Kehidupan adalah sebuah keindahan mimpi-mimpi, perwujudan angan serta meluapnya harapan. menjadi sebuah pribadi yang berkarakter adalah awal dari segala macam perwujudan. kehidupan akan terus berjalan, maka bermimpilah. Zendagi Megzara-Life Must Go On.
Cari Blog Ini
Minggu, 31 Januari 2021
Kemana Mencari Istiqomah?
Kamis, 22 Oktober 2020
CERPEN - PERUT YANG LAPAR
Bukan
sebuah masalah jika bang Tri, seorang Preman Pasar Baru, tidak bisa makan
sehari-hari karena biasanya
ia masih bisa menjarah sisa dagangan para pedagang di sana. Tapi tidak dengan
hari ini. Hari dimana pandemi Covid-19 sedang berlangsung. Pasar Baru menjadi
bagian dari Zona Merah. Sudah saatnya diberlakukan PSBB. Banyak pedagang yang
memilih untuk bekerja dari rumah. Jualan mereka dijual secara online. Mereka
bersedia membayar lebih pada kurir asalkan dagangan mereka laku tanpa duduk
berjam-jam di pasar. Bang Tri kebingungan.
Mendadak ia dipaksa memahami keadaan. Tidak ada satupun setoran dari para
penghuni pasar yang sampai di tangannya. Praktis. Virus Corona sangat berdampak
pada kehidupannya.
"Sial. Kok ya ndak ada satu dua kios yang buka. Sudah
hampir tiga minggu ini aku gak nerima setoran", kata Bang Tri
kepada Mang Jana, si Tukang Becak.
"Ampun,
Bang. Sedari pagi saya
di sini.. ndak ada satupun yang naik becak. Saya ndak bisa bayar sekarang, Bang",
timpal Mang Jana.
"Gue
gak minta jatah lo hari ini. Gue tahu kita semua lagi susah sekarang"
Bang
Tri berlalu dari muka Mang Jana. Ia berjalan sesukanya sembari menendang kerikil-kerikil di jalanan.
Slayer kuning yang tadi melingkar di tangan kanannya kemudian ia lepas dan ditaruhnya di saku celana.
Di
sisi lain, pak Harun yang baru saja datang mulai membuka kiosnya di sebelah
pangkalan becak Mang Jana. Ia terlihat agak pucat.
"Pagi,
pak. Kok tumben agak siangan bukanya", sapa Mang Jana.
"Iya,
Mang. Badan lagi gak enak. Kata anak-anak plastiknya disuruh jual online saja
seperti yang lain. Tapi bapak gak mau. Siapa yang mau beli plastik online.
Bapak buka saja kiosnya. Itung-itung menghibur diri sendiri. Bosan di
rumah", balas pak Harun.
"Benar,
pak. Kalau saya sih lebih ke kebutuhan ya pak. Di suruh di rumah saja tapi
kebutuhan dapur harus dipenuhi. Kalau saya ndak narik ya makan apa
nanti". Mang Jana berkata kemudian.
"Tapi
bersyukurlah juga, Mang. Kamu
masih bisa makan kan..
Bukannya kemaren habis dapet sembako gratis ya dari pak kades", sela Pak
Harun, si Penjual Plastik.
Mang
Jana menjawab, "Iya. AlhamdulIllah. Tapi ya tetap butuh pemasukan, pak. Apalagi
sekarang Ramadhan. Anak saya
yang di kota ndak
bisa pulang. Gak ada yang kasih uang Lebaran. Disuruh pakek apa itu kerening
kerening apa itu saya
ndak mudheng".
"Rekening
maksudnya, Mang?", tanya pak Harun.
"Nah,
itu"
Mang
Jana manggut-manggut setuju.
Sementara
itu, Bang Tri yang masih menghisap rokoknya dalam-dalam kembali berjalan ke
arah Mang Jana dan Pak Harun. Ia memandang awan. Menerawang.
"Bang,
maaf ya saya ndak bisa setor uang harian. Plastik saya belum laku", kata
pak Harun.
"Eh
iya. Saya tau kok, Pak. Kita susah semua sekarang". Lamunan Bang Tri
ambyar.
"Tapi
maaf. Bang Tri gak dapat sembako gratis?", tanya Mang Jana kemudian.
"Saya
tidak masuk di KK atau KTP manapun, Mang. Mana bisa dapat jatah bantuan?".
Bang Tri membalas dengan malas lalu menendang
batu yang lebih besar di depannya. Kemudian ia berjalan
ke ujung selatan pasar. Berharap ada satu
dua kios yang masih buka dan bersedia membayar setoran.
Sore
itu, masjid di samping komplek Pasar Baru sedang mengadakan Kajian Virtual.
Hanya ada satu ustadz yang sedang cuap-cuap di depan kamera bersama beberapa
orang yang mendampiginya. Bang Tri yang tanpa sengaja lewat di depan masjid
tersebut tiba-tiba berhenti. Ia bergumam, "Biasanya ada bagi-bagi takjil
di sini. Tapi sekarang sepi"
Lalu,
ia melanjutkan perjalanan. Ia berjalan tidak tentu arah. Menahan perutnya yang
kelaparan sejak beberapa hari
sebelumnya.
Tiba-tiba
ia dikejutkan dengan suara sepeda motor yang berhenti mendadak di belakangnya.
"Hei,
lo Tri kan?, sapa orang di balik helm hitam itu.
"Sebentar.
Bukannya lo Umam? Yang tahun kemaren dipenjara gegara bunuh preman di pasar
sebelah?
Bang
Tri merasa mengenal laki-laki itu.
Tawa
laki-laki itu melengking.
"Rupanya
ingatan lo cemerlang juga. Ngapain lo di sini?"
"Nunggu
magrib. Kali aja di masjid itu nanti ada bagi-bagi takjil. Gue kayak udah puasa setiap waktu...setiap hari. Gak
ada uang buat beli makan. Gak ada yang mau kasih gue makan."
Tawa laki-laki itu melengking kembali.
"Kasihan banget sih Lo.
Lo laper? Mending lo ikut gue."
"Kemana?"
"Udah
lo ikut aja. Nanti lo pasti tahu sendiri"
Tanpa
banyak kata, Bang Tri naik di jok belakang motor N-Max hitam itu. Ia mau saja
dibawa kemanapun oleh Umam padahal ia tidak tahu rencana Umam yang sebenarnya.
Dalam pikirannya, ia hanya ingin perutnya kenyang.
Di
Pos Ronda Desa Kemuning yang sekaligus sebagai Posko Covid-19, beberapa warga
berkerumun. Pak Harun, si Penjual Plastik, selaku Ketua RT desa tersebut
menghampiri mereka yang tampak ribut sendiri. Tidak seperti pada umumnya, pikir
pak Harun.
"Eh
ini ada apa ribut-ribut?"
"Eh
Pak Harun. Kebetulan ada Bapak di sini. Begini pak.. Baru saja kami mengejar
maling. Tapi tidak ketemu." Kata lelaki bercelana pendek.
"Maling?
Tarawih-tarawih begini ada maling?"
"Benar,
pak. Tokonya pak Sukri ini barusan disatroni Maling, pak", balas lelaki
berpeci dengan sarung yang diselempangkan di bahunya.
"Ya,
pak Harun. Tadi saya sedang sholat berjamaah dengan anak dan istri saya di
ruang tamu. Tiba-tiba kami mendengar suara pukulan keras di pintu toko. Kami
melanjutkan tarawih saja. Ketika sampai witir istri saya menengok ke depan dan
berteriak. Ternyata pintu belakang toko saya sudah jebol. Istri saya melihat
dua orang laki-laki bertubuh besar sedang membawa dua kardus mie instant dan
sekarung beras berusaha keluar dari toko saya. Saya keluar dan berusaha
mengejarnya. Tapi hanya bisa meraih ini".
Pak
Sukri menjelaskan sembari menyerahkan sebuah slayer berwarna kuning kepada pak
Harun. Sepertinya pak Harun mengenal kain slayer itu. Namun ia tidak berani
berspekulasi.
"Lalu
bagaimana dengan kardus mie instant dan berasnya, pak?", tanya pak Harun
kemudian.
"Berasnya
ditinggal, pak. Mungkin dia takut karena kain slayernya saya ambil. Tapi yang
satu larinya gesit sekali. Dua kardus mie instant saya amblas. Ndak apa-apa sih
pak saya...wong yang diambil cuma mie instant. Tapi saya agak heran juga.
Kenapa maling kok maling mie instant ya pak?"
Pertanyaan
pak Sukri diamini juga oleh yang lain.
"Ya
sudah. Saya simpan kain slayer ini. Kalian sekarang pulang ke rumah
masing-masing. Ingat, physical distancing"
"Baik,
pak"
Kerumunan
warga itu bubar. Pak Harun kembali ke rumahnya dengan membawa slayer di tangan.
Pikirannya hanya ada pada satu nama, Bang Tri. Si Preman Pasar.
Sementara
itu, di basecamp preman Pasar Baru, yang merupakan sebuah bekas kios sayuran di
bagian ujung belakang pasar, tampak Bang Tri yang duduk ngos-ngosan. Di
belakangnya ada Umam yang juga bernafas berat sembari merangkul dua kardus mie
instant.
"Lagian
lo ngapain ngajak jalan sih? Lebih enak pakai N-Max lo itu"
"Lo
capek?" Tawa umam melengking.
"Ya
lagian...lo punya motor gedhe juga jelas uang lo ada banyak juga ngapain ngajak
gue maling mie instant ama beras. Gak
maling motor aja sekalian"
"Inget
lagi ada Corona, Tri. Maling motor mau lo jual kemana? Ini N-Max gue hasil
begal di kecamatan sebelah udah dapet tiga mingguan juga gak laku-laku.
Biasanya cepet kan gue jual gini-ginian. Gue juga laper bro. Dan mie instant
adalah salah satu yang realistis"
Tawa
Umam kembali melengking.
"Lo
ngapain sih keluar penjara kalo masih mental maling kayak gini"
"Salah
siapa coba. Enak-enak gue di dalem penjara segelanya terjamin. Tiba-tiba aja
dikeluarin gegara takut corona masuk di penjara. Gak mikir apa...di luar
penjara kita-kita bingung juga kan mau makan apa kerja apa orang gak ada yang
percaya lagi ama kita. Ya kita maling aja lagi buat nyambung idup". Tawa
Umam semakin melengking sekarang.
Bang
Tri memikirkan sesuatu. Ada benarnya juga perlataan Umam. Ia merasa dunia ini
sedang mengalami bencana yang sangat hebat. Sejujurnya, bencana itu bukan
karena Virus itu sendiri. Tetapi lebih kepada moral bangsanya. Jalan pikiran
bangsanya sudah di atas normal. Sepuluh persen kapasitas otak dari seratus
persen yang diberikan Tuhan kepada manusia digunakan untuk hal-hal di luar
nalar.
"Ah,
tapi aku benar-benar lapar", batin Bang Tri. "Persetan dengan segala
kejahatan yang ada. Ada benarnya juga kata Umam. Kita harus realistis".
Bang Tri manggut-manggut sendiri dengan pikirannya.
Esok
paginya, pak Harun mengendap ke belakang pasar untuk mencari keberadaan Bang
Tri. Ia mendapati sebuah Motor N-Max hitam terparkir di depan bekas kios sayur.
Ia mengintip di balik motor besar tersebut. Melalui pintu kios yang agak rusak
ia bisa mengamati dua orang di dalam kios sedang tidur pulas. Dengkurannya pun
cukup jelas terdengar. Ia mencoba mengintip dari jendela kios. Betapa kagetnya
ia karena melihat dua kardus mie instant sedang duduk manis di samping
laki-laki bertubuh besar dan bertato naga di pelipis kirinya.
"Bukannya
itu Umam?", batin pak Harun. "Bukannya dia dipenjarakan tahun lalu
ya? Kenapa bisa di sini sekarang? Dan seorang Umam kenapa maling Mie
Instant?". Banyak pertanyaan muncul di dalam benak pak Harun. Ia tidak
habis pikir dengan yang telah dilakukan oleh kedua preman yang terkenal luar
biasa kejam itu.
Tiba-tiba
ia tersandung sebuah kaleng bekas. Pak
Harun jatuh. Kombinasi suara kaleng bekas dan tubuh pak Harun yang membentur
tanah sepakat membuat Bang Tri dan Umam serempak bangun. Ia berlari ke depan
kios.
Sementara
itu, pak Harun yang ketakutan mencoba berdiri ingin kabur. Namun langkahnya
tertahan oleh tubuh Umam yang sudah berdiri mematung di sebelah kirinya.
"Ampun...Ampun....".
Pak
Harun memohon ampun.
"Ngapain
di sini?", tanya Umam dengan suara lantang.
"Maaf
saya hanya ingin mengembalikan ini"
Pak
Harun menyerahkan slayer berwarna kuning itu kepada Bang Tri. Sementara itu, Bang Tri hanya diam menerima benda itu.
Ada semacam wajah ketakutan terlihat dalam diri pak Harun. Namun ada yang lebih
menakutkan lagi. Tampang Bang Tri tidak seseram biasanya. Rupanya ia sangat
menahan lapar akibat Corona.
Senin, 06 Januari 2020
Anniversary yang Ke Lima
Terlebih, memang kita berdua masih sama-sama banyak belajar. Biar bisa dibilang "worth it" lah ya....
Perjalanan ini sama sekali enggak mudah. Dari awal nikah udah banyak banget pro kontra yang kita cuma bisa yakin bahwa Tuhan itu lagi bikin skenario buat Drama Kehidupan kita. Jadi slow aja yang penting sampek... 😊
Apa aja sih suka dukanya sampek jalan lima tahun ini? Banyaaaakkk... Mulai dari yang kita dapet kejutan Hamil di tiga bulan pernikahan. Lalu ternyata harus Kuret karena Hamil Kosong atau Blighted Ovum. Sampek kita pernah memutuskan buat gak mau punya anak karena sesuatu hingga akhirnya kita pengen juga punya anak sendiri 😂
Kita yang udah tahan buat tutup kuping yang katanya keguguran karena kecapekan, banyak kerjaan, sibuk cari uang, atau apalah padahal Dokter udah jelas bilang itu Blighted Ovum yg penyebab utamanya adalah pola makan, yg saat itu masih sering berdua curi waktu makan fast food, gila ngopi, soda, apa-apalah yg enggak sehat blas. Tapi balik lagi sih, Tuhan sudah tau kalo saat itu kita belom siap makanya amanahnya diambil lagi. Mungkin kalo kita bisa denger, Tuhan pasti bilang: Sik...ben belajar sik 😂😂😂
Daaaannn....gak tau kenapa ya...perjalanan lima tahun ini rasanya yg paling jadi masalah besar itu adalah tentang "keihklasan". Gimana ya ceritanya... intinya begini, kita hampir sembilan tahun deket meskipun putus nyambung. Kita udah kenyang perihal masalah tentang keuangan, perempuan lain, laki-laki lain, pro kontra keluarga....dan jatohnya kita itu kayak belom bisa ikhlas gitu. Kita bisa memaafkan tapi kita enggak bisa melupakan. Dibilang nyesel enggak juga...Tapi berasa belom ikhlas gt....
Tapi, overall kita tahu...Tuhan itu sekali lagi sedang nulis skenario...sudah ditulis yg kayak begini ini ya dijalani aja. Disyukuri. Dinikmati. Mosok ya Narrative Text itu gak ada Resolusinya. Buktinya setelah Complication kan ada Resolution 😂😂😂
Buat kamu,
I Love You to The Moon and Back
Ayo sama-sama belajar. Doanya aja yang diperkeras lagi.
Nay
06 Januari 2020
Sabtu, 23 November 2019
Bertahan atau Kembali Pulang? - Sebuah Puisi
Jumat, 03 November 2017
Balada Ibuk-Ibuk Muda
Jadi begini, beberapa hal yang sering menjadi buah bibir manis para ibuk-ibuk muda yang pertama adalah masalah popok. Ada saja yang berdebat kusir tentang pemakaian popok kain atau yang sekali pakai. Dengan adanya pospak alias popok sekali pakai, maka ibuk-ibuk muda yang "milih gampang"-nya akan dengan pede bilang, "Ah, popok kain mahal. Malas nyucinya. Ndak punya banyak waktu buat nyuci, lha dipakek nyuci bentar aja bocah udah ngerengek minta disusuin. Noda di popok kain susah ilang, ah. Aduh ndak telaten, pospak aja sekali pake buang beres" dan berjuta alasan lainnya. Kalau saya sendiri sih ya bergantung pribadi masing-masing saja. Saya pribadi yang pernah ikut organisasi lingkungan hidup (ciyeee....) cukup paham bagaimana si pospak itu sudah berkontribusi banyak dalam kekumuhan Indonesia. Selain itu, saya yang kerjanya naik angkot, setiap berangkat dan pulang kerja disuguhi dengan pemandangan sampah di kanan kiri jalan yang mayoritas adalah sampah pospak. Nah, saya ndak suka dengan hal tersebut. Jadi saya berusaha meminimkan penggunaan pospak. Lantas apakah dari situ saya no pospak sama sekali? Tidak munafik jika saya juga pengguna pospak. Namun sekali lagi saya tekankan, saya berusaha meminimalisir penggunaan pospak. Sejak pagi sampai jam delapan malam, saya menggunakan popok kain untuk anak saya. Baru kalau saya mau tidur, saya pakaikan pospak. Alasan saya karena pospak sifatnya membuat kering permukaan kulit jadi harapan saya boboknya si kecil nyenyak ndak risih kayak pakek popok kain yang sebentar aja si dia udah minta ganti. Jadi sehari bisa habis hanya dua pospak saja mengingat pee anak saya banyaaak. Intinya, pemakaian pospak atau tidak itu bergantung pribadi masing-masing. No nyiyir satu sama lain.
Nah, kedua. Masalah ASI vs Sufor. Aduuuuh... Ini masalah dari jaman nenek moyang sampek jaman now masih saja dibahas. Memang sih ya ASI is the best milk. Banyak penelitian yang bilang kalo ASI adalah penyumbang terbanyak intelejensi seorang anak. Tapi bukan berarti anak Sufor gak pinter loh. Banyak kok sekeliling saya yang anak Sufor tapi juaranya gak ketulungan. Inget ya, pinter enggaknya anak itu bergantung pada orang tua. Kalo ortunya telaten ngajari anak ya pasti pinter. Kalo bibitnya pinter tapi gak direken sama orang tuanya ya sama aja bohong. Seorang ibu ndak bisa kasih ASI itu karena banyak faktor. Puting kecil lah, kuantitas ASI yang sedikit, harus kerja delapan jam sehari dan bla bla bla lainnya. Enggak ada ibuk-ibuk yang sengaja pengen nelantarin anaknya dengan gak kasih dia ASI. They have they own reason. Jadi buat yang ndak ngerti hidup orang mending ndak usah nyiyir deh. Saya? Alhamdulillah saya bisa kasih ASI anak saya dengan lancar selancar-lancarnya meski pada dua hari pertama ASI saya cuma keluar netes dan balada puting yang keciiil banget. Tapi karena dukungan di sekeliling saya, akhirnya ndak pernah ada kata menyerah. Ya sampek ada drama ditarik sama tabung injeksi lah, si kecil yang sempat kuning lah karena mimiknya kurang, dan apalah. Tapi karena ketelatenan, maka yang begitu-begitu cuma sampek seminggu kok. No lebih. Tanpa sufor? Ah, saya masih membutuhkan itu. Saya bekerja dan saya ndak mungkin pumping ASI karena media penyimpanan yang ndak ada. Saya ndak mau nyusahin yang momong anak saya. Jadi saya beri dia sufor. Hanya saat saya bekerja. Bingung puting? Alhamdulillah ndak. Kalo anak merasa ndak nyaman dan agak bingung, disusuin aja terus. Anak gak akan lupa bau ibuknya, kok. Jadi ndak ada tuh drama anak gak mau nenen dan kecanduan dot gegara bingung puting.
Next, jadi wanita karir atau ibu rumah tangga? Ini nih yang seriiiiiing banget dibikin gosip mulut-mulut tidak bertanggung jawab. Once again, everyone has a certain reason. Jadi ibuk-ibuk pekerja sama jadi fulltime mother itu sama-sama susahnya loh ya. Siapa bilang? Saya. Saya bekerja di sekolah. Kalau pagi saya mengajar di sekolah dan sore di Bimbingan Belajar. Tapi beruntungnya, di Sekolah saya hanya dua hari dalam seminggu dan di BimBel ada jatah sepuluh pertemuan dalam satu bulan. Saya merasakan dua-duanya. Capek? Ya memang capek. But we have to be strong because we want to see such a little smile from our baby. Jadi working mom harus bangun pagi-pagi (yang saya juga sering telat bangun sih...) buat masakin bapaknya, nyuciin popoknya si kecil, mandiin si kecil lalu siap-siap berangkat. Bahkan biasanya malem, pas anak merem saya berusaha menyempatkan buat buka-buka materi mengajar esok harinya. Jadi ibu rumah tangga gimana? Samaaa. Fisik sudah capek. Pikiran tambah capek. Butuh piknik emang iya. Masalah perhatian ibuk ke anaknya? Hello.....gak semua loh ya anaknya ibuk pekerja itu gak diperhatiin. Justru banyak dari mereka yang bisa bikin waktu yang sedikit itu lebih berkualitas. Ndak jarang juga yang pinter-pinter akademik dan non akademiknya. Intinya bukan di rumah atau tidaknya ibu. Tapi di telaten atau tidaknya. So, sekali lagi No Nyinyir.
All in all. Semua bergantung pada pribadi masing-masing. Ndak bisa kita men-judge kita benar dia salah atau sebaliknya. Hidup itu terlalu susah kalo kita bikin buat hebring nyinyirin hidup orang. Dunia itu luas loh... Jalan-jalan dong biar mind-nya opened. Biar ndak seperti katak dalam tempurung. Mulai sekarang, biarkan orang bahagia dengan pilihannya.
Noura N
Ibuk Zahid
3 Nopember 2017
21.57
Jumat, 27 Oktober 2017
Sebuah Kala
Kamis, 10 Agustus 2017.
Ada darah merembes di kakiku sebelum aku mengambil air wudhu shubuh. Sempat panik tapi aku berusaha tenang karena tidak ada rasa sakit di perut atau di bagian tubuh lainnya. Darah merah muda semakin intens keluar hingga kamis sore aku memutuskan untuk periksa ke bidan. "Pembukaan satu, mbak. Kalau ndak sakit banget perutnya jangan dibawa ke sini dulu", bu Bidan berkata. Aku hanya mengiyakan karena memang aku tidak merasakan sakit yang berarti. Kamis malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Punggung terasa sangat kaku dan perut bawah nyeri.
Jumat pagi, 11 Agustus 2017
Darah itu keluar lagi disertai nyeri di bagian perut bawah. Namun, aku masih menganggapnya biasa karena memang aku pernah merasakan sakit yang lebih sakit dari ini. Menurutku, nyeri kali ini lebih ringan dibanding sakit perut karena dilep setiap kali aku datang bulan. Jam 6 aku ikut jalan sehat desa berharap nyeri itu hilang atau paling tidak membantu pembukaan jalan lahir jika memang sudah waktunya dilahirkan. Setengah jalan aku menyerah karena nafas yang semakin ngos-ngosan dan perut yang semakin nyeri. Namun aku tetap bersikap biasa karena memang sesungguhnya aku sering merasakan dilep yang lebih sakit dari ini. Jumat siang, aku sengaja tidur sebagai pengganti tidur malamku yang kurang. Jumat sore nyeri itu semakin intens, sekitar sepuluh menit sekali. Namun aku masih bersikap biasa. Bahkan aku masih sempat mengunjungi satu kawanku yang baru saja melahirkan. Aku selalu ingat kata bu bidan, "jangan dibawa ke sini kalau belum benar-benar sakit".
Dan, malam itu adalah jawaban atas segala penantian. Ba'da magrib perutku keram total. Rahim seperti diobok-obok, lebih parah dari dilepku selama ini. Namun aku mencoba bertahan. Aku melakukan beberapa gerakan ringan dari senam hamil seperti yang sering aku lakukan sebelumnya. Nyeri semakin parah hingga pukul 19.00 aku tidak kuat. Aku hanya berbaring di kamar dengan sesekali menggigit ujung bantal saat gelombang cinta itu bertransformasi menjadi sakit yang sangat tidak tertahan. Ibuku panik, suamiku apalagi. Tapi aku berusaha tenang. Keluargaku memaksaku untuk segera pergi ke bidan namun aku tetap ingin bertahan. Hingga pukul 20.30 aku menyerah. "Sudah, aku mau ke bidan sekarang".
Di sana, setelah dilakukan VT ternyata sudah pembukaan 4. "Ditunggu di sini ya.. Ndak usah pulang", kata bu Bidan. Karena menurutku antara pembukaan 4 hingga sempurna itu masih membutuhkan waktu yang lama maka aku berusaha tetap tenang meski orang-orang di sekitarku semakin panik. Aku tetap membujuk janin dalam perutku untuk bisa bekerjasama selama proses persalinan nanti. Di depan ruang tindakan, aku berusaha untuk kuat berjalan-jalan, sesekali membungkuk, menungging, sembari berkomunikasi dengan janin di perutku. "Nak, ayo berjuang bareng Ibuk buat bisa lahiran normal. Lihat teman-temanmu yang sudah keluar duluan. Mereka bisa normal. Kita harus bisa". Gelombang cinta itu semakin intens. Tercatat ada tiga kontraksi setiap lima menit. Aku sudah tidak kuat. Pukul 23.00 Bidan membawaku ke ruang tindakan. VT dilakukan lagi dan ternyata sudah pembukaan sempurna. Peralatan disiapkan. Bidan dan asistennya siap menuntunku untuk proses melahirkan. Ibuku menemaniku sembari memegang tanganku erat. Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit rasanya isi perutku semakin ingin turun tapi tertahan. Tarikan nafasku naik turun.
Aku berbisik pada diriku sendiri, "Ayo. Aku Pasti bisa. Ayo, Nak. Kita berjuang bersama". Bu Bidan menuntunku membaca ayat-ayat suci sambil mengajak berpikir positif. Ibuku semakin erat memegang tanganku. Hampir satu jam kepala bayiku keluar masuk. Aku berusaha mengejan dengan sempurna namun terputus. Drama belum selesai. Bu Bidan dan asistennya tetap membaca ayat-ayat suci sembari mendorong perutku. Kontraksi semakin hebat namun nafasku lemah. Aku tetap mensugesti diri sendiri bahwa aku bisa melahirkan dengan normal. Pukul 00.00 aku menyerah. Aku meminta ibuku untuk memanggil suamiku. Aku pikir, dengan bersamanya akan mempermudah buah hati kami menyambut dunia.
Dan, bersama bu Bidan dan asistennya, suamiku diminta membantu mendorong. Tangan kekarnya mendorong perutku dengan kuat. Dua kali kontraksi hebat dan tepat pada pukul 00:15, Sabtu 12 Agustus 2017, bayi laki-laki itu berhasil keluar. Tapi nanti dulu, tidak ada tangis. Sunyi. Suamiku keluar dari ruang tindakan. Dalam hati ia tidak tega, katanya. Pikiranku kacau saat itu. Aku panik. Tangisnya tidak terdengar. Di pikiranku saat itu hanya, "dirujuk, dirujuk dan dirujuk". Allah. Bu Bidan mengangkat bayi merah itu sambil berkata, "Ya Allah, ini yang membuat ibumu kesakitan, Nak. Ini yang membuat kepalamu keluar-masuk cukup lama".
Ya. Bayiku terlilit tali pusar di lehernya. Ada dua lilitan. Tanpa berkata kembali, bu Bidan mengambil tindakan. Segera dibersihkannya bayi merah itu dan memasukkan sejenis selang di mulutnya. Dan, tangis yang kami nantikan hadir. Tangisnya lantang, keras, cukup menggetarkan hatiku. AlhamdulIllah. Aku menangis haru. Tangis ini yang sudah sangat aku nantikan. Setelah semuanya beres Bu Bidan berkata, "AlamdulIllah sehat. Berat 3 kg. Panjang 49 cm. Bayi Laki-laki. Mari IMD dulu".
Ya. Buah cinta kami telah hadir. Ia hadir di usia 31 bulan pernikahan kami, hampir tiga tahun. Suka duka mewarnai perjalanan kami untuk benar-benar bisa yakin, "Ya. Kami siap punya anak". Allah telah menyiapkan waktu yang tepat. Saat inilah waktu itu tiba.
Terimakasih atas segenap doa dan bantuan. Allahlah sang Maha Pembalas dari segala balasan. Amin.
Terimakasih sudah berjuang bersama Ibuk, Nak Ahmad Abroruz Zahidin, Zahid. 12 Agustus 2017. 00:15.
Selasa, 08 Agustus 2017
HPL? Worry or ......? Stay Strong and Calm!
Usia kehamilan yang sudah mendekati HPL pasti akan membuat seorang ibu khawatir. Apalagi jika saat itu adalah kali pertama kehamilan. Beragam perasaan pasti dirasakan oleh ibu. Seperti saat ini, usia kehamilan saya sudah ada pada titik 39 minggu lebih tiga hari. Artinya, empat hari lagi adalah hari perkiraan lahir, tepatnya pada usia kehamilan 40 minggu.
Perasaan khawatir kerap muncul. Apalagi dengan keadaan di sekitar yang mana ibu-ibu hamil yang seusia dengan kandungan saya sudah melahirkan. Ada yang maju semiggu, sepuluh hari, bahkan sebulan dari HPL. Perasaan was-was juga muncul setelah banyak sekali pertanyaan dari sekitar, kapan lahir? kapan HPL-nya? kok lama? kerasan ya dedeknya? dan lain sebagainya.
Beruntungnya, saya memiliki banyak sumber bacaan yang membuat saya melek jika saat ini bukanlah waktu untuk khawatir, cemas dan buru-buru. Idealnya, usia kehamilan adalah 38 - 42 minggu. Berarti, usia kehamilan saya masih dikatakan normal. Beruntungnya juga, saya punya bidan yang ndak nggesusoni alias ndak bikin saya worry dan buru-buru mengambil kesimpulan.
Selain lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan dan menambah aktifitas sehari-hari, saya juga mempelajari beberapa olahraga ringan yang dikhususkan untuk ibu hamil. Dengan harapan, usaha-usaha tersebut dapat mempercepat proses persalinan saya. Saya juga tetap mengkonsumsi makanan sehat - meski saya masih ndak doyan nasi & ikan - serta rajin minum multivitamin khusus ibu hamil. Beragam saran saya lakukan seperti minum satu sendok minyak kelapa dalam satu hari, minum air kelapa muda dan minuman khusus lainnya. Namun, segalanya memang ada pada Tangan Yang Maha Esa. Seberapapun ingin kita, jika Tuhan belum menentukan waktu yang tepat maka nonsense.
So, kuncinya adalah sabar. Stay strong and calm. Tetap tenang. Hindari pikiran negatif. Tidak perlu memikirkan apa-apa yang kurang penting. Dengarkan saran orang namun jangan dijadikan beban.
Patiently waiting for your coming, dear!
Nay,
09 Agustus 2017
13.02