Sedang dunia masih kokoh bersandiwara,
sudah..
Kabut hitam itu telah tiada.
hari ini Sang Maha Daya sudah tunjukkan semua.
Aku tahu siapa dia..
Sudah bukan lagi waktuku untuk bermuram asa
Kehidupan adalah sebuah keindahan mimpi-mimpi, perwujudan angan serta meluapnya harapan. menjadi sebuah pribadi yang berkarakter adalah awal dari segala macam perwujudan. kehidupan akan terus berjalan, maka bermimpilah. Zendagi Megzara-Life Must Go On.
Cari Blog Ini
Sabtu, 28 Januari 2012
Jumat, 27 Januari 2012
Surat untuk Samiadji,
Surat untuk Samiadji,
Sudah dua puluh satu tahun kau tiupkan nafas di rongga ini,
Perihal fana yang pernah kau ceritakan dulu,
Meski anganmu tak mampu gapai itu.
Surat, untuk Samiadji,
Semoga kau paham maksud kedatanganku,
Menantimu di sela-sela stasiun kereta,
Berjejalan dengan penumpang lainnya.
Entah sampai kapan, Samiadji…
Ku tulis surat berucap sepi,
Ku selipkan harap dan doa di sela sunyi
Ku tatap cahaya yang semakin lari
Samiadji,
Jika kau tahu
Ia sudah mampu
Mengepalkan tangannya yang erat,
Hingga kau terjatuh
Dan mati.
Gresik, 03 Januari 2012
Kamis, 19 Januari 2012
Senin, 02 Januari 2012
lagi coba nulis yang berbau agama...:)
Sinopsis
Dalam angannya ia berandai, “Jika aku tidak di tempat ini, mungkin aku sedang bersama teman-temanku menikmati siang di deretan penjual es campur di seberang jalan atau sedang memilah-milah novel-novel lama di kios milik penjual buku bekas di pasar”.
Zahira adalah seorang putri dari keluarga yang memiliki tingkat kereligiusan tinggi. Ayahnya pernah mengenyam pendidikan di negeri para Nabi, Mesir. Ibunya adalah seorang penulis terkenal. Oleh orangtuanya, Ia harus “dipaksa” untuk mengenyam pendidikan di pesantren Nurul Iman Surabaya asuhan Kyai Amin. Keinginannya untuk memasuki sekolah umum paska kelulusannya dari MTs membuatnya merasa tertekan. Ia mengalami kebosanan yang teramat sangat. Bagaimana ia bisa mengusir kebosanannya itu? Apakah ia mampu keluar dari tekanan itu? Apakah ia berhasil mengejar cita-citanya meski ia adalah seorang santriwati?
“Langit dan Sangkar itu Saksinya”
oleh Noura Nahdliyah*
Kehidupan pesantren membuat Zahira merasa tertekan. Ia sangat terganggu dengan hafalan-hafalan, peraturan dan sebagainya. Keinginannya untuk memasuki sekolah umum harus gagal ketika ayah dan ibunya memasukkannya secara “paksa” di Pondok Pesantren Nurul Iman, Surabaya. Karena itu, ia sama sekali tidak merasakan kenyamanan sedikitpun ketika tinggal di pesantren. Sehari-hari ia hanya berdiam di atas loteng, tempat para santriwati biasa menjemur pakaian. Ia menulis buku harian, membaca novel serta mendengarkan musik dari MP3 player yang ia sembunyikan di balik kerudung panjangnya.
Zahira tinggal di sebuah ruangan sempit berisikan 40 santriwati. Ia menatap langit-langit kamar sempit itu. Dalam angannya ia berandai, “Jika aku tidak di tempat ini, mungkin aku sedang bersama teman-temanku menikmati siang di deretan penjual es campur di seberang jalan atau sedang memilah-milah novel-novel lama di kios milik penjual buku bekas di pasar”. Kemudian bayangannya berpindah ke gerombolan perempuan berkerudung membawa kitab suci. Seketika ia menggumam, “Entahlah”. Suara pintu almari seperti ia banting setelahnya, lalu ia pun keluar kamar, menikmati udara segar di tempat favoritnya.
(“_”)
Sudah tiga bulan Zahira nyantri di pondok ini. Selulus MTs ia dimasukkan ke pesantren oleh orang tuanya. Menurut mereka, pesantren adalah tempat yang paling tepat untuk Zahira, mengingat ia adalah putri dari keluarga yang memiliki tingkat religius yang tinggi. Pesantren yang dikelola sahabat baik ayahnya inilah yang menjadi pilihan utama. Sebuah pesantren milik KH. Amin yang bernama Pondok Pesantren Nurul Iman. Kemahiran Zahira dalam berbahasa arab dan inggris ketika di Mts membuat orang tuanya semakin yakin akan pilihannya itu. Di sisi lain, seorang Zahira yang aktif dalam organisasi siswa di MTs-nya merasa tidak tertantang jika harus menimba ilmu agama di pesantren. Baginya, ilmu yang sudah ia dapatkan di pendidikan formalnya yang rata-rata berbasis islami itu sudah cukup. Ditambah kesehariannya yang memang ditata seagamis mungkin oleh kedua orangtuanya itulah yang membuat ia merasa cukup. Selulus MTs ia ingin bersekolah di sekolah umum. Menurutnya, dengan pengetahuan agama yang cukup dimilikinya serta pengetahuan umum yang akan ia dapatkan di sekolah umum nantinya dapat membuatnya merasa mampu memiliki bekal lebih ketika ia dewasa nanti. Namun, kedua orangtuanya tetap pada pendirian semula, ia harus masuk pesantren.
“Tapi Zahira ndak mau, bah.. Abah dan Ibu seharusnya mengerti.. Zahira capek.. Zahira ingin jadi penulis. Zahira ingin jadi seperti mereka yang punya buku-buku bagus, diterbitkan, mendapatkan beasiswa ke luar negeri, terkenal”. Kata gadis berkerudung putih dengan terisak. Seorang lelaki paruh baya terlihat duduk diam di depannya. Hanya diam. Kemudian seorang ibu mencoba menenangkan gadis itu. “Ibu dan Abah mengerti, nduk.. Kamu ingin jadi penulis besar. Kami mendukung. Tapi jangan sekali-kali kamu berfikiran jika di pesantren kamu tidak dapat berkembang. Kamu masih bisa mewujudkan mimpimu itu, nduk.. Pesantren bukan seperti yang kamu bayangkan”, kata ibu itu meyakinkan. Gadis itu hanya diam. Ingin membantah Ibu dan Abahnya namun ia belum memiliki cukup keberanian.
Zahira, nama gadis itu. Wajahnya cantik, putih, kental sekali dengan wajah timur tengah. Pasti, karena ibunya masih memiliki keturunan dari negeri para nabi itu. Prestasinya di sekolah tidak di ragukan lagi. Ia selalu menduduki peringkat pertama di kelasnya. Prestasi non formalnya pun tidak kalah. Ia adalah ketua organisasi siswa di tempat dimana ia belajar. Kegemarannya membaca buku-buku ayahnya yang merupakan seorang guru besar satu universitas membuat pandangannya terhadap dunia semakin meluas. Hal itu membuat ia menginginkan untuk menjadi lebih dari yang sekarang ia dapatkan.
Kegemarannya menulis yang diturunkan oleh ibunya membuat ia semakin menginginkan lebih. Baginya, ilmu pengetahuan yang ia dapatkan belum cukup. Ia meyakini jika pengetahuan umumnya akan bertambah jika ia sekolah di sekolah umum, sekolah negeri. Meski kedua orang tuanya sama-sama memiliki pengetahuan umum yang tinggi, namun mereka tetap meyakini jika pengetahuan agama adalah lebih utama. Mereka mengenal Zahira. Kemampuan sosialisasi Zahira yang seperti itu membuat mereka khawatir nantinya Zahira belum bisa memagari dirinya dengan baik. Meski Zahira yakin ia sudah cukup dewasa untuk menjadi bijak atas dirinya sendiri, namun jaminan itu belum membuat orangtuanya merasa cukup.
(“_”)
Zahira memasuki pagar bertuliskan Pondok Pesantren Nurul Iman dengan perasaan bergejolak. Bermacam bayangan atas kehidupan pesantren membuatnya enggan melangkahkan kaki menuju bangunan utama, ndalem. Sepasang mata dara di atas atap ndalem seperti menyindirnya. Mungkin jika burung itu mampu berbicara, maka ia akan berkata, “Memangnya enak di kurung di pesantren. Meski bersama orang-orang yang katanya beragama, tapi tetap tidak enak. Dikurung di dalam sangkar yang meskipun terlihat seperti emas. Seperti aku”. Zahira tersenyum, seperti mengerti akan tatapan burung itu.
Seorang pria bersurban dan berjenggot panjang menyapa di teras bangunan yang paling besar di antaranya bangunan lainnya. Salam pun dicapkan oleh pak Hadi, abah Zahira. Mereka bertiga duduk di atas kursi kayu berukir. Pak hadi membuka bercakapan. Ia menjelaskan maksud kedatangannya. Persahabatan pak Hadi serta Kyai Amin yang sudah lama membuat mereka seperti keluarga. Mereka bersahabat ketika sama-sama belajar di negeri para nabi, Mesir.
Zahira kemudian dimasukkan di kamar santriwati di lantai tiga. Seperti santriwati lainnya, ia tidak dibedakan meski ia adalah putri sahabat baik Kyai. Memasuki ruangan sempit berisikan almari katu berjejer di ujung kamar serta rentetan baju kotor yang disusun rapi dengan gantungan baju serta disematkan pada tongkat kayu panjang yang kemudian dikuatkan dengan tali, pemandangan khas pondok pesantren. Tampak pula berjajar kitab-kitab, mulai dari Al Quran, Nashoihul Ibad, Riyadhus Sholihin dan sebagainya, “Ah, apa-apaan ini.. Zahira sudah mendapatkannya di MTs, Abah... Zahira tidak suka”, katanya dalam hati.
Setelah beberapa saat bercakap dengan Kyai Amin, pak Hadi segera pulang. Hal ini menjadi tanda diresmikannya Zahira sebagai salah satu santriwati di Pondok Pesantren asuhan Kyai Amin. Beragam rasa berkecamuk dalam hati Zahira. Mereka berkejaran seperti menerkam hati Zahira yang kalut, kemudian merasuk di otak serta membawa Zahira pada kebencian, “Sial”.
Hari-hari Zahira diisi dengan rutinitas yang menurutnya membosankan. Setiap pagi ia bangun tidur pagi sekali, sholat shubuh, mengaji, sholat dhuha, mengaji, sholat dhuhur, istirahat, sholat ashar yang diteruskan dengan sholat maghrib, mengaji, sholat isya’ dan mengaji kembali hingga pukul sepuluh malam, bersamaan dengankantuk yang manis menyapa. “Zahira bosan, Abah... Bawa Zahira pulang...”, kalimat itu muncul dari mulutnya, sementara matanya menitihkan benih air mata.
(“_”)
Zahira mulai merasakan hal yang berbeda ketika ia menikmati tengah tahun pertamanya di pesantren. Mudahnya ia bersosialisasi membuat ia mudah mengenal baik para pengurus pesantren. Kegemarannya membaca ia pergunakan untuk menyambangi kantor pengurus yang memiliki banyak rak-rak berisi buku bagus. Dan ia baru menyadari jika banyak terdapat novel di sana, cerpen serta kumpulan puisi sama seperti buku-bukunya di rumah. “Di pesantren ini boleh baca novel, ukhti...?”, tanya ia dengan heran. “Ya boleh lah, ukhti... Ini salah satu cara kita untuk berfikir maju. Ukhti nanti merasakan ketika sudah satu tahun di sini. Nanti ada klub sastra juga. Kalau ukhti suka menulis, ada klub jurnalistik dan menulis kreatif”, jelas salah satu santriwati pengurus.
Zahira menunjukkan sikap tertarik. Setiap minggu ia datangi kantor pengurus, dipinjamnya beberapa buku dan ia pun memiliki tempat baca favorit, loteng pesantren tempat santriwati menjemur pakaian. Setiap waktu istirahat ia baca novel-novel itu. Tidak jarang juga ia meminjam buku-buku sosial, penelitian serta lainnya. Baginya membaca adalah salah satu alternatif mengusir kebosanan. Suatu ketika ia meminta kiriman MP3 player dari sepupunya. “Buat apa, Zah.. Nanti Abahmu marah. Bukannya tidak boleh membawa apapun yang berbau musik di pesantren?”, kata Firda, sepupunya. “Sudahlah, mbak firda... Zahira bisa jaga kok... Boleh ya.. Nanti kalau mbak firda disuruh Abah buat sambang Zahira, mbak firda bawa ya...”, katanya melalui wartel pesantren.
Kehadiran MP3 player itu mampu menemani hari-hari Zahira dengan cukup nikmat. Ia nikmati suara yang mengalir dari kotak kecil itu sembari menyelesaikan bacaan-bacaannya. Namun ternyata ia masih belum bisa merasakan nikmat yang sebenarnya. Tiba-tiba ia mengamini bayangannya tentang suara burung dara sewaktu pertama ia masuk pesantren, “Memangnya enak di kurung di pesantren. Meski bersama orang-orang yang katanya beragama, tapi tetap tidak enak. Dikurung di dalam sangkar yang meskipun terlihat seperti emas. Seperti aku”.
(“_”)
Liburan tahun pertamanya ia habiskan di rumah. Libur yang tidak hampir satu bulan ini dibuatnya seindah mungkin. Ia berkumpul dengan teman-temnannya se-MTs dulu, bercanda dan bercerita tentang pendidikan masing-masing. Banyak cerita hadir di sana. Rata-rata temannya memiliki nilai hampir sempurna di ujian akhir semester. “Pelajarannya menarik loh, Zah... IPA itu dibagi lagi. Selain Fisika dan Biologi, ada Kimia juga”, kata Shafa dengan antusias. Zahira hanya diam dan menghabiskan es campur di depannya. “Sudahlah”, katanya dalam hati.
Liburan yang telah usai segera membawanya kembali ke pesantren. Ia menikmati tahun keduanya dengan cukup menyenangkan. Ia menjadi penulis rubrik sastra di buleti pesantren. Kemampuannya berbahasa inggris dan arab membuatnya mudah untuk menjalani tugas barunya itu. “Zahira senang sekarang, Abah...”, katanya sambil tersenyum ketika tulisannya terpampang di dalam buletin yang baru saja cetak. Ia terus mengasah kemampuannya. Ia tak lagi membutuhkan MP3 player untuk menemaninya mengusir kebosanan. Ia pun tak hanya meminjam novel, buku-buku sastra lainnya pun ia lahap. Tulisannya di buletin juga semakin berbobot.
Kebahagiaan Zahira bertambah ketika ia diangkat sebagai pimpinan redaksi buletin pesantren di tahun ketiga. Ia semakin semangat dengan tulisan-tulisannya, membimbing santriwati lainnya untuk menulis dengan baik. Tak cukup itu, ia pun menajalani hari-harinya dengan bangga. Pelajaran di pesantren mampu ia kuasai dengan baik. Hal itu berlangsung cukup baik hingga tahun terakhirnya di pesantren, tahun ke tujuh.
“Memang, seorang Zahira tidak bisa diremehkan, akh..”, kata Kyai Amin ketika bercakap dengan pak Hadi di telepon. Kyai Amin yang dengan langsung mengawasi setiap perkembangan Zahira di pesantren cukup puas dengan apa yang dicapai Zahira. Ia pun merasa bahwa sudah cukup ia menjadikan Zahira sebagai santriwatinya. “Saatnya ia mengabdi di lingkungan, akh..”, ucap Kyai Amin kemudian. “Aku ingin menempatkannya di pesantren. Santriwati-santriwati di sini membutuhkan ustadzah seperti dia, yang mampu berfikir modern dan tentunya tidak meninggalkan keharusannya sebagai seorang muslimah”, lanjut Kyai Amin. “Terserah panjenengan, akh.. Saya manut. Namun alangkah baiknya jika hal ini dimusyawarahkan dengan Zahira dulu”, balas pak Hadi.
(“_”)
Dua tahun setelah pengabdiannya di pesantren.
Zahira memasuki ruangan persegi panjang di sudut pesantren. Rak-rak buku yang berisi berbagai macam buku membuatnya betah seharian duduk di mejanya. Kini ia adalah penasihat buletin pesantren. Ia pun mengajar di pesantren, pelajaran bahasa arab dan bahasa inggris. Zahira duduk di depan mejanya, mengambil amplop coklat di dalam map merah. Tertulis di mukanya:
Yth:
Sdri. Zahira Khairun Nisa
d/a Pondok Pesantren Nurul Iman
Surabaya Jawa Timur
Ia tersenyum menatap langit-langit ruangan. Ia buka amplop yang di pegangnya. Senyumnya kembali merona. “Alhamdulillah ya Rabb”, katanya lirih.
(“_”)
Suatu sore.
Zahira terlihat menatap langit atas loteng tempat ia biasa menetap, tempat favoritnya. Senyumnya cerah. Ia menikmati awan yang berarak menyapanya, bersandar pada dinding putih yang ia banggakan. Satu minggu lagi ia berangkat. Ia akan segera meninggalkan Indonesia. Langit Al-Azhar telah menyapanya. Senyuman pun dihadiahkan Tuhan lewat sesuatu di atas atap ndalem. “Selamat datang di Kairo, Zah..”, kata Burung Dara itu.
Surabaya, 19 November 2011
Di antara nyata dan maya
Rabu, 14 Desember 2011
An analysis on Langston Hughes’s, God’s other side
A little piece of Langston Hughes’s work, God’s other side reveals an interesting thing to be analized. There is funny thing if we take a look at the one of character in that literary work. Jesse B. Simple is one of the character in that story who has different thought with the other common people at that time. That different thought has lead him into different perception among him and his society. Most of his neighbor realize that his thought is unwise and full of foolness. He is considered as a stupid and ignorance person.
The cause of that perception firstly comes when Simple believes that God has the other side which can be treated as the same side with the common side. This common is usually used by common people at that time. This thing leads Simple to make a different idea which he thinks it is good enough. This perception comes up when there is a clear difference between White folks and Black folks in Simple’s place. Simple, a negro who belongs to black folks is underestimated by the white folks which become the most majority in that place. In that society, white and black are differnt. They are separated into some different rules which are banned them to be socialized each other. It can be seen inside the story that there are some rules which have to obeyed by them. Like the example that as a white community person, a man can go without the United Stated Army’s protection like what happen to the black. The white gets sick, but he do not have to creep in the back door of the hospital down South for treatment like the black do. This kind of difference may lead Simple to think that actually the difference is not important because in his mind they are same, same in the eyes of God. Simple thinks that although they are different in the world by they will be same in the day after tomorrow. Both of black and white are taken place in the paradise with the white wings, white robe, and absolutely the white skin. They will live in glory and no one can be differenciate with any kind of differences.
From this thought, the problems come. His society say that Simple is unwise person who just think about foolnesss and can not give the best perception which can be accepted. But, beside that foolness and stupid thought, Simple has given the beatiful message for the reader. From his thought, the reader can be accepted that become different is not a cruel thing. Even it can make the best choice for the life. The example can be seen when Simple believes that God will hear his pray if he stand on the left side of God. Although this is uncommon thing or even it is a stupid thing, but he can stand on his choice and become success with it.
All in all, the different thought of Simple is not a stupid thing. It has moral value and this is a good wise. Simple has his own decision and it can make himself become a wiseman. He believes that become a different person is not strange. It is just the matter of being honored and taking place in a right position.
Noura Nahdliyah (Mahasiswi Sastra Inggris Unesa 2008)
An Hermeneutic Theory Analysis on Langston Hughes, God’s other Side
An Hermeneutic Theory Analysis on Langston Hughes, God’s other Side
Hermeneutic theory is originally term associated with biblical exegesis and the interpretation of religious text and especially their allegorical aspects; now more commonly employed as a defining term for a branch of interpretation developed from modern linguistics and philosophy which adresses modes of interpretation. This interpretation is about a thing which has relationship with religious value. This kind of interpretation may different with the other’s interpretation.
Langston Hughes’ work, God’s other side can be interpreted by hermeneutic theory. This theory can be analyzed in the part of Simple statement that “I would get a little more God’s attention by standing on the left side of God”. In the religion views, the true place in the eyes of God is the place in the right of God’s hand. The right-hand side is the place which is honored well. This is believed in every human thought. It is true based on religios value and also it is believed generally by the people who believe in religion. Because of that, they believe that God will hear the pray only from his right side.
Simple has different interpretation about that problem. According to him, God can do everything. When the others are enjoyinh their pray in the right-hand side, he chooses to move forward to the other side, in the left-hand side. In his belief, God can pay attention to his pray carefully without hearing the noisy voices which spread out from the right side. This belief leads him to be different with others.
So that, the convention which is believed by the society may be different according to some interpretations. People can build their own interpretation on it. This thing happens in Simple and it becomes his own identity to be different.
Noura Nahdliyah (Mahasiswi Sastra Inggris UNESA 2008)
A Psychoanalitic Criticism: Psychological Problem through Sohrab’s Character in Khalled Hossaeni, The Kite Runner
A Psychoanalitic Criticism: Psychological Problem through Sohrab’s Character in Khalled Hossaeni, The Kite Runner
By Noura Nahdliyah
082154024
Psychoanalitic concepts have became the most important part in our daily life. We ever do something conscious or even unconsciously in our half breath. Those are the example of Psychoanalytic concept. But, Psychoanalytic concept does not only concern in those two things. There are so many kinds of it. Sibling rivalry, inferiority complexes and defense mechanism are included in the term of psychological concept. In this analysis, defense mechanism is the most suitable concept which is related to the problem. Defense mechanism is a kind of self denial. Defenses are the process by which we keep the repressed feeling in order to avoid knowing what we feel we can not handle knowing. (Critical Theory Today:15). This defense may break down when we experience anxiety. This anxiety can reveal some core issues like fear of intimacy, fear of abandonment, fear of betrayal, low self-esteem, insecure or unstable sense of self and oedipal fixation. Some of those defense mechanisms and the core issues are depicted in Khalled Hossaeni, The Kite Runner. The character of Sohrab has some psychological problem which is interesting to be analyzed. This problem is influenced by those kind of defense mechanism and the core issues which follow it.
Sohrab has an anxiety in his life. This anxiety is caused by his guilty, fear of abandonment and fear of intimacy. Guilty is a feeling of shame because of thing that we have done. This problem happens to Sohrab when he feels so guilty after shooting Assef eyes with his slingshot. He feels that it is his big fault.
“Will God put me in hell for what I did to that man?”(The Kite runner:162).
Beside that guilty, there is also fear of abandonment there. Fear of abandonment is the unshakable belief that our friends and loved ones are going to desert us (physical abandonment) or do not really care about us (emotional abandonment). This is depicted in Sohrab when he feels that what he has done is a shame thing if it is showed by his family. In this case, he remember his father, his mother, his grandmother and also Rahim Khan. It leads him to think that his family will avoid him because of his shame action.
“’I miss father and mother too.’ He croacked. ‘And I miss Sasa and Rahim Khan Sahib. But sometimes I’m glad they’re not....they’re not here anymore’.........because I don’t want them to see me.....” (The Kite Runner: 163)
One thing that also happens in Sohrab is fear of intimacy. Fear of intimacy is the chronic and overpowering feeling that emotional closeness will seriously hurt or destroy us and that we can remain emotionally safe only by remaining at an emotional distance from others at all times. This thing is depicted in Sohrab when Amir comes to him in order to hug him and tries to calm him down.
“’....they did things...the bad man and the other two...they did things...did things to me.’.................................I touched his arm and again and he drewd away. I reached again, gently, and pulled him to me.” (The Kite Runner: 163)
This thing shows that there is a fear to Sohrab’s mind when he gets close with a man. He thinks that that man will be do the same thing as Assef has done to him. The other example can be showed in the next page when Amir wants to bring Sohrab back to the orphanage in order to get the certificate which makes him easy to bring Sohrab to America.
“’You promised that you’d never put me in one of those place, Amir agha,’ he said. His voice was breaking, tears pooling in his eyes. I felt like a prick.” (The Kite Runner: 177)
This is not an aesy thing for Sohrab to receive it. He feels trauma. He never wants to come back to the orphanage because he thinks that an orphanage is the same thing as he ever feels before.
“’Please! Please, no!’ he croacked. ‘I’m scared of that place. They’ll hurt me! I don’t want to go.’”(The Kite Runner: 177)
In conclusion, psychological problem which happens in Sohrab’s life is caused by his own experience in facing his life. His guilty, his fear of intimacy and abandonment have lead him to his unconcious psychological problem.
Langganan:
Postingan (Atom)