janin dalam perutku untuk bisa bekerjasama selama
proses persalinan nanti. Di depan ruang tindakan, aku berusaha untuk
kuat berjalan-jalan, sesekali membungkuk, menungging, sembari
berkomunikasi dengan janin di perutku. "Nak, ayo berjuang bareng Ibuk
buat bisa lahiran normal. Lihat teman-temanmu yang sudah keluar duluan.
Mereka bisa normal. Kita harus bisa". Gelombang cinta itu semakin
intens. Tercatat ada tiga kontraksi setiap lima menit. Aku sudah tidak
kuat.
Pukul 23.00 Bidan membawaku ke ruang tindakan. VT dilakukan lagi dan
ternyata sudah pembukaan sempurna. Peralatan disiapkan. Bidan dan
asistennya siap menuntunku untuk proses melahirkan. Ibuku menemaniku
sembari memegang tanganku erat. Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga
puluh menit rasanya isi perutku semakin ingin turun tapi tertahan.
Tarikan nafasku naik turun.
Aku berbisik pada diriku sendiri, "Ayo. Aku
Pasti bisa. Ayo, Nak. Kita berjuang bersama". Bu Bidan menuntunku
membaca ayat-ayat suci sambil mengajak berpikir positif. Ibuku semakin
erat memegang tanganku. Hampir satu jam kepala bayiku keluar masuk. Aku
berusaha mengejan dengan sempurna namun terputus. Drama belum selesai.
Bu Bidan dan asistennya tetap membaca ayat-ayat suci sembari mendorong
perutku. Kontraksi semakin hebat namun nafasku lemah. Aku tetap
mensugesti diri sendiri bahwa aku bisa melahirkan dengan normal. Pukul
00.00 aku menyerah. Aku meminta ibuku untuk memanggil suamiku. Aku
pikir, dengan bersamanya akan mempermudah buah hati kami menyambut
dunia.
Dan, bersama bu Bidan dan asistennya, suamiku diminta membantu
mendorong. Tangan kekarnya mendorong perutku dengan kuat. Dua kali
kontraksi hebat dan tepat pada pukul 00:15, Sabtu 12 Agustus 2017, bayi
laki-laki itu berhasil keluar. Tapi nanti dulu, tidak ada tangis. Sunyi.
Suamiku keluar dari ruang tindakan. Dalam hati ia tidak tega, katanya.
Pikiranku kacau saat itu. Aku panik. Tangisnya tidak terdengar. Di
pikiranku saat itu hanya, "dirujuk, dirujuk dan dirujuk". Allah. Bu
Bidan mengangkat bayi merah itu sambil berkata, "Ya Allah, ini yang
membuat ibumu kesakitan, Nak. Ini yang membuat kepalamu keluar-masuk
cukup lama".
Ya. Bayiku terlilit tali pusar di lehernya. Ada dua
lilitan. Tanpa berkata kembali, bu Bidan mengambil tindakan. Segera
dibersihkannya bayi merah itu dan memasukkan sejenis selang di mulutnya.
Dan, tangis yang kami nantikan hadir. Tangisnya lantang, keras, cukup
menggetarkan hatiku. AlhamdulIllah. Aku menangis haru. Tangis ini yang
sudah sangat aku nantikan. Setelah semuanya beres Bu Bidan berkata,
"AlamdulIllah sehat. Berat 3 kg. Panjang 49 cm. Bayi Laki-laki. Mari IMD
dulu".
Ya. Buah cinta kami telah hadir. Ia hadir di usia 31 bulan pernikahan
kami, hampir tiga tahun. Suka duka mewarnai perjalanan kami untuk
benar-benar bisa yakin, "Ya. Kami siap punya anak". Allah telah
menyiapkan waktu yang tepat. Saat inilah waktu itu tiba.
Terimakasih atas segenap doa dan bantuan. Allahlah sang Maha Pembalas
dari segala balasan. Amin.
Terimakasih sudah berjuang bersama Ibuk, Nak Ahmad Abroruz Zahidin,
Zahid. 12 Agustus 2017. 00:15.
Kehidupan adalah sebuah keindahan mimpi-mimpi, perwujudan angan serta meluapnya harapan. menjadi sebuah pribadi yang berkarakter adalah awal dari segala macam perwujudan. kehidupan akan terus berjalan, maka bermimpilah. Zendagi Megzara-Life Must Go On.
Cari Blog Ini
Jumat, 27 Oktober 2017
Selasa, 08 Agustus 2017
HPL? Worry or ......? Stay Strong and Calm!
Ouch, empat hari lagi HPL dan belum ada tanda-tanda yang signifikan.Worry or ..........?
Usia kehamilan yang sudah mendekati HPL pasti akan membuat seorang ibu khawatir. Apalagi jika saat itu adalah kali pertama kehamilan. Beragam perasaan pasti dirasakan oleh ibu. Seperti saat ini, usia kehamilan saya sudah ada pada titik 39 minggu lebih tiga hari. Artinya, empat hari lagi adalah hari perkiraan lahir, tepatnya pada usia kehamilan 40 minggu.
Perasaan khawatir kerap muncul. Apalagi dengan keadaan di sekitar yang mana ibu-ibu hamil yang seusia dengan kandungan saya sudah melahirkan. Ada yang maju semiggu, sepuluh hari, bahkan sebulan dari HPL. Perasaan was-was juga muncul setelah banyak sekali pertanyaan dari sekitar, kapan lahir? kapan HPL-nya? kok lama? kerasan ya dedeknya? dan lain sebagainya.
Beruntungnya, saya memiliki banyak sumber bacaan yang membuat saya melek jika saat ini bukanlah waktu untuk khawatir, cemas dan buru-buru. Idealnya, usia kehamilan adalah 38 - 42 minggu. Berarti, usia kehamilan saya masih dikatakan normal. Beruntungnya juga, saya punya bidan yang ndak nggesusoni alias ndak bikin saya worry dan buru-buru mengambil kesimpulan.
Selain lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan dan menambah aktifitas sehari-hari, saya juga mempelajari beberapa olahraga ringan yang dikhususkan untuk ibu hamil. Dengan harapan, usaha-usaha tersebut dapat mempercepat proses persalinan saya. Saya juga tetap mengkonsumsi makanan sehat - meski saya masih ndak doyan nasi & ikan - serta rajin minum multivitamin khusus ibu hamil. Beragam saran saya lakukan seperti minum satu sendok minyak kelapa dalam satu hari, minum air kelapa muda dan minuman khusus lainnya. Namun, segalanya memang ada pada Tangan Yang Maha Esa. Seberapapun ingin kita, jika Tuhan belum menentukan waktu yang tepat maka nonsense.
So, kuncinya adalah sabar. Stay strong and calm. Tetap tenang. Hindari pikiran negatif. Tidak perlu memikirkan apa-apa yang kurang penting. Dengarkan saran orang namun jangan dijadikan beban.
Patiently waiting for your coming, dear!
Nay,
09 Agustus 2017
13.02
Usia kehamilan yang sudah mendekati HPL pasti akan membuat seorang ibu khawatir. Apalagi jika saat itu adalah kali pertama kehamilan. Beragam perasaan pasti dirasakan oleh ibu. Seperti saat ini, usia kehamilan saya sudah ada pada titik 39 minggu lebih tiga hari. Artinya, empat hari lagi adalah hari perkiraan lahir, tepatnya pada usia kehamilan 40 minggu.
Perasaan khawatir kerap muncul. Apalagi dengan keadaan di sekitar yang mana ibu-ibu hamil yang seusia dengan kandungan saya sudah melahirkan. Ada yang maju semiggu, sepuluh hari, bahkan sebulan dari HPL. Perasaan was-was juga muncul setelah banyak sekali pertanyaan dari sekitar, kapan lahir? kapan HPL-nya? kok lama? kerasan ya dedeknya? dan lain sebagainya.
Beruntungnya, saya memiliki banyak sumber bacaan yang membuat saya melek jika saat ini bukanlah waktu untuk khawatir, cemas dan buru-buru. Idealnya, usia kehamilan adalah 38 - 42 minggu. Berarti, usia kehamilan saya masih dikatakan normal. Beruntungnya juga, saya punya bidan yang ndak nggesusoni alias ndak bikin saya worry dan buru-buru mengambil kesimpulan.
Selain lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan dan menambah aktifitas sehari-hari, saya juga mempelajari beberapa olahraga ringan yang dikhususkan untuk ibu hamil. Dengan harapan, usaha-usaha tersebut dapat mempercepat proses persalinan saya. Saya juga tetap mengkonsumsi makanan sehat - meski saya masih ndak doyan nasi & ikan - serta rajin minum multivitamin khusus ibu hamil. Beragam saran saya lakukan seperti minum satu sendok minyak kelapa dalam satu hari, minum air kelapa muda dan minuman khusus lainnya. Namun, segalanya memang ada pada Tangan Yang Maha Esa. Seberapapun ingin kita, jika Tuhan belum menentukan waktu yang tepat maka nonsense.
So, kuncinya adalah sabar. Stay strong and calm. Tetap tenang. Hindari pikiran negatif. Tidak perlu memikirkan apa-apa yang kurang penting. Dengarkan saran orang namun jangan dijadikan beban.
Patiently waiting for your coming, dear!
Nay,
09 Agustus 2017
13.02
Jumat, 21 Oktober 2016
Jihad Kekinian: Semangat Hari Santri ‘16 dan Revitalisasi Resolusi Jihad 22 Oktober
Jihad Kekinian:
Semangat Hari Santri ‘16 dan Revitalisasi Resolusi Jihad 22 Oktober
Oleh Noura N
Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdKu-c7pVaT02Z6NFs2tYcJ-l665WIDXxvZfuKCQGOOAL6sB8ZWKJTlkzAQOeFjvh1ZMB4VrkoXhf98cZx0dlquW8aIbu0KUt5-_ijycvfZ12gFFB31-esBrgTB0Ot9s_GHMHzZU_O0Otk/s1600/1+milyar+sholawat+nariyah+di+hari+santri+nasional.png
Tahun 2015 presiden
Joko Widodo telah mengeluarkan Kepres No. 22 bahwa 1 Muharram yang kemudian
disesuaikan dengan 22 Oktober – yang mana hari tersebut merupakan hari
berkumpulnya santri-santri dari segala penjuru daerah atas komando Hadratus Syaikh
Hasyim Asyari untuk melakukan jihad melawan sekutu dan kemudian dikenal dengan istilah
Resolusi Jihad – dijadikan Hari Santri Nasional. Hal ini tentunya bukan tanpa
alasan. Mengingat perjuangan santri yang sangat besar bagi proses keutuhan
Negara Kesatuan RI maka tidak salah jika semangat tersebut dituangkan dalam
bentuk peringatan Hari Santri. Sejarah mencatat jika tepat pada tanggal 22
Oktober 1945 Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari mencetuskan semangat jihad fi
sabilillah guna merebut kembali kemerdekaan Indonesia dari tentara sekutu yang
saat itu dikuasai oleh Inggris setelah mengalahkan Jepang. Para santri dari
segala penjuru daerah berbondong-bondong menuju Surabaya untuk melawan sekutu.
Atas sumbangsih inilah maka tentara sekutu bisa dikalahkan.
Mungkin tahun 2015 lalu
pasca presiden Jokowi mencetuskan peringatan tersebut ada banyak sekali polemik.
Pro dan kontra menghiasi banyak media. Kekhawatiran beberapa pihak akan
pecahnya persatuan umat islam setelah adanya peringatan hari santri tersebut bermunculan.
Beberapa pihak takut jika nantinya akan ada banyak sekali sekat antara
ormas-ormas islam yang ada. Pun begitu dengan istilah santri dan non santri, islam
pesantren dan islam abangan, NU dan non-NU hingga kekhawatiran tentang
siapa-siapa yang berhak dianggap berjasa dalam proses kemerdekaan RI, santri
atau para tentara Indonesia.
Namun, suasana berbeda
terlihat di tahun 2016. Gebrakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’ dalam upaya
membangkitkan semangat muslim khususnya warga Nahdliyyin sangat layak diacungi
jempol. Pembacaan 1 Milyar Shalawat Nariyah serentak di seluruh penjuru Indonesia
menandakan bangkitnya kembali semangat jihad fii sabilillah. Memang berbeda
dengan apa yang sudah dilakukan oleh para pendahulu yang berjihad dengan
membawa senjata melawan sekutu. Pembacaan Shalawat Nariyah ini bertajuk
Shalawat Penyelamat Bangsa. Hal ini bertujuan sebagai upaya doa bersama untuk keselamatan
bangsa dan negara. Hal ini sangat bagus mengingat di era yang serba digital ini
kebiasaan melakukan amalan-amalan semacam itu sudah sering dilupakan bahkan
oleh masyarakat Indonesia terlebih warga Nahdliyyin sendiri.
Mengapa yang dipilih
adalah Shalawat Nariyah? Hal ini dimaksudkan karena shalawat tersebut berisi
tentang doa-doa permohonan keselamatan. Sholawat tersebut ditujukan kepada
Rasulullah SAW dengan tujuan memohon syafaat atau pertolongan dari beliau dengan
dibarengi dengan keinginan memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan, keselamatan
dunia akhirat bagi seluruh warga Indonesia.
Jumat malam Sabtu,
tepatnya tanggal 21 Oktober 2016 secara serentak dibacakan Shalawat Nariyah di
sembilan titik pesantren seluruh Indonesia dan diikuti oleh masjid-masjid dan
mushalla-mushallah di desa-desa seluruh Indonesia. Kebersamaan terlihat di
tiap-tiap titik yang menyelenggarakan pembacaan shalawat tersebut.
Selain pembacaan
shalawat, pada tanggal 22 Oktober 2016 akan dilaksanakan upacara dan apel
serentak sebagai penghormatan kepada peringatan Hari Santri. Setelahnya, akan
diadakan Kirab Santri oleh santri-santri, siswa-siswi sekolah formal dari
tingkat TK hingga SMA, dan pengurus NU beserta Banomnya. Kirab tersebut
difungsikan sebagai revitalisasi atau cara menghidupkan kembali semangat
Resolusi Jihad 22 oktober 1945 silam. Pelaksanaan kirab ini akan menjadi
sesuatu yang sangat meriah mengingat tahun 2015 kirab hanya diikuti oleh
perwakilan dari tiap daerah dan pesantren dengan bungkus Kirab Resolusi Jihad
yang dimulai dari start Tugu Pahlawan – Gresik – Lamongan – Tuban- Sarang hingga
Jakarta.
Semarak peringatan Hari
Santri di tahun 2016 memberikan sebuah pemahaman jika masing-masing dari kita
harus senantiasa menjunjung tinggi semangat kebersamaan untuk membelanegara. Para
santri terdahulu dengan semangatnya rela mati syahid demi menjaga keutuhan
NKRI. Sudah saatnya generasi muda saat ini mempertahankan semangat tersebut
dengan melakukan hal-hal positif kekinian. Saat ini tidak perlu lagi angkat
senjata merusak apa yang tidak seharusnya dirusak. Indonesia sudah merdeka. Musuh
Indonesia saat ini bukanlah tentara sekutu. Musuh terbesar Indonesia adalah pribad-pribadi
warganya yang sama sekali tidak mencerminkan kebaikan. Marilah, ajak semua
generasi berjihad melawan kebobrokan moral dan sistem. Melawan kebobrokan yang
demikian bukan dengan kekerasan apalagi senjata. Jihad kekinian bukan
menggunakan senjata tajam. Jihad kekinian adalah dengan hati dan akal pikiran. Mari
kita lawan dengan pola pikir. Saatnya masing-masing dari kita berbenah,
memperbaiki pribadi yang kurang baik dan mencai ilmu sampai ke akarnya. Jangan mempelajari
agama setengah-setengah. Jangan mempelajari agama instan lewat internet. Jangan
mempelajari suatu agama dengan hanya melihat bungkusnya. Sesuatu yang hanya
dilihat luarnya hanya akan mampu menjadikan masalah. Selamat Hari Santri.
#SelamatHariSantri
#AyoMondok
Gresik, 21 Oktober 2016
Sabtu, 15 Oktober 2016
Era Milenial Digital, Waspada atau Mati!
Tadi malam, saya baru saja membaca tulisan kang Emil a.k.a Ridwan Kamil, sang walikota Bandung tentang Era Milenial Digital di sini. Kemudian tadi pagi saya mendapat cerita (agak) buruk yang diakibatkan oleh kesalahan fatal dalam penggunaan sosial media. Saya jadi geleng-geleng kepala. Dari keduanya, terdapat benang merah yang dapat saya tarik kemudian.
Era Milenial Digital. Apa sih ini? ada-ada saja istilahnya. Baiklah, kita tahu jika Milenial adalah sebutan bagi mereka yang tahun lahirnya antara 1980 hingga 2000. Digital berarti teknologi yang semakin berkembang, segala yang berbau elektronik muncul, instan dan komunikasi didapatkan tidak hanya dari satu arah. Singkatnya, kita sedang hidup di jaman digital yang semuanya sudah sophisticated, canggih dan tidak out of date. Kasarnya begini, generasi Milenia sudah sangat dekat dengan media canggih dan tidak dapat dilepaskan dengan teknologi tersebut karena sudah membudaya, sudah menjadi gaya hidup.
Yang saya bahas sekarang adalah tentang ponsel. Saya tidak akan membahas mengapa seseorang menjadi pengidap nomophobia alias pecandu ponsel. Saya tidak akan membahas tentang manfaat dan kerugian ponsel. Pembahasan akan saya kerucutkan kembali ke bagian dalam ponsel. Apa itu? Nah, social media. Media sosial.
Siapa sih yang ndak kenal sama penyakit dan obat satu ini? Kenapa saya bilang penyakit dan obat karena memang noun satu ini bisa mendatangkan penyakit dan atau menjadikan obat. Alasannya? Baiklah.
Media Sosial Sebagai Penyakit
Setiap orang tidak hanya memiliki satu akun media sosial. Akun Facebook, Twitter, Instagram, Path, LinkedIn, MySpace, bahkan Pinterest bisa saja dimiliki satu orang. Artinya, setiap manusia pasti ndak jauh-jauh sama beginian. Pertanyaannya sekarang, apa yang mereka dapatkan dari akun-akun tersebut?
Dua puluh empat jam yang kita miliki kadang tidak berarti saat tangan dan mata kita fokus kepada layar kotak-kotak. Senyum-sennyum sendiri saat pelajaran berlangsung, jemari meliukkan kursor ke atas bawah kanan kiri lalu tiba-tiba menggerutu atau melakukan hal aneh lain. Tanpa disadari kita sudah menjadi autis alias punya dunia sendiri dikarenakan ponsel yang kita pegang. Media sosial yang sudah menjadi gaya hidup membuat kita lupa waktu dan lupa kalo kita masih punya dunia nyata. Hello, di samping kita ada manusia lain loh. Di sekitar kita ada manusia lain yang perlu diajak bersosialisasi. Dunia maya hanyalah fatamorgana. Hohohoho
Media sosial itu jahat. Apa yang ada dipikiran kita secara tidak langsung kita tuangkan dalam bentuk tulisan singkat lalu kita post di media tersebut. Oke jika apa yang kita pikirkan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi sesama. Nah, jika yang kita tulis adalah sesuatu yang malah menyakitkan hati pihak tertentu, apa itu tidak penyakit namanya?
Seharusnya kita bisa waspada terhadap apa yang kita tulis di media sosial. Apakah saya tidak pernah melakukan itu? Apakah saya suci di media sosial? Oh, tidak. Saya sering nulis sesuatu yang beraroma menyindir ketika saya sedang tidak srek dengan seseorang. Apalagi masih jaman ababil dulu, yang jaman ditikung dari belakang. Hahaha Abaikan. Tapi apakah saya secara langsung tanpa tedeng aling-aling mempostingnya? Tidak. Ada cara yang lebih educated untuk itu. Kita bisa pakai puisi, cerpen, essai singkat atau kutipan wiseword dan hadist misalnya. Aman, kan?
Penyakit generasi milenia sekarang itu adalah mengutarakan apa yang ada di pikirannya tanpa mampu membatasi mana yang layak dan tidak. Kita tidak pernah bisa membendung apa yang sudah mengganjal di hati. Akibatnya, media sosial menjadi satu-satunya alat untuk mengebom bendungan tersebut.
Lantas bagaimana dengan media sosial yang menjadi obat?
Media Sosial Sebagai Obat
Pernah tau rasanya ditikung? Diajak selingkuh? Atau berbuat selingkuh? Hahaha Jangan curhat. Bagaimana sih caranya pakek Sosmed biar perasaan berkecamuk dalam diri kita dapat berbalik menjadi obat untuk kita? Nah, kita harus santun dalam menggunakan alat satu ini. Media Sosial sangat beragam. Kita bebas menggunakannya semau kita. Namun, kita harus bijak dalam hal tersebut.
Bagaimana tidak, yang menjadi pembaca postingan kita tidak hanyya satu orang, namun ribuan. Tidakkah kita malu jika postingan itu justru berbalik menikung kita, eh menyerang kita? :D
Kuncinya hanya satu, bijaksana. Kita bisa menggunakan satire seperti bikin puisi, cerpen atau essai singkat. Contohnya pas kita lagi marahan sama doi, ditikung dari belakang, diselingkuhin, ya bikin saja puisi tentang itu. Atau bikin cerpen misalnya, tentang cinta segitiga yang tokohnya merujuk ke kita atau apalah. Intinya, kita harus produktif. Jangan mengumbar masalah yang sedang kita hadapi dengan postingan tidak bermutu. Sekali lagi, people can infer whether you are educated or uneducated from your reflection. Dan cerminan diri kita ya tulisan kita itu.
Setelah kita post perasaan kita melalui puisi, cerpen atau essai lain hati kita akan merasa plong, pembaca memuji tulisan kita lalu mengapreiasinya dengan komentar bagus. Nah, sudah jadi obat kan? Mudah bukan?
Sekarang kita tinggal mau pilih yang mana. Bagaimana kita bisa menggunakan media sosial dengan bijak atau bukan adalah bergantung bagi diri kita masing-masing.
Waspada Atau Mati!
Era Milenial Digital bukanlah suatu jaman yang bisa dibuat santai sembari duduk-duduk manis. Kita wajib waspada. Dalam hal apa? Semuanya. Kita harus waspada dengan apa yang kita tulis, kita harus waspada dengan apa yang kita lakukan, kita harus waspada dengan persepsi atau penialian orang, kita harus waspada dengan sikap kita ke orang, cara kita hormat, cara kita bersosialisasi, pokonya semuanya. Sekali kita melanggar maka kita sudah merusak citra kita sendiri. Kalo sudah rusak harga dirinya, ya Mati.
Jadi, benang merahnya adalah penggunaan media sosial itu dalam era milenial digital yang sedang kita hadapi saat ini. Bagaimanapun juga era milenial digital memunculkan haters dan juga lovers. Sudah pasti lah hidup itu ada yang suka ada yang gak suka. Tapi sebenarnya kita sendirilah yang mampu membuat diri kita disukai atau dibenci.
Thus, kita tetap harus membentengi diri kita dengan sikap waspada. Bagaimana penilaian orang terhadap kita adalah cerminan dari sikap kita sendiri. Mulai sekarang, bijaklah dalam menggunakan sosial media. Era Milenial Digital mampu memberikan manfaat bagi kita namun juga bisa berbalik membunuh kita. Semua kembali pada diri kita masing-masing. Salam.
*ps: Gak boleh nikung loh, ya! wkwkwkw :-D
Nay
15 - 10 - 16
Kamis, 13 Oktober 2016
Naskah Drama
NASKAH DRAMA
PUTERI YANG MALAS
Sutradara:
Noura N
PROLOG
Sebuah kerajaan dengan puteri cantik
tapi pemalas. Raja kebingungan. Masa depan kerajaan yang terancam. Dibawanya
sang puteri ke padepokan. Pemalas tetap pemalas. Dan, sebuah permainan
memberikan kesadaran. Oh, Puteri Amira, Puteri Yang Malas.
(PROLOG DIIRINGI MUSIK LIRIH)
Situasi 1
Suasana
kerajaan yang damai. Lampu sorot ke arah singgasana yang sedang diduduki
seorang raja dan ratu. Di samping kanan kirinya duduk dua puteri yang cantik.
Suara genderang dan tabuh beriringan.
Narrator:
Alkisah. Seorang raja bernama Salman
hidup bersama ratu dan dua orang puterinya.
(MUSIK)
Lampu sorot
ke arah masing-masing puteri raja.
Tampak Puteri
Alimah yang sedang membaca buku dan Puteri Amira yang hanya memainkan jari
jemarinya.
Narrator:
Puteri – puteri yang berbeda...............
(MUSIK)
Lampu Padam
Situasi 2
Latar belakang hutan dan hewan. Suara burung bersahutan. Kehidupan di
hutan.
Narrator:
Pada suatu hari, Raja sedang berburu
rusa dengan pengawalnya yang bernama Ki Salim.
(MUSIK. SUARA BURUNG)
Raja :
Ki Salim, saya sedang bingung. (menggeleng-gelengkan kepala)
Ki Salim : Ada apa, paduka raja? Ada yang bisa
saya bantu?
Raja :
Puteri Amira. Semakin hari dia semakin malas.
Ki Salim : (menganggung-angguk)
Raja :
Puteriku sangat berbeda dengan kakaknya. Dia masih belum bisa membaca.
Bagaimana menurutmu, Ki?
Ki Salim : Paduka, hamba izin memberi saran.
Raja :
Silahkan, Ki.
Ki Salim : Hamba pernah mendengar ada seorang
kyai pintar di ujung hutan. Ia mempunyai sebuah padepokan.
Raja :
Oh ya? (manggut-manggut)
Ki Salim : Benar, paduka. Jika hamba tidak
salah, namanya adalah Kyai Shomad.
Raja :
Apakah kamu yakin kyai itu akan membuat puteriku pintar?
Ki Salim : InsyaAllah, paduka. Kyai Shomad
sangat terkenal di negeri ini. Pasti sang puteri akan menjadi puteri yang
hebat.
Raja :
Baiklah, Ki. Bawa aku kesana esok hari.
Ki Salim : Baik, paduka.
Lampu padam.
(MUSIK)
Situasi 3
Di dalam kerajaan. Raja sedang duduk di singgasana bersama ratu.
Narrator:
Di dalam kerajaan......
(MUSIK)
Raja :
Ratu Sabrina, aku baru saja berbincang dengan Ki Salim.
Ratu :
Ada apa, wahai raja.
Raja :
Aku akan membawanya kepada seseorang yang pintar.namanya Kyai Shomad. Kyai itu
akan membuat anak kita menjadi pintar membaca dan menulis.
Ratu :
Apakah paduka yakin Puteri Amira akan tidak malas lagi?
Raja :
InsyaAllah, Ratu. Dia akan menjadi puteri yang hebat.
Ratu :
Baiklah. Paduka. Jika memang itu yang paduka inginkan.
Situasi 4
Narator:
Raja dan Ratu berbicara kepada puterinya.
Dan ..............
Raja :
Puteriku, Amira. Ayah akan membawamu kepada seorang kyai.
Ratu :
Benar, Puteriku.
Puteri Amira : Hah, Kyai? (MUSIK. D
2X) Tidak Mau, Ayah.
Raja :
Puteriku, apa kamu tidak ingin seperti kakakmu?
Puteri Amira : (Diam. Cemberut)
Puteri Alimah : (Bangkit dari duduk dan berdiri di samping adiknya)
Adikku,
kita sudah besar. Kita harus pandai dan cerdas. Kecerdasan kita akan sangat
dibutuhkan oleh kerajaan ini.
Puteri Amira : TIDAK MAU!
Raja :
PUTERIKU! (Membentak dan berdiri)
Ratu :
Sudahlah, Ayah!
Raja :
(Pergi meninggalkan mereka)
Ratu :
(Memandang Puteri Amira)
Amiraku,
sayang. Ini demi masa depamu.
Puteri Alimah : Iya, adikku. Demi masa depan kita. Masa depan kerajaan ini.
Puteri Amira : (Diam sebentar lalau mengangguk) Baiklah.
(MUSIK)
Situasi 5
Narrator:
Di padepokan..................
(MUSIK)
Kyai Shomad : Assalamualaikum, paduka.
Raja :
Waalaikumsalam. Sampean Kyai Shomad?
Kyai Shomad : Hamba, Gusti. (Menunduk. Menghormati Raja)
Raja : Kyai. Saya ingin bantuan
sampean.
Kyai Shomad : Dengan senang hati, Gusti.
Raja :
Kenalkan. Ini puteri saya. Puteri Amira.
Kyai Shomad : Assalamualaikum, Puteri.
Puteri Amira : Waalaikumsalam.
Raja :
Saya ingin menitipkan Puteri Amira ke Kyai untuk diajari membaca dan menulis.
Kyai Shomad : InsyaAllah, Gusti.
Raja : Terima kasih, Kyai. Kalau
begitu saya pulang dulu. Saya titip Puteri Amira. (bersalaman dengan kyai)
Puteriku,
jaga dirimu baik-baik ya.
Puteri Amira : Baik, Ayah.
(MUSIK)
Narator:
Raja dan pengawal pulang. Kyai Shomad
mengajak Puteri Amira keliling padepokan.
Kyai Shomad : Anakku, Amira. Di sini, teman-temanmu sudah
pandai membaca menulis.
Puteri Amira : (menguap. Tanda mengantuk)
Kyai Shomad : (Arya yang sedang mengajari membaca kemudian
berdiri bersalaman dengan Kyai)
Perkenalkan.
Ini Arya. Arya, ini Amira.
Arya :
(mengangguk)
Puteri Amira : (tetap menguap)
Kyai Shomad : Mari kita lanjutkan. Dan ini tempatmu,
Amira. Kamu akan belajar di sini.
Puteri Amira : (kaget) Hah, (MUSIK. D 2X) saya di sini? Dengan mereka? Mereka dekil dan bau. Mereka pasti malas
mandi. Mereka juga pasti malas belajar.
Kyai Shomad : Silahkan duduk, Amira. Kalian akan belajar
bersama di sini.
Puteri Amira : Pasti saya akan lebih malas dari sebelumnya.
(menggerutu)
Kyai Shomad : (tersenyum) Mari duduk di depan saya agar
kamu bisa lebih mudah menerima pelajaran.
Kyai Shomad memulai mengajar membaca huruf hijaiyah
(MUSIK)
Situasi 6
Kyai Shomad sedang bingung menghadapi Puteri Amira yang masih tetap
malas. Ia kemudian memanggil Arya untuk berdiskusi
Narrator:
Setelah beberapa bulan, sikap Puteri
Amira masih sama. Ia tetap malas. Padahal, teman-temannya sudah mulai pintar. Pada
suatu hari..............
Kyai Shomad : Arya. Saya harus memberi pelajaran khusus untuk
Amira. Kamu bantu saya, ya. Siapkan sebuah permainan. Siapkan pusaka padepokan
di sebuah tempat tersembunyi. Buatlah petunjuk menuju tempat pusaka itu.
Arya :
Baik, Kyai.
Narrator:
Arya kemudian menyiapkan semuanya.
Kemudian, ia memanggil murid-murid Kyai Shomad.
Arya :
Wahai, teman-teman. Saya akan mengajak kalian bermain mencari pusaka padepokan.
Masing-masing dari kalian harus bekerja sendiri. Tidak boleh ada yang membantu.
Ini adalah petunjuknya. Kalian harus membaca dengan teliti. Paham? (sambil
membagi kertas)
Murid-murid : Pahaaaam.
Arya :
Baik. Bisa dimulai sekarang. Satu...dua....tiga... Mulai.
(MUSIK RANCAK)
anak-anak mulai membaca kertas lalu lari-lari mencari petunjuk
Narrator:
Sementara yang lain berlari mencari
petujuk, Puteri Amira nampak kebingungan.
(MUSIK MENDEBARKAN. VOLUME TURUN PERLAHAN SETELAH
MUSIK RANCAK)
Puteri Amira : (berdiri dengan memegang kertas. Mencoba
membaca tapi tidak bisa. Lama-lama menangis)
Kyai Shomad : (berjalan menghampiri Puteri Amira,
menggandengnya dan mengajak masuk saung) Amira anakku, dengarkan saya.
Puteri Amira : (duduk dan menangis)
Kyai Shomad : Amira, belajar membaca dan menulis sangat
penting. Jika kamu bisa, maka akan
dengan mudah bagimu untuk menyelesaikan permainan ini. Karena kamu malas maka
kamu kalah dengan teman-temanmu. Mengerti?
Puteri Amira : Mengerti, Kyai.
Kyai Shomad : Bersediakah kamu rajin belajar setelah ini?
Puteri Amira : Bersedia, Kyai. Saya minta maaf. Saya tidak
akan mengulangi kesalahan saya lagi.
Situasi 7
Beberapa anak
sedang diajar langsung oleh Kyai Shomad. Tampak Puteri Amira diantaranya.
Mereka sangat semangat belajar.
Narrator:
Setelah itu, Puteri Amira rajin
belajar. Ia memperhatikan apa yang dijelaskan oleh Kyai Shomad. Akhirnya,
Puteri Amira lancar membaca dan menulis. Ia menjadi murid Kyai Shomad yang
paling hebat.
Situasi 8
Raja datang menjemput Puteri Amira.
Raja :
Assalamualaikum. Terima kasih, Kyai. Saya sangat berterimakasih kepada sampean.
Kyai Shomad : Sudah kewajiban hamba mengajari murid-murid
hamba, Gusti.
Raja :
Sekali lagi terima kasih.
Kyai Shomad : (mengangguk) Kamu harus selalu mengingat apa
yang sudah kamu pelajari di sini, Amira.
Puteri Amira : Baik, Kyai. Saya berjanji.
(MUSIK)
Narrator:
Akhirnya, Raja dan Puteri Amira
kembali pulang ke kerajaan. Ratu Sabrina dan Puteri Alimah serta seluruh
penghuni kerajaan menyambutnya dengan sukacita.
Rakyat: Hidup
Putri Amira. Selamat Datang Puteri Amira. Hidup Raja.
(MUSIK RIANG)
Narrator:
Teman-teman, jangan lupa belajar ya.
Kita harus rajin belajar. Kita tidak boleh menjadi pemalas seperti Puteri
Amira. Jika kita rajin belajar pasti kita akan menjadi orang yang sangat hebat.
Musik riang.
Lampu sorot
ke arah keluarga kerajaan yang sedang bahagia.
Musik semakin
riang.
Lampu padam
Tirai
menutup.
Musik
penutup.
Para pemain
keluar panggung dengan bergandeng tangan.
Noura N.
September 2016
Untuk Teater Anak
SDNU Kanjeng Sepuh
Langganan:
Postingan (Atom)
