Cari Blog Ini

Kamis, 23 Agustus 2012

Review Perahu Kertas The Movie - 23 Agustus 2012


“Jangan pernah mencoba membandingkan khayalan kamu ketika membaca novel dengan kenyataan yang kamu dapatkan ketika menonton film”. Mungkin itulah sedikit pelajaran yang saya dapatkan setelah menonton film ini, Perahu Kertas.
 
Saya sudah mengenal novel Perahu Kertas sejak tahun 2009. Saat itu saya sedang jalan-jalan di toko buku dan sama sekali tidak berniat untuk membeli bahkan membaca novel ber-cover hijau tosca itu. Ketidaknyamanan saya bermula ketika membaca tulisan Dee-Supernova. Dikarenakan gaya bahasa dan ide cerita yang kurang bisa ditangkap dengan baik oleh otak kecil saya membuat saya kurang ada greget ketika tahu ada tulisan lainnya yang berjudul Perahu Kertas. Teman-teman banyak membicarakan itu dan saya masih belum tertarik untuk membacanya. Setelah saya membaca Filosofi Kopi-kumpulan cerpen Dee ini saya mulai sedikit demi sedikit kagum dengan Dee, tentunya dengan ide-ide tulisan serta penyampaian yang “tidak sederhana” itu.

Awal 2012 ada kabar burung. Katanya Perahu Kertas akan di filmkan. Tidak dipungkiri kalau saat itu penasaran sudah ada (seperti apa sih ceritanya sampai-sampai heboh begitu), tapi saya tetap pura-pura tidak minat saja lah…

Menahan rasa penasaran yang semakin hari semakin menggebu ternyata membuat niatan buruk muncul: Saya harus download novelnya! (Modus kejahatan mahasiswa semester akhir ketika tidak memiliki cukup uang untuk membeli novel best seller)
  
Yup! Mission has been completed. File Pdf sudah di tangan dan siap baca. Oh God! Ini novel pertama yang saya baca hanya dalam kurun waktu sehari semalam. Otak kecilnya mulai berkata: Ini nih yang gue banget… Ringan tapi berbobot… Alurnya dinamis.. Idenya segar dan berhasil membuat hati ini melting-melting. Terlebih ada hampir 60% bagian yang sejalan dengan kisah pribadi saya..

Oke! Baca sudah. Sepertinya perlu dibaca kembali beberapa kali. Dan pas kali ketiga saya membaca, berita akan beredarnya film itu sudah jelas. Terlebih ketika tahu pemeran Keenan adalah Adipati Dolken. Oh God! He is the man of my dream… 

Eits, tapi kenapa yang jadi Kugy kok Maudy Ayunda? Melihat beberapa perannya di beberapa film yang ia bintangi memiliki karakter sejenis dengan pribadinya yang kalem sepertinya karakter Kugy kurang pas diperankan olehnya. Oke fine! Sepertinya tidak baik if I make a judgment before watch it clearly! Lebih baik saya diam sambil download trailer-nya, nonton behind the scene-nya dan tentunya membaca novelnya kembali sambil berimajinasi bahwa yang sedang saya baca ini adalah adegan-adegan yang dimainkan seorang Adipati Dolken, Maudy Ayunda, Reza Rahadian dan tokoh lainnya yang ambil bagian di film tersebut.

Rasa kurang greget kembali muncul ketika tahu film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo. “Eksekusi yang gagal”-menurut saya- jelas terlihat di beberapa film Hanung yang diadaptasi dari novel. Hal ini membuat saya seperti il-feel dengan Hanung. Contohnya jelas terlihat di film Ayat-Ayat Cinta serta Perempuan Berkalung Sorban. But once again, I can’t make a judgment first!

Oke! Dan sudah jelas film ini akan berlayar di libur lebaran tahun 2012. 16 Agustus 2012 film ini resmi diputar di bioskop-bioskop terdekat. Oh God! Posisi saya sedang galau karena jauh dari bioskop terdekat. *Sedang memasang strategi sambil pasang radar… d-_-b

Seminggu setelah premier,
Antrean mengular. Panjang. Ini sudah seminggu tapi seketika sold out. Finally, ini oleh-olehnya dari kegiatan mengantre itu:

Alur Cerita yang berbeda

Sangat berdosa jika kita membandingkan jalan cerita di novel dan di film karena those two points are totally different. Tetapi, memang bisa dilihat jika beberapa rangkaian peristiwa yang ada di film seperti kurang alami. Tidak hanya disadari oleh penonton yang juga adalah pembaca novel, tetapi juga jelas disadari oleh penonton yang murni penonton (belum pernah membaca novel). Ada beberapa kejadian yang kurang masuk akal, seperti adegan Kugy yang dengan radar neptunusnya berhasil menemukan Keenan pertama kali di stasiun serta Kugy yang dengan tidak sengaja bertemu dengan Keenan di dalam kereta api ketika akan menempuh perjalanan ke Jakarta.

Perbedaan juga terlihat di bagian akhir film ketika Noni menikah dengan Eko. Seperti diketahui jika dalam novel diceritakan Noni dan Eko hanya bertunangan. Namun, inisiatif untuk memasukkan adegan pernikahan ini sangat pantas diacungi jempol. Adegan inilah yang mampu membangkitkan semangat penonton setelah beberapa adegan yang “terkesan datar”.

Alur yang datar

Beberapa menit pertama saya cukup menikmati narasi-narasi Kugy. Saya sudah mencoba membuang jauh-jauh imajinasi yang sempat saya gambarkan sebelumnya. Saya mulai bisa menikmati bahwa ini adalah versi film yang berbeda. Namun ketika film sudah berlayar di paruh waktu saya baru menyadari jika hampir satu jam ini hanyalah adegan-adegan datar yang terkesan biasa. Apalagi ketika melihat Ayah Keenan memukulnya saat ia memutuskan untuk berhenti kuliah setelah lukisannya laku terjual. Sangat jelas terlihat kebingungan yang besar bagi penonton yang bukan pembaca ketika mencoba menyambungkan satu persatu adegan-adegan itu: sejatinya, sebenci apakah Ayah Keenan dengan satu kata: Lukisan!.

Sudut pandang hanya satu tokoh, Kugy.

Mungkin memang sengaja jika film ini hanya mengambil dari satu sudut pandang saja. Sosok Kugy-lah yang hanya disorot dalam film ini. Namun meskipun seperti itu, sangat disayangkan ketika kekuatan sosok Keenan kurang mendapat porsi yang cukup. Padahal, Keenan adalah sentral dari keseluruhan cerita Kugy. Terlebih untuk konflik Keenan dan keluarganya yang terkesan singkat dan patah-patah.
 
Kedekatan Keenan dan Kugy adalah inti cerita di bagian pertama film ini. Seharusnya hal ini lebih ditekankan sehingga penonton bisa memahami seberapa dekatkah seorang Kugy dengan Keenan sampai akhirnya mereka berdua bisa jatuh cinta. Hal ini kurang dan bahkan tidak digambarkan dengan baik sehingga terkesan mereka tidak memiliki chemistry dan hanya terlihat sebagai sebuah persahabatan yang “biasa”. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa saya sebut “datar” pada alur cerita, sama seperti cerita remaja kebanyakan.

Kurang matangnya pemain

Hal ini dapat terlihat jelas pada karakter Keenan yang diperankan oleh adipati Dolken. Terlebih karena ekspektasi saya kepada seorang Adipati Dolken yang sangat tinggi membuat saya sadar jika ternyata ia kurang “pas” dengan tokoh Keenan. Masih ada dalam benak saya ketika menyaksikan seorang adipati dalam beberapa film, sinetron serta FTV yang dibintanginya. Dan itu sama. Adipati masih “kurang pintar” dan cukup butuh waktu belajar lagi untuk menjadi seorang Keenan. Meminjam istilah yang digunakan oleh Dee kepada Keenan bahwa “He is a raw diamond. Berlian mentah yang masih perlu dimatangkan kembali”, begitulah seorang Adipati Dolken dalam film ini. Setelah saya fikir, sepertinya Nicholas Saputra cocok menjadi Keenan. Karena bagi saya sosok Keenan lebih mirip dengan sosok Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta.

Yang saya kagumi malah peran Kugy yang dimainkan dengan cukup mendekati perfect oleh Maudy Ayunda. Karakter Kugy sangat berbeda dengan beberapa karakter yang pernah dimainkan oleh Maudy dalam beberapa film seperti Zakiah Nurmala di Sang Pemimpi, Mura dalam Malaikat Tanpa Sayap serta Indah dalam Tendangan Dari Langit yang terkesan kalem dan sesuai dengan kesehariannya. Dari sini saya melihat jika Maudy sudah cukup baik dalam memerankan sesuatu yang berbeda meskipun belum totally perfect.

Untuk peran Remigius Aditya? No Comment. He is Perfect. Totally Perfect.

Disamping kurang matangnya beberapa pemain, justru peran Eko-lah yang menurut saya sukses di sini. Fauzan Smith memainkannya dengan sangat hati-hati dan sempurna. Kehadiran Eko cukup memberikan angin segar dari keseluruhan isi cerita. Kocak dan menghibur.

Disamping itu semua, ada poin penting yang menurut saya bener-bener pantas diacungi jempol.

Simbolisasi yang kuat dan mendetail

Jika kita amati lebih detail, ketika adegan Keenan yang mengetahui kebohongan besar yang diciptakan oleh Wanda terlihat jelas sebuah gambar pinokio berhidung panjang di atas meja Wanda. Simbol ini memperkuat posisi Wanda yang benar-benar berbohong, mengingat tokoh pinokio identik dengan kebohongannya.

The same dialogue

Saya cukup puas ketika Remi dengan gaya bijaksananya berbicara kepada Kugy. Ketika makan berdua di pinggir jalan serta ketika di pantai pada malam tahun baru. Those are totally same as the novel. Benar-benar dialog yang persis dalam novel. Seperti yang saya imajinasikan sebelumnya.

Well… Saya cukup sadar jika sesuatu itu pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu juga dengan film ini. Banyak kejutan-kejutan yang dihadirkan oleh film ini. Salah satunya adalah kehadiran Hanung sendiri sebagai pemeran figuran yang menurut saya sangat-sangat menghibur (sampai tidak bisa berhenti tertawa). Persepsi orang pun berbeda-beda. Yang jelas saya cukup puas dengan film ini. Tidak rugi saya mengantre beberapa jam untuk mendapatkan tiket. Dan yang lebih penting saya tetap mencintai seorang Adipati Dolken. :-P

Oke. Surely I’m waiting for the next voyage. . Two months again. . October..!

Dua bulan lagi buat pelayaran selanjutnya, bagian kedua. Yang pasti banyak scene seru yang akan bisa membantu pemahaman bagian pertama ini. Good Job buat Hanung. I’m sure that this is your best romance film that you have ever made ;-) dan memang benar jika Don't make a judgment from one side only :)

I give score: 8,5 (Delapan koma lima) buat Perahu Kertas the Movie :)



-Nay-
Kamis, 23 Agustus 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar