Taraaaa...... udah yang kelima aja nih.... Enggak kerasa ya... Berasa masih kemaren aja Nikahnya. Soalnya anaknya masih umur dua tahun sih yaa...jadinya kayak baru kemaren aja gitu 😊
Terlebih, memang kita berdua masih sama-sama banyak belajar. Biar bisa dibilang "worth it" lah ya....
Perjalanan ini sama sekali enggak mudah. Dari awal nikah udah banyak banget pro kontra yang kita cuma bisa yakin bahwa Tuhan itu lagi bikin skenario buat Drama Kehidupan kita. Jadi slow aja yang penting sampek... 😊
Apa aja sih suka dukanya sampek jalan lima tahun ini? Banyaaaakkk... Mulai dari yang kita dapet kejutan Hamil di tiga bulan pernikahan. Lalu ternyata harus Kuret karena Hamil Kosong atau Blighted Ovum. Sampek kita pernah memutuskan buat gak mau punya anak karena sesuatu hingga akhirnya kita pengen juga punya anak sendiri 😂
Kita yang udah tahan buat tutup kuping yang katanya keguguran karena kecapekan, banyak kerjaan, sibuk cari uang, atau apalah padahal Dokter udah jelas bilang itu Blighted Ovum yg penyebab utamanya adalah pola makan, yg saat itu masih sering berdua curi waktu makan fast food, gila ngopi, soda, apa-apalah yg enggak sehat blas. Tapi balik lagi sih, Tuhan sudah tau kalo saat itu kita belom siap makanya amanahnya diambil lagi. Mungkin kalo kita bisa denger, Tuhan pasti bilang: Sik...ben belajar sik 😂😂😂
Daaaannn....gak tau kenapa ya...perjalanan lima tahun ini rasanya yg paling jadi masalah besar itu adalah tentang "keihklasan". Gimana ya ceritanya... intinya begini, kita hampir sembilan tahun deket meskipun putus nyambung. Kita udah kenyang perihal masalah tentang keuangan, perempuan lain, laki-laki lain, pro kontra keluarga....dan jatohnya kita itu kayak belom bisa ikhlas gitu. Kita bisa memaafkan tapi kita enggak bisa melupakan. Dibilang nyesel enggak juga...Tapi berasa belom ikhlas gt....
Tapi, overall kita tahu...Tuhan itu sekali lagi sedang nulis skenario...sudah ditulis yg kayak begini ini ya dijalani aja. Disyukuri. Dinikmati. Mosok ya Narrative Text itu gak ada Resolusinya. Buktinya setelah Complication kan ada Resolution 😂😂😂
Buat kamu,
I Love You to The Moon and Back
Ayo sama-sama belajar. Doanya aja yang diperkeras lagi.
Nay
06 Januari 2020
Kehidupan adalah sebuah keindahan mimpi-mimpi, perwujudan angan serta meluapnya harapan. menjadi sebuah pribadi yang berkarakter adalah awal dari segala macam perwujudan. kehidupan akan terus berjalan, maka bermimpilah. Zendagi Megzara-Life Must Go On.
Cari Blog Ini
Senin, 06 Januari 2020
Sabtu, 23 November 2019
Bertahan atau Kembali Pulang? - Sebuah Puisi
Aku
Coba
kau lihat aku,
Aku
rela berdiri menanti
Meski
ku tau yang datang adalah tak pasti,
Rela
duduk bersama membaui rupa-rupa di
dalam angkutan kota.
Ketika
kanan kiri saling mencaci,
Menghina
karena lelah yang tak sebanding dengan rupiah
Aku
tetap bertahan, melajukan langkah yang sama sekali tak goyah
Jujur,
pernah pula aku merasakan payah.
Tapi
aku malu dengan mimpi yang pernah singgah
Jika
boleh aku mengeluh, pasti sudah
Tapi
aku tak mau berhenti, karena aku tak mau untuk tak peduli
Aku tak mau
jika harus
melihat bibit-bibit yang siap berbuah lebat
Kemudian
gugur karena hama yang mengikat
Aku tak tega
Jika
banyak calon pemenang masa depan
Harus
kalah hanya karena tak ada pendorong perubahan
Dari
situlah mimpiku bermula
Mengawal
perubahan untuk masa depan gemilang
Tapi,
Jujur
akupun sedih
Saat di
depan mereka aku tak dianggap apa-apa
Saat
kataku hanyalah isapan jempol atau
Bahkan
hanya ludah tak berguna yang keluar dari mulut
Sia-sia
Masihkan
aku rela
Berdiri
berjam-jam untuk menuju sebuah gedung nun jauh di atas gunung
Melewati
setapak yang penuh pasir dan kerikil, penuh
debu
Menusuk
hidung
Masihkah
aku rela
Jika
yang kuimpikan justru dengan sengaja mengabaikan
Masihkah
aku acuh terhadap upah jika sang pemenang masa depan dengan sadarnya
Mengacungkan
jari tengah tanda mengajakku
perang
Haruskah
aku diam,
Berbalik
arah dan kembali pulang?
Nay,
23
Nopember 2019
21:47
Jumat, 03 November 2017
Balada Ibuk-Ibuk Muda
Menjadi ibu adalah impian setiap wanita. Katanya, kodrat wanita akan sempurna jika dia bisa hamil dan memiliki anak dari rahimnya sendiri. Namun, banyak di luar sana yang belum seperti demikian. Kali ini, saya tidak akan membahas tentang itu. Tapi saya lebih ingin sharing tentang "Menjadi ibu baru itu bagaimana sih?". Tentunya dengan sudut pandang saya yang juga baru mau tiga bulan jadi ibu.
Jadi begini, beberapa hal yang sering menjadi buah bibir manis para ibuk-ibuk muda yang pertama adalah masalah popok. Ada saja yang berdebat kusir tentang pemakaian popok kain atau yang sekali pakai. Dengan adanya pospak alias popok sekali pakai, maka ibuk-ibuk muda yang "milih gampang"-nya akan dengan pede bilang, "Ah, popok kain mahal. Malas nyucinya. Ndak punya banyak waktu buat nyuci, lha dipakek nyuci bentar aja bocah udah ngerengek minta disusuin. Noda di popok kain susah ilang, ah. Aduh ndak telaten, pospak aja sekali pake buang beres" dan berjuta alasan lainnya. Kalau saya sendiri sih ya bergantung pribadi masing-masing saja. Saya pribadi yang pernah ikut organisasi lingkungan hidup (ciyeee....) cukup paham bagaimana si pospak itu sudah berkontribusi banyak dalam kekumuhan Indonesia. Selain itu, saya yang kerjanya naik angkot, setiap berangkat dan pulang kerja disuguhi dengan pemandangan sampah di kanan kiri jalan yang mayoritas adalah sampah pospak. Nah, saya ndak suka dengan hal tersebut. Jadi saya berusaha meminimkan penggunaan pospak. Lantas apakah dari situ saya no pospak sama sekali? Tidak munafik jika saya juga pengguna pospak. Namun sekali lagi saya tekankan, saya berusaha meminimalisir penggunaan pospak. Sejak pagi sampai jam delapan malam, saya menggunakan popok kain untuk anak saya. Baru kalau saya mau tidur, saya pakaikan pospak. Alasan saya karena pospak sifatnya membuat kering permukaan kulit jadi harapan saya boboknya si kecil nyenyak ndak risih kayak pakek popok kain yang sebentar aja si dia udah minta ganti. Jadi sehari bisa habis hanya dua pospak saja mengingat pee anak saya banyaaak. Intinya, pemakaian pospak atau tidak itu bergantung pribadi masing-masing. No nyiyir satu sama lain.
Nah, kedua. Masalah ASI vs Sufor. Aduuuuh... Ini masalah dari jaman nenek moyang sampek jaman now masih saja dibahas. Memang sih ya ASI is the best milk. Banyak penelitian yang bilang kalo ASI adalah penyumbang terbanyak intelejensi seorang anak. Tapi bukan berarti anak Sufor gak pinter loh. Banyak kok sekeliling saya yang anak Sufor tapi juaranya gak ketulungan. Inget ya, pinter enggaknya anak itu bergantung pada orang tua. Kalo ortunya telaten ngajari anak ya pasti pinter. Kalo bibitnya pinter tapi gak direken sama orang tuanya ya sama aja bohong. Seorang ibu ndak bisa kasih ASI itu karena banyak faktor. Puting kecil lah, kuantitas ASI yang sedikit, harus kerja delapan jam sehari dan bla bla bla lainnya. Enggak ada ibuk-ibuk yang sengaja pengen nelantarin anaknya dengan gak kasih dia ASI. They have they own reason. Jadi buat yang ndak ngerti hidup orang mending ndak usah nyiyir deh. Saya? Alhamdulillah saya bisa kasih ASI anak saya dengan lancar selancar-lancarnya meski pada dua hari pertama ASI saya cuma keluar netes dan balada puting yang keciiil banget. Tapi karena dukungan di sekeliling saya, akhirnya ndak pernah ada kata menyerah. Ya sampek ada drama ditarik sama tabung injeksi lah, si kecil yang sempat kuning lah karena mimiknya kurang, dan apalah. Tapi karena ketelatenan, maka yang begitu-begitu cuma sampek seminggu kok. No lebih. Tanpa sufor? Ah, saya masih membutuhkan itu. Saya bekerja dan saya ndak mungkin pumping ASI karena media penyimpanan yang ndak ada. Saya ndak mau nyusahin yang momong anak saya. Jadi saya beri dia sufor. Hanya saat saya bekerja. Bingung puting? Alhamdulillah ndak. Kalo anak merasa ndak nyaman dan agak bingung, disusuin aja terus. Anak gak akan lupa bau ibuknya, kok. Jadi ndak ada tuh drama anak gak mau nenen dan kecanduan dot gegara bingung puting.
Next, jadi wanita karir atau ibu rumah tangga? Ini nih yang seriiiiiing banget dibikin gosip mulut-mulut tidak bertanggung jawab. Once again, everyone has a certain reason. Jadi ibuk-ibuk pekerja sama jadi fulltime mother itu sama-sama susahnya loh ya. Siapa bilang? Saya. Saya bekerja di sekolah. Kalau pagi saya mengajar di sekolah dan sore di Bimbingan Belajar. Tapi beruntungnya, di Sekolah saya hanya dua hari dalam seminggu dan di BimBel ada jatah sepuluh pertemuan dalam satu bulan. Saya merasakan dua-duanya. Capek? Ya memang capek. But we have to be strong because we want to see such a little smile from our baby. Jadi working mom harus bangun pagi-pagi (yang saya juga sering telat bangun sih...) buat masakin bapaknya, nyuciin popoknya si kecil, mandiin si kecil lalu siap-siap berangkat. Bahkan biasanya malem, pas anak merem saya berusaha menyempatkan buat buka-buka materi mengajar esok harinya. Jadi ibu rumah tangga gimana? Samaaa. Fisik sudah capek. Pikiran tambah capek. Butuh piknik emang iya. Masalah perhatian ibuk ke anaknya? Hello.....gak semua loh ya anaknya ibuk pekerja itu gak diperhatiin. Justru banyak dari mereka yang bisa bikin waktu yang sedikit itu lebih berkualitas. Ndak jarang juga yang pinter-pinter akademik dan non akademiknya. Intinya bukan di rumah atau tidaknya ibu. Tapi di telaten atau tidaknya. So, sekali lagi No Nyinyir.
All in all. Semua bergantung pada pribadi masing-masing. Ndak bisa kita men-judge kita benar dia salah atau sebaliknya. Hidup itu terlalu susah kalo kita bikin buat hebring nyinyirin hidup orang. Dunia itu luas loh... Jalan-jalan dong biar mind-nya opened. Biar ndak seperti katak dalam tempurung. Mulai sekarang, biarkan orang bahagia dengan pilihannya.
Noura N
Ibuk Zahid
3 Nopember 2017
21.57
Jadi begini, beberapa hal yang sering menjadi buah bibir manis para ibuk-ibuk muda yang pertama adalah masalah popok. Ada saja yang berdebat kusir tentang pemakaian popok kain atau yang sekali pakai. Dengan adanya pospak alias popok sekali pakai, maka ibuk-ibuk muda yang "milih gampang"-nya akan dengan pede bilang, "Ah, popok kain mahal. Malas nyucinya. Ndak punya banyak waktu buat nyuci, lha dipakek nyuci bentar aja bocah udah ngerengek minta disusuin. Noda di popok kain susah ilang, ah. Aduh ndak telaten, pospak aja sekali pake buang beres" dan berjuta alasan lainnya. Kalau saya sendiri sih ya bergantung pribadi masing-masing saja. Saya pribadi yang pernah ikut organisasi lingkungan hidup (ciyeee....) cukup paham bagaimana si pospak itu sudah berkontribusi banyak dalam kekumuhan Indonesia. Selain itu, saya yang kerjanya naik angkot, setiap berangkat dan pulang kerja disuguhi dengan pemandangan sampah di kanan kiri jalan yang mayoritas adalah sampah pospak. Nah, saya ndak suka dengan hal tersebut. Jadi saya berusaha meminimkan penggunaan pospak. Lantas apakah dari situ saya no pospak sama sekali? Tidak munafik jika saya juga pengguna pospak. Namun sekali lagi saya tekankan, saya berusaha meminimalisir penggunaan pospak. Sejak pagi sampai jam delapan malam, saya menggunakan popok kain untuk anak saya. Baru kalau saya mau tidur, saya pakaikan pospak. Alasan saya karena pospak sifatnya membuat kering permukaan kulit jadi harapan saya boboknya si kecil nyenyak ndak risih kayak pakek popok kain yang sebentar aja si dia udah minta ganti. Jadi sehari bisa habis hanya dua pospak saja mengingat pee anak saya banyaaak. Intinya, pemakaian pospak atau tidak itu bergantung pribadi masing-masing. No nyiyir satu sama lain.
Nah, kedua. Masalah ASI vs Sufor. Aduuuuh... Ini masalah dari jaman nenek moyang sampek jaman now masih saja dibahas. Memang sih ya ASI is the best milk. Banyak penelitian yang bilang kalo ASI adalah penyumbang terbanyak intelejensi seorang anak. Tapi bukan berarti anak Sufor gak pinter loh. Banyak kok sekeliling saya yang anak Sufor tapi juaranya gak ketulungan. Inget ya, pinter enggaknya anak itu bergantung pada orang tua. Kalo ortunya telaten ngajari anak ya pasti pinter. Kalo bibitnya pinter tapi gak direken sama orang tuanya ya sama aja bohong. Seorang ibu ndak bisa kasih ASI itu karena banyak faktor. Puting kecil lah, kuantitas ASI yang sedikit, harus kerja delapan jam sehari dan bla bla bla lainnya. Enggak ada ibuk-ibuk yang sengaja pengen nelantarin anaknya dengan gak kasih dia ASI. They have they own reason. Jadi buat yang ndak ngerti hidup orang mending ndak usah nyiyir deh. Saya? Alhamdulillah saya bisa kasih ASI anak saya dengan lancar selancar-lancarnya meski pada dua hari pertama ASI saya cuma keluar netes dan balada puting yang keciiil banget. Tapi karena dukungan di sekeliling saya, akhirnya ndak pernah ada kata menyerah. Ya sampek ada drama ditarik sama tabung injeksi lah, si kecil yang sempat kuning lah karena mimiknya kurang, dan apalah. Tapi karena ketelatenan, maka yang begitu-begitu cuma sampek seminggu kok. No lebih. Tanpa sufor? Ah, saya masih membutuhkan itu. Saya bekerja dan saya ndak mungkin pumping ASI karena media penyimpanan yang ndak ada. Saya ndak mau nyusahin yang momong anak saya. Jadi saya beri dia sufor. Hanya saat saya bekerja. Bingung puting? Alhamdulillah ndak. Kalo anak merasa ndak nyaman dan agak bingung, disusuin aja terus. Anak gak akan lupa bau ibuknya, kok. Jadi ndak ada tuh drama anak gak mau nenen dan kecanduan dot gegara bingung puting.
Next, jadi wanita karir atau ibu rumah tangga? Ini nih yang seriiiiiing banget dibikin gosip mulut-mulut tidak bertanggung jawab. Once again, everyone has a certain reason. Jadi ibuk-ibuk pekerja sama jadi fulltime mother itu sama-sama susahnya loh ya. Siapa bilang? Saya. Saya bekerja di sekolah. Kalau pagi saya mengajar di sekolah dan sore di Bimbingan Belajar. Tapi beruntungnya, di Sekolah saya hanya dua hari dalam seminggu dan di BimBel ada jatah sepuluh pertemuan dalam satu bulan. Saya merasakan dua-duanya. Capek? Ya memang capek. But we have to be strong because we want to see such a little smile from our baby. Jadi working mom harus bangun pagi-pagi (yang saya juga sering telat bangun sih...) buat masakin bapaknya, nyuciin popoknya si kecil, mandiin si kecil lalu siap-siap berangkat. Bahkan biasanya malem, pas anak merem saya berusaha menyempatkan buat buka-buka materi mengajar esok harinya. Jadi ibu rumah tangga gimana? Samaaa. Fisik sudah capek. Pikiran tambah capek. Butuh piknik emang iya. Masalah perhatian ibuk ke anaknya? Hello.....gak semua loh ya anaknya ibuk pekerja itu gak diperhatiin. Justru banyak dari mereka yang bisa bikin waktu yang sedikit itu lebih berkualitas. Ndak jarang juga yang pinter-pinter akademik dan non akademiknya. Intinya bukan di rumah atau tidaknya ibu. Tapi di telaten atau tidaknya. So, sekali lagi No Nyinyir.
All in all. Semua bergantung pada pribadi masing-masing. Ndak bisa kita men-judge kita benar dia salah atau sebaliknya. Hidup itu terlalu susah kalo kita bikin buat hebring nyinyirin hidup orang. Dunia itu luas loh... Jalan-jalan dong biar mind-nya opened. Biar ndak seperti katak dalam tempurung. Mulai sekarang, biarkan orang bahagia dengan pilihannya.
Noura N
Ibuk Zahid
3 Nopember 2017
21.57
Jumat, 27 Oktober 2017
Sebuah Kala
Aku panik. Tangisnya tidak terdengar. Di pikiranku saat itu hanya,
"dirujuk, dirujuk dan dirujuk". Allah.
Kamis, 10 Agustus 2017.
Ada darah merembes di kakiku sebelum aku mengambil air wudhu shubuh. Sempat panik tapi aku berusaha tenang karena tidak ada rasa sakit di perut atau di bagian tubuh lainnya. Darah merah muda semakin intens keluar hingga kamis sore aku memutuskan untuk periksa ke bidan. "Pembukaan satu, mbak. Kalau ndak sakit banget perutnya jangan dibawa ke sini dulu", bu Bidan berkata. Aku hanya mengiyakan karena memang aku tidak merasakan sakit yang berarti. Kamis malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Punggung terasa sangat kaku dan perut bawah nyeri.
Jumat pagi, 11 Agustus 2017
Darah itu keluar lagi disertai nyeri di bagian perut bawah. Namun, aku masih menganggapnya biasa karena memang aku pernah merasakan sakit yang lebih sakit dari ini. Menurutku, nyeri kali ini lebih ringan dibanding sakit perut karena dilep setiap kali aku datang bulan. Jam 6 aku ikut jalan sehat desa berharap nyeri itu hilang atau paling tidak membantu pembukaan jalan lahir jika memang sudah waktunya dilahirkan. Setengah jalan aku menyerah karena nafas yang semakin ngos-ngosan dan perut yang semakin nyeri. Namun aku tetap bersikap biasa karena memang sesungguhnya aku sering merasakan dilep yang lebih sakit dari ini. Jumat siang, aku sengaja tidur sebagai pengganti tidur malamku yang kurang. Jumat sore nyeri itu semakin intens, sekitar sepuluh menit sekali. Namun aku masih bersikap biasa. Bahkan aku masih sempat mengunjungi satu kawanku yang baru saja melahirkan. Aku selalu ingat kata bu bidan, "jangan dibawa ke sini kalau belum benar-benar sakit".
Dan, malam itu adalah jawaban atas segala penantian. Ba'da magrib perutku keram total. Rahim seperti diobok-obok, lebih parah dari dilepku selama ini. Namun aku mencoba bertahan. Aku melakukan beberapa gerakan ringan dari senam hamil seperti yang sering aku lakukan sebelumnya. Nyeri semakin parah hingga pukul 19.00 aku tidak kuat. Aku hanya berbaring di kamar dengan sesekali menggigit ujung bantal saat gelombang cinta itu bertransformasi menjadi sakit yang sangat tidak tertahan. Ibuku panik, suamiku apalagi. Tapi aku berusaha tenang. Keluargaku memaksaku untuk segera pergi ke bidan namun aku tetap ingin bertahan. Hingga pukul 20.30 aku menyerah. "Sudah, aku mau ke bidan sekarang".
Di sana, setelah dilakukan VT ternyata sudah pembukaan 4. "Ditunggu di sini ya.. Ndak usah pulang", kata bu Bidan. Karena menurutku antara pembukaan 4 hingga sempurna itu masih membutuhkan waktu yang lama maka aku berusaha tetap tenang meski orang-orang di sekitarku semakin panik. Aku tetap membujuk janin dalam perutku untuk bisa bekerjasama selama proses persalinan nanti. Di depan ruang tindakan, aku berusaha untuk kuat berjalan-jalan, sesekali membungkuk, menungging, sembari berkomunikasi dengan janin di perutku. "Nak, ayo berjuang bareng Ibuk buat bisa lahiran normal. Lihat teman-temanmu yang sudah keluar duluan. Mereka bisa normal. Kita harus bisa". Gelombang cinta itu semakin intens. Tercatat ada tiga kontraksi setiap lima menit. Aku sudah tidak kuat. Pukul 23.00 Bidan membawaku ke ruang tindakan. VT dilakukan lagi dan ternyata sudah pembukaan sempurna. Peralatan disiapkan. Bidan dan asistennya siap menuntunku untuk proses melahirkan. Ibuku menemaniku sembari memegang tanganku erat. Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit rasanya isi perutku semakin ingin turun tapi tertahan. Tarikan nafasku naik turun.
Aku berbisik pada diriku sendiri, "Ayo. Aku Pasti bisa. Ayo, Nak. Kita berjuang bersama". Bu Bidan menuntunku membaca ayat-ayat suci sambil mengajak berpikir positif. Ibuku semakin erat memegang tanganku. Hampir satu jam kepala bayiku keluar masuk. Aku berusaha mengejan dengan sempurna namun terputus. Drama belum selesai. Bu Bidan dan asistennya tetap membaca ayat-ayat suci sembari mendorong perutku. Kontraksi semakin hebat namun nafasku lemah. Aku tetap mensugesti diri sendiri bahwa aku bisa melahirkan dengan normal. Pukul 00.00 aku menyerah. Aku meminta ibuku untuk memanggil suamiku. Aku pikir, dengan bersamanya akan mempermudah buah hati kami menyambut dunia.
Dan, bersama bu Bidan dan asistennya, suamiku diminta membantu mendorong. Tangan kekarnya mendorong perutku dengan kuat. Dua kali kontraksi hebat dan tepat pada pukul 00:15, Sabtu 12 Agustus 2017, bayi laki-laki itu berhasil keluar. Tapi nanti dulu, tidak ada tangis. Sunyi. Suamiku keluar dari ruang tindakan. Dalam hati ia tidak tega, katanya. Pikiranku kacau saat itu. Aku panik. Tangisnya tidak terdengar. Di pikiranku saat itu hanya, "dirujuk, dirujuk dan dirujuk". Allah. Bu Bidan mengangkat bayi merah itu sambil berkata, "Ya Allah, ini yang membuat ibumu kesakitan, Nak. Ini yang membuat kepalamu keluar-masuk cukup lama".
Ya. Bayiku terlilit tali pusar di lehernya. Ada dua lilitan. Tanpa berkata kembali, bu Bidan mengambil tindakan. Segera dibersihkannya bayi merah itu dan memasukkan sejenis selang di mulutnya. Dan, tangis yang kami nantikan hadir. Tangisnya lantang, keras, cukup menggetarkan hatiku. AlhamdulIllah. Aku menangis haru. Tangis ini yang sudah sangat aku nantikan. Setelah semuanya beres Bu Bidan berkata, "AlamdulIllah sehat. Berat 3 kg. Panjang 49 cm. Bayi Laki-laki. Mari IMD dulu".
Ya. Buah cinta kami telah hadir. Ia hadir di usia 31 bulan pernikahan kami, hampir tiga tahun. Suka duka mewarnai perjalanan kami untuk benar-benar bisa yakin, "Ya. Kami siap punya anak". Allah telah menyiapkan waktu yang tepat. Saat inilah waktu itu tiba.
Terimakasih atas segenap doa dan bantuan. Allahlah sang Maha Pembalas dari segala balasan. Amin.
Terimakasih sudah berjuang bersama Ibuk, Nak Ahmad Abroruz Zahidin, Zahid. 12 Agustus 2017. 00:15.
Kamis, 10 Agustus 2017.
Ada darah merembes di kakiku sebelum aku mengambil air wudhu shubuh. Sempat panik tapi aku berusaha tenang karena tidak ada rasa sakit di perut atau di bagian tubuh lainnya. Darah merah muda semakin intens keluar hingga kamis sore aku memutuskan untuk periksa ke bidan. "Pembukaan satu, mbak. Kalau ndak sakit banget perutnya jangan dibawa ke sini dulu", bu Bidan berkata. Aku hanya mengiyakan karena memang aku tidak merasakan sakit yang berarti. Kamis malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Punggung terasa sangat kaku dan perut bawah nyeri.
Jumat pagi, 11 Agustus 2017
Darah itu keluar lagi disertai nyeri di bagian perut bawah. Namun, aku masih menganggapnya biasa karena memang aku pernah merasakan sakit yang lebih sakit dari ini. Menurutku, nyeri kali ini lebih ringan dibanding sakit perut karena dilep setiap kali aku datang bulan. Jam 6 aku ikut jalan sehat desa berharap nyeri itu hilang atau paling tidak membantu pembukaan jalan lahir jika memang sudah waktunya dilahirkan. Setengah jalan aku menyerah karena nafas yang semakin ngos-ngosan dan perut yang semakin nyeri. Namun aku tetap bersikap biasa karena memang sesungguhnya aku sering merasakan dilep yang lebih sakit dari ini. Jumat siang, aku sengaja tidur sebagai pengganti tidur malamku yang kurang. Jumat sore nyeri itu semakin intens, sekitar sepuluh menit sekali. Namun aku masih bersikap biasa. Bahkan aku masih sempat mengunjungi satu kawanku yang baru saja melahirkan. Aku selalu ingat kata bu bidan, "jangan dibawa ke sini kalau belum benar-benar sakit".
Dan, malam itu adalah jawaban atas segala penantian. Ba'da magrib perutku keram total. Rahim seperti diobok-obok, lebih parah dari dilepku selama ini. Namun aku mencoba bertahan. Aku melakukan beberapa gerakan ringan dari senam hamil seperti yang sering aku lakukan sebelumnya. Nyeri semakin parah hingga pukul 19.00 aku tidak kuat. Aku hanya berbaring di kamar dengan sesekali menggigit ujung bantal saat gelombang cinta itu bertransformasi menjadi sakit yang sangat tidak tertahan. Ibuku panik, suamiku apalagi. Tapi aku berusaha tenang. Keluargaku memaksaku untuk segera pergi ke bidan namun aku tetap ingin bertahan. Hingga pukul 20.30 aku menyerah. "Sudah, aku mau ke bidan sekarang".
Di sana, setelah dilakukan VT ternyata sudah pembukaan 4. "Ditunggu di sini ya.. Ndak usah pulang", kata bu Bidan. Karena menurutku antara pembukaan 4 hingga sempurna itu masih membutuhkan waktu yang lama maka aku berusaha tetap tenang meski orang-orang di sekitarku semakin panik. Aku tetap membujuk janin dalam perutku untuk bisa bekerjasama selama proses persalinan nanti. Di depan ruang tindakan, aku berusaha untuk kuat berjalan-jalan, sesekali membungkuk, menungging, sembari berkomunikasi dengan janin di perutku. "Nak, ayo berjuang bareng Ibuk buat bisa lahiran normal. Lihat teman-temanmu yang sudah keluar duluan. Mereka bisa normal. Kita harus bisa". Gelombang cinta itu semakin intens. Tercatat ada tiga kontraksi setiap lima menit. Aku sudah tidak kuat. Pukul 23.00 Bidan membawaku ke ruang tindakan. VT dilakukan lagi dan ternyata sudah pembukaan sempurna. Peralatan disiapkan. Bidan dan asistennya siap menuntunku untuk proses melahirkan. Ibuku menemaniku sembari memegang tanganku erat. Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit rasanya isi perutku semakin ingin turun tapi tertahan. Tarikan nafasku naik turun.
Aku berbisik pada diriku sendiri, "Ayo. Aku Pasti bisa. Ayo, Nak. Kita berjuang bersama". Bu Bidan menuntunku membaca ayat-ayat suci sambil mengajak berpikir positif. Ibuku semakin erat memegang tanganku. Hampir satu jam kepala bayiku keluar masuk. Aku berusaha mengejan dengan sempurna namun terputus. Drama belum selesai. Bu Bidan dan asistennya tetap membaca ayat-ayat suci sembari mendorong perutku. Kontraksi semakin hebat namun nafasku lemah. Aku tetap mensugesti diri sendiri bahwa aku bisa melahirkan dengan normal. Pukul 00.00 aku menyerah. Aku meminta ibuku untuk memanggil suamiku. Aku pikir, dengan bersamanya akan mempermudah buah hati kami menyambut dunia.
Dan, bersama bu Bidan dan asistennya, suamiku diminta membantu mendorong. Tangan kekarnya mendorong perutku dengan kuat. Dua kali kontraksi hebat dan tepat pada pukul 00:15, Sabtu 12 Agustus 2017, bayi laki-laki itu berhasil keluar. Tapi nanti dulu, tidak ada tangis. Sunyi. Suamiku keluar dari ruang tindakan. Dalam hati ia tidak tega, katanya. Pikiranku kacau saat itu. Aku panik. Tangisnya tidak terdengar. Di pikiranku saat itu hanya, "dirujuk, dirujuk dan dirujuk". Allah. Bu Bidan mengangkat bayi merah itu sambil berkata, "Ya Allah, ini yang membuat ibumu kesakitan, Nak. Ini yang membuat kepalamu keluar-masuk cukup lama".
Ya. Bayiku terlilit tali pusar di lehernya. Ada dua lilitan. Tanpa berkata kembali, bu Bidan mengambil tindakan. Segera dibersihkannya bayi merah itu dan memasukkan sejenis selang di mulutnya. Dan, tangis yang kami nantikan hadir. Tangisnya lantang, keras, cukup menggetarkan hatiku. AlhamdulIllah. Aku menangis haru. Tangis ini yang sudah sangat aku nantikan. Setelah semuanya beres Bu Bidan berkata, "AlamdulIllah sehat. Berat 3 kg. Panjang 49 cm. Bayi Laki-laki. Mari IMD dulu".
Ya. Buah cinta kami telah hadir. Ia hadir di usia 31 bulan pernikahan kami, hampir tiga tahun. Suka duka mewarnai perjalanan kami untuk benar-benar bisa yakin, "Ya. Kami siap punya anak". Allah telah menyiapkan waktu yang tepat. Saat inilah waktu itu tiba.
Terimakasih atas segenap doa dan bantuan. Allahlah sang Maha Pembalas dari segala balasan. Amin.
Terimakasih sudah berjuang bersama Ibuk, Nak Ahmad Abroruz Zahidin, Zahid. 12 Agustus 2017. 00:15.
Selasa, 08 Agustus 2017
HPL? Worry or ......? Stay Strong and Calm!
Ouch, empat hari lagi HPL dan belum ada tanda-tanda yang signifikan.Worry or ..........?
Usia kehamilan yang sudah mendekati HPL pasti akan membuat seorang ibu khawatir. Apalagi jika saat itu adalah kali pertama kehamilan. Beragam perasaan pasti dirasakan oleh ibu. Seperti saat ini, usia kehamilan saya sudah ada pada titik 39 minggu lebih tiga hari. Artinya, empat hari lagi adalah hari perkiraan lahir, tepatnya pada usia kehamilan 40 minggu.
Perasaan khawatir kerap muncul. Apalagi dengan keadaan di sekitar yang mana ibu-ibu hamil yang seusia dengan kandungan saya sudah melahirkan. Ada yang maju semiggu, sepuluh hari, bahkan sebulan dari HPL. Perasaan was-was juga muncul setelah banyak sekali pertanyaan dari sekitar, kapan lahir? kapan HPL-nya? kok lama? kerasan ya dedeknya? dan lain sebagainya.
Beruntungnya, saya memiliki banyak sumber bacaan yang membuat saya melek jika saat ini bukanlah waktu untuk khawatir, cemas dan buru-buru. Idealnya, usia kehamilan adalah 38 - 42 minggu. Berarti, usia kehamilan saya masih dikatakan normal. Beruntungnya juga, saya punya bidan yang ndak nggesusoni alias ndak bikin saya worry dan buru-buru mengambil kesimpulan.
Selain lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan dan menambah aktifitas sehari-hari, saya juga mempelajari beberapa olahraga ringan yang dikhususkan untuk ibu hamil. Dengan harapan, usaha-usaha tersebut dapat mempercepat proses persalinan saya. Saya juga tetap mengkonsumsi makanan sehat - meski saya masih ndak doyan nasi & ikan - serta rajin minum multivitamin khusus ibu hamil. Beragam saran saya lakukan seperti minum satu sendok minyak kelapa dalam satu hari, minum air kelapa muda dan minuman khusus lainnya. Namun, segalanya memang ada pada Tangan Yang Maha Esa. Seberapapun ingin kita, jika Tuhan belum menentukan waktu yang tepat maka nonsense.
So, kuncinya adalah sabar. Stay strong and calm. Tetap tenang. Hindari pikiran negatif. Tidak perlu memikirkan apa-apa yang kurang penting. Dengarkan saran orang namun jangan dijadikan beban.
Patiently waiting for your coming, dear!
Nay,
09 Agustus 2017
13.02
Usia kehamilan yang sudah mendekati HPL pasti akan membuat seorang ibu khawatir. Apalagi jika saat itu adalah kali pertama kehamilan. Beragam perasaan pasti dirasakan oleh ibu. Seperti saat ini, usia kehamilan saya sudah ada pada titik 39 minggu lebih tiga hari. Artinya, empat hari lagi adalah hari perkiraan lahir, tepatnya pada usia kehamilan 40 minggu.
Perasaan khawatir kerap muncul. Apalagi dengan keadaan di sekitar yang mana ibu-ibu hamil yang seusia dengan kandungan saya sudah melahirkan. Ada yang maju semiggu, sepuluh hari, bahkan sebulan dari HPL. Perasaan was-was juga muncul setelah banyak sekali pertanyaan dari sekitar, kapan lahir? kapan HPL-nya? kok lama? kerasan ya dedeknya? dan lain sebagainya.
Beruntungnya, saya memiliki banyak sumber bacaan yang membuat saya melek jika saat ini bukanlah waktu untuk khawatir, cemas dan buru-buru. Idealnya, usia kehamilan adalah 38 - 42 minggu. Berarti, usia kehamilan saya masih dikatakan normal. Beruntungnya juga, saya punya bidan yang ndak nggesusoni alias ndak bikin saya worry dan buru-buru mengambil kesimpulan.
Selain lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan dan menambah aktifitas sehari-hari, saya juga mempelajari beberapa olahraga ringan yang dikhususkan untuk ibu hamil. Dengan harapan, usaha-usaha tersebut dapat mempercepat proses persalinan saya. Saya juga tetap mengkonsumsi makanan sehat - meski saya masih ndak doyan nasi & ikan - serta rajin minum multivitamin khusus ibu hamil. Beragam saran saya lakukan seperti minum satu sendok minyak kelapa dalam satu hari, minum air kelapa muda dan minuman khusus lainnya. Namun, segalanya memang ada pada Tangan Yang Maha Esa. Seberapapun ingin kita, jika Tuhan belum menentukan waktu yang tepat maka nonsense.
So, kuncinya adalah sabar. Stay strong and calm. Tetap tenang. Hindari pikiran negatif. Tidak perlu memikirkan apa-apa yang kurang penting. Dengarkan saran orang namun jangan dijadikan beban.
Patiently waiting for your coming, dear!
Nay,
09 Agustus 2017
13.02
Jumat, 21 Oktober 2016
Jihad Kekinian: Semangat Hari Santri ‘16 dan Revitalisasi Resolusi Jihad 22 Oktober
Jihad Kekinian:
Semangat Hari Santri ‘16 dan Revitalisasi Resolusi Jihad 22 Oktober
Oleh Noura N
Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdKu-c7pVaT02Z6NFs2tYcJ-l665WIDXxvZfuKCQGOOAL6sB8ZWKJTlkzAQOeFjvh1ZMB4VrkoXhf98cZx0dlquW8aIbu0KUt5-_ijycvfZ12gFFB31-esBrgTB0Ot9s_GHMHzZU_O0Otk/s1600/1+milyar+sholawat+nariyah+di+hari+santri+nasional.png
Tahun 2015 presiden
Joko Widodo telah mengeluarkan Kepres No. 22 bahwa 1 Muharram yang kemudian
disesuaikan dengan 22 Oktober – yang mana hari tersebut merupakan hari
berkumpulnya santri-santri dari segala penjuru daerah atas komando Hadratus Syaikh
Hasyim Asyari untuk melakukan jihad melawan sekutu dan kemudian dikenal dengan istilah
Resolusi Jihad – dijadikan Hari Santri Nasional. Hal ini tentunya bukan tanpa
alasan. Mengingat perjuangan santri yang sangat besar bagi proses keutuhan
Negara Kesatuan RI maka tidak salah jika semangat tersebut dituangkan dalam
bentuk peringatan Hari Santri. Sejarah mencatat jika tepat pada tanggal 22
Oktober 1945 Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari mencetuskan semangat jihad fi
sabilillah guna merebut kembali kemerdekaan Indonesia dari tentara sekutu yang
saat itu dikuasai oleh Inggris setelah mengalahkan Jepang. Para santri dari
segala penjuru daerah berbondong-bondong menuju Surabaya untuk melawan sekutu.
Atas sumbangsih inilah maka tentara sekutu bisa dikalahkan.
Mungkin tahun 2015 lalu
pasca presiden Jokowi mencetuskan peringatan tersebut ada banyak sekali polemik.
Pro dan kontra menghiasi banyak media. Kekhawatiran beberapa pihak akan
pecahnya persatuan umat islam setelah adanya peringatan hari santri tersebut bermunculan.
Beberapa pihak takut jika nantinya akan ada banyak sekali sekat antara
ormas-ormas islam yang ada. Pun begitu dengan istilah santri dan non santri, islam
pesantren dan islam abangan, NU dan non-NU hingga kekhawatiran tentang
siapa-siapa yang berhak dianggap berjasa dalam proses kemerdekaan RI, santri
atau para tentara Indonesia.
Namun, suasana berbeda
terlihat di tahun 2016. Gebrakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’ dalam upaya
membangkitkan semangat muslim khususnya warga Nahdliyyin sangat layak diacungi
jempol. Pembacaan 1 Milyar Shalawat Nariyah serentak di seluruh penjuru Indonesia
menandakan bangkitnya kembali semangat jihad fii sabilillah. Memang berbeda
dengan apa yang sudah dilakukan oleh para pendahulu yang berjihad dengan
membawa senjata melawan sekutu. Pembacaan Shalawat Nariyah ini bertajuk
Shalawat Penyelamat Bangsa. Hal ini bertujuan sebagai upaya doa bersama untuk keselamatan
bangsa dan negara. Hal ini sangat bagus mengingat di era yang serba digital ini
kebiasaan melakukan amalan-amalan semacam itu sudah sering dilupakan bahkan
oleh masyarakat Indonesia terlebih warga Nahdliyyin sendiri.
Mengapa yang dipilih
adalah Shalawat Nariyah? Hal ini dimaksudkan karena shalawat tersebut berisi
tentang doa-doa permohonan keselamatan. Sholawat tersebut ditujukan kepada
Rasulullah SAW dengan tujuan memohon syafaat atau pertolongan dari beliau dengan
dibarengi dengan keinginan memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan, keselamatan
dunia akhirat bagi seluruh warga Indonesia.
Jumat malam Sabtu,
tepatnya tanggal 21 Oktober 2016 secara serentak dibacakan Shalawat Nariyah di
sembilan titik pesantren seluruh Indonesia dan diikuti oleh masjid-masjid dan
mushalla-mushallah di desa-desa seluruh Indonesia. Kebersamaan terlihat di
tiap-tiap titik yang menyelenggarakan pembacaan shalawat tersebut.
Selain pembacaan
shalawat, pada tanggal 22 Oktober 2016 akan dilaksanakan upacara dan apel
serentak sebagai penghormatan kepada peringatan Hari Santri. Setelahnya, akan
diadakan Kirab Santri oleh santri-santri, siswa-siswi sekolah formal dari
tingkat TK hingga SMA, dan pengurus NU beserta Banomnya. Kirab tersebut
difungsikan sebagai revitalisasi atau cara menghidupkan kembali semangat
Resolusi Jihad 22 oktober 1945 silam. Pelaksanaan kirab ini akan menjadi
sesuatu yang sangat meriah mengingat tahun 2015 kirab hanya diikuti oleh
perwakilan dari tiap daerah dan pesantren dengan bungkus Kirab Resolusi Jihad
yang dimulai dari start Tugu Pahlawan – Gresik – Lamongan – Tuban- Sarang hingga
Jakarta.
Semarak peringatan Hari
Santri di tahun 2016 memberikan sebuah pemahaman jika masing-masing dari kita
harus senantiasa menjunjung tinggi semangat kebersamaan untuk membelanegara. Para
santri terdahulu dengan semangatnya rela mati syahid demi menjaga keutuhan
NKRI. Sudah saatnya generasi muda saat ini mempertahankan semangat tersebut
dengan melakukan hal-hal positif kekinian. Saat ini tidak perlu lagi angkat
senjata merusak apa yang tidak seharusnya dirusak. Indonesia sudah merdeka. Musuh
Indonesia saat ini bukanlah tentara sekutu. Musuh terbesar Indonesia adalah pribad-pribadi
warganya yang sama sekali tidak mencerminkan kebaikan. Marilah, ajak semua
generasi berjihad melawan kebobrokan moral dan sistem. Melawan kebobrokan yang
demikian bukan dengan kekerasan apalagi senjata. Jihad kekinian bukan
menggunakan senjata tajam. Jihad kekinian adalah dengan hati dan akal pikiran. Mari
kita lawan dengan pola pikir. Saatnya masing-masing dari kita berbenah,
memperbaiki pribadi yang kurang baik dan mencai ilmu sampai ke akarnya. Jangan mempelajari
agama setengah-setengah. Jangan mempelajari agama instan lewat internet. Jangan
mempelajari suatu agama dengan hanya melihat bungkusnya. Sesuatu yang hanya
dilihat luarnya hanya akan mampu menjadikan masalah. Selamat Hari Santri.
#SelamatHariSantri
#AyoMondok
Gresik, 21 Oktober 2016
Sabtu, 15 Oktober 2016
Era Milenial Digital, Waspada atau Mati!
Tadi malam, saya baru saja membaca tulisan kang Emil a.k.a Ridwan Kamil, sang walikota Bandung tentang Era Milenial Digital di sini. Kemudian tadi pagi saya mendapat cerita (agak) buruk yang diakibatkan oleh kesalahan fatal dalam penggunaan sosial media. Saya jadi geleng-geleng kepala. Dari keduanya, terdapat benang merah yang dapat saya tarik kemudian.
Era Milenial Digital. Apa sih ini? ada-ada saja istilahnya. Baiklah, kita tahu jika Milenial adalah sebutan bagi mereka yang tahun lahirnya antara 1980 hingga 2000. Digital berarti teknologi yang semakin berkembang, segala yang berbau elektronik muncul, instan dan komunikasi didapatkan tidak hanya dari satu arah. Singkatnya, kita sedang hidup di jaman digital yang semuanya sudah sophisticated, canggih dan tidak out of date. Kasarnya begini, generasi Milenia sudah sangat dekat dengan media canggih dan tidak dapat dilepaskan dengan teknologi tersebut karena sudah membudaya, sudah menjadi gaya hidup.
Yang saya bahas sekarang adalah tentang ponsel. Saya tidak akan membahas mengapa seseorang menjadi pengidap nomophobia alias pecandu ponsel. Saya tidak akan membahas tentang manfaat dan kerugian ponsel. Pembahasan akan saya kerucutkan kembali ke bagian dalam ponsel. Apa itu? Nah, social media. Media sosial.
Siapa sih yang ndak kenal sama penyakit dan obat satu ini? Kenapa saya bilang penyakit dan obat karena memang noun satu ini bisa mendatangkan penyakit dan atau menjadikan obat. Alasannya? Baiklah.
Media Sosial Sebagai Penyakit
Setiap orang tidak hanya memiliki satu akun media sosial. Akun Facebook, Twitter, Instagram, Path, LinkedIn, MySpace, bahkan Pinterest bisa saja dimiliki satu orang. Artinya, setiap manusia pasti ndak jauh-jauh sama beginian. Pertanyaannya sekarang, apa yang mereka dapatkan dari akun-akun tersebut?
Dua puluh empat jam yang kita miliki kadang tidak berarti saat tangan dan mata kita fokus kepada layar kotak-kotak. Senyum-sennyum sendiri saat pelajaran berlangsung, jemari meliukkan kursor ke atas bawah kanan kiri lalu tiba-tiba menggerutu atau melakukan hal aneh lain. Tanpa disadari kita sudah menjadi autis alias punya dunia sendiri dikarenakan ponsel yang kita pegang. Media sosial yang sudah menjadi gaya hidup membuat kita lupa waktu dan lupa kalo kita masih punya dunia nyata. Hello, di samping kita ada manusia lain loh. Di sekitar kita ada manusia lain yang perlu diajak bersosialisasi. Dunia maya hanyalah fatamorgana. Hohohoho
Media sosial itu jahat. Apa yang ada dipikiran kita secara tidak langsung kita tuangkan dalam bentuk tulisan singkat lalu kita post di media tersebut. Oke jika apa yang kita pikirkan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi sesama. Nah, jika yang kita tulis adalah sesuatu yang malah menyakitkan hati pihak tertentu, apa itu tidak penyakit namanya?
Seharusnya kita bisa waspada terhadap apa yang kita tulis di media sosial. Apakah saya tidak pernah melakukan itu? Apakah saya suci di media sosial? Oh, tidak. Saya sering nulis sesuatu yang beraroma menyindir ketika saya sedang tidak srek dengan seseorang. Apalagi masih jaman ababil dulu, yang jaman ditikung dari belakang. Hahaha Abaikan. Tapi apakah saya secara langsung tanpa tedeng aling-aling mempostingnya? Tidak. Ada cara yang lebih educated untuk itu. Kita bisa pakai puisi, cerpen, essai singkat atau kutipan wiseword dan hadist misalnya. Aman, kan?
Penyakit generasi milenia sekarang itu adalah mengutarakan apa yang ada di pikirannya tanpa mampu membatasi mana yang layak dan tidak. Kita tidak pernah bisa membendung apa yang sudah mengganjal di hati. Akibatnya, media sosial menjadi satu-satunya alat untuk mengebom bendungan tersebut.
Lantas bagaimana dengan media sosial yang menjadi obat?
Media Sosial Sebagai Obat
Pernah tau rasanya ditikung? Diajak selingkuh? Atau berbuat selingkuh? Hahaha Jangan curhat. Bagaimana sih caranya pakek Sosmed biar perasaan berkecamuk dalam diri kita dapat berbalik menjadi obat untuk kita? Nah, kita harus santun dalam menggunakan alat satu ini. Media Sosial sangat beragam. Kita bebas menggunakannya semau kita. Namun, kita harus bijak dalam hal tersebut.
Bagaimana tidak, yang menjadi pembaca postingan kita tidak hanyya satu orang, namun ribuan. Tidakkah kita malu jika postingan itu justru berbalik menikung kita, eh menyerang kita? :D
Kuncinya hanya satu, bijaksana. Kita bisa menggunakan satire seperti bikin puisi, cerpen atau essai singkat. Contohnya pas kita lagi marahan sama doi, ditikung dari belakang, diselingkuhin, ya bikin saja puisi tentang itu. Atau bikin cerpen misalnya, tentang cinta segitiga yang tokohnya merujuk ke kita atau apalah. Intinya, kita harus produktif. Jangan mengumbar masalah yang sedang kita hadapi dengan postingan tidak bermutu. Sekali lagi, people can infer whether you are educated or uneducated from your reflection. Dan cerminan diri kita ya tulisan kita itu.
Setelah kita post perasaan kita melalui puisi, cerpen atau essai lain hati kita akan merasa plong, pembaca memuji tulisan kita lalu mengapreiasinya dengan komentar bagus. Nah, sudah jadi obat kan? Mudah bukan?
Sekarang kita tinggal mau pilih yang mana. Bagaimana kita bisa menggunakan media sosial dengan bijak atau bukan adalah bergantung bagi diri kita masing-masing.
Waspada Atau Mati!
Era Milenial Digital bukanlah suatu jaman yang bisa dibuat santai sembari duduk-duduk manis. Kita wajib waspada. Dalam hal apa? Semuanya. Kita harus waspada dengan apa yang kita tulis, kita harus waspada dengan apa yang kita lakukan, kita harus waspada dengan persepsi atau penialian orang, kita harus waspada dengan sikap kita ke orang, cara kita hormat, cara kita bersosialisasi, pokonya semuanya. Sekali kita melanggar maka kita sudah merusak citra kita sendiri. Kalo sudah rusak harga dirinya, ya Mati.
Jadi, benang merahnya adalah penggunaan media sosial itu dalam era milenial digital yang sedang kita hadapi saat ini. Bagaimanapun juga era milenial digital memunculkan haters dan juga lovers. Sudah pasti lah hidup itu ada yang suka ada yang gak suka. Tapi sebenarnya kita sendirilah yang mampu membuat diri kita disukai atau dibenci.
Thus, kita tetap harus membentengi diri kita dengan sikap waspada. Bagaimana penilaian orang terhadap kita adalah cerminan dari sikap kita sendiri. Mulai sekarang, bijaklah dalam menggunakan sosial media. Era Milenial Digital mampu memberikan manfaat bagi kita namun juga bisa berbalik membunuh kita. Semua kembali pada diri kita masing-masing. Salam.
*ps: Gak boleh nikung loh, ya! wkwkwkw :-D
Nay
15 - 10 - 16
Langganan:
Postingan (Atom)
